Laporan dari Tiongkok #2: Freelander 8: Wajah Inggris, Otak China, Nama Baru Penguasa SUV Global

Written by

in

Freelander. Nama tua itu hidup lagi.

Sudah mati sejak 2015. Sekarang lahir kembali. Tapi dengan darah berbeda.

Lebih rumit. Lebih ambisius. Dan mungkin lebih berbahaya buat lawan-lawannya.

Dulu Freelander adalah kebanggaan Inggris. Lahir 1997. SUV pertama Land Rover yang memakai sasis monokok. Bukan body-on-frame. Itu revolusioner pada zamannya.

Lebih nyaman di kota. Tetap sanggup ke tanah berat. Kompak. Premium. Bisa dijangkau.

Maka Eropa jatuh cinta. Freelander pernah menjadi SUV 4×4 terlaris di Eropa. Terjual 840.000 unit sepanjang sejarahnya. Lalu dihentikan. Diganti Discovery Sport.

Banyak yang kira cerita selesai. Ternyata belum.

Sabtu, 25 April 2028 malam, saya menyaksikan nama itu dibangkitkan lagi. Tapi bukan nostalgia. Ini proyek masa depan.

Namanya: Freelander 8.

Lucia Mau, CEO Internasional Freelander, menyebut posisinya jelas: “British premium intelligent all-terrain brand.”

Kalimat pendek. Tapi dalam. Inggris untuk warisan. China untuk masa depan.

Ada ironi di sini. Dulu Jaguar Land Rover membawa ilmu ke China. Sekarang justru bergantung pada teknologi China. Terbalik. Sangat terbalik.

Dan Freelander baru ini bukan sekadar model mobil. Ini merek. Akan ada enam model dalam lima tahun. Memakai momentum global Chery di Wuhu.

Dan itu bukan mimpi kosong. Karena Chery sedang melesat.

Ekspor mereka 1,344 juta unit tahun 2025. Naik dari 114 ribu unit pada 2020. Lebih dari 10 kali lipat. Sulit menyebut itu normal. Hyper growth. Itu istilah yang cocok.

Dan Freelander mau menumpang roket itu. Yang menarik justru siapa mengerjakan apa.

JLR menyumbang desain. Branding. DNA Inggris. Selesai.

Yang jadi otak proyek? Chery.

Yang memasok kecerdasan? Huawei.

Yang mengurus baterai? CATL.

Kalau ini kolaborasi, pusat gravitasinya jelas sudah bergeser. Ke

timur.

Desain Freelander 8 ditangani Philip Simmons. Nama besar. Pernah menggambar Range Rover Velar. Defender. Dan Freelander lama. Tangan Eropa.

Tapi isi mobil ini… China sekali.

Panjangnya lebih dari 5.100 mm. Wheelbase di atas 3.000 mm. Besar sekali. Posisi duduk pengemudi tetap commanding position.

Konfigurasi kursi 2+2+2. Enam penumpang. Baris kedua zero-gravity seats. Rasa first class. Senyaman Alphard. Bukan sekadar jargon.

Platformnya pakai T1X milik Chery. Sudah teruji. Lalu teknologi intinya bikin banyak orang Eropa mungkin terdiam.

Sistem intelligent driving memakai Huawei Qiankun terbaru.

Dengan LiDAR 896-baris. Bukan sensor main-main. Level atas.

Otak infotainment-nya memakai Qualcomm Snapdragon 8295P.

Chip 5 nanometer automotive-grade. Terbaik saat ini. Bisa menggerakkan delapan layar sekaligus. Rendering 3D. Efek sangat halus. Respons cepat.

Kabinnya seperti pusat komando. Bukan dashboard biasa.

Urusan baterai lebih liar lagi. CATL menyiapkan Freevoy Range-

Extended Hybrid Battery. Khusus all-terrain. Supercharging 6C. 360 kW. Sangat cepat.

Cell-to-Pack generasi ketiga. Dibuat untuk aman. Sekaligus brutal.

Lalu karena ini membawa nama Land Rover, off-road tidak boleh malu-malu. Mereka pasang i-ATS. Intelligent all-terrain system. Mereka menyebut world first. Berani sekali.

Ada 9 mode terrain. Virtual central lock. Rear e-LSD. Dual chamber air suspension. Tiga differential lock. Peredam proaktif.

L2+ ADAS. Advance Valet Parking. ACC. AEB. TJA. BSD. RCW. APA. RPA. Daftarnya panjang. Nyaris seperti lembar teknologi pesawat.

Banyak yang bilang Eropa kalah software.China unggul hardware. Freelander seperti menyatukan dua kubu itu. Maka ini menarik. Karena kelemahannya sulit dicari.

Produksi massal dimulai semester dua 2026. Pabrik Changshu. Sangat otomatis. Robot. Welding otomatis.

R&D center di Suzhou. Headquarter di Shanghai dan Wuhu.

Investasi? USD1,5 miliar. Kalau dirupiahkan sekitar Rp25,5 triliun.

Bukan proyek coba-coba. Yang lebih menarik lagi: Mesin bensin murni terakhir mereka — Range Rover Evoque — dihentikan.

Dikorbankan. Demi memberi jalan untuk Freelander. Itu simbol. Mereka tidak main dua kaki. Sudah memilih.

Rencana dealer? 100 outlet. 60 kota di China. Lalu ekspor.

Awalnya Timur Tengah. Lalu Eropa. Inggris. Asia. Bukan tidak mungkin Asia Tenggara.

Ada kutipan menarik dari analis Gartner, Pedro Pacheco: “Mereka tahu ini bukan lagi hanya soal China. Mereka butuh roadmap global.”

Freelander persis itu. Roadmap global. Dengan badge Inggris. Tapi sistem China.

Kalau dulu orang membeli Land Rover karena heritage… Besok mungkin orang membeli Freelander karena teknologi.

Dan itu pergeseran zaman. Ini sebenarnya bukan sekadar peluncuran mobil. Ini pernyataan geopolitik industri. Bahwa China kini bukan sekadar pabrik. Tapi pemimpin teknologi.

Wajahnya Inggris. Namanya Eropa. Tapi otaknya China. Ototnya China. Jantungnya China.

Ironi? Mungkin. Atau mungkin masa depan.