Tag: cakdan

  • Subaru Pasang Harga Rp1,2 Miliar untuk WRX Edisi Ceri

    Subaru Pasang Harga Rp1,2 Miliar untuk WRX Edisi Ceri

    Subaru Indonesia meluncurkan Subaru WRX STI Cherry Red Sport Edition seharga Rp1,2 miliar on the road Jakarta, Sabtu (3/10/2026). Edisi khusus ini hadir ketika penjualan Subaru merosot di tengah pasar mobil nasional yang tumbuh.

    Peluncuran berlangsung dalam ajang SUBARUVERSE yang digelar PT Plaza Auto Mega, agen pemegang merek Subaru di Indonesia sejak Februari 2020.

    Mobil ini dibangun dari Subaru WRX Sedan bertransmisi CVT dengan warna dasar Ceramic White dan aksen Cherry Red, warna identitas STI (Subaru Tecnica International).

    Paket eksteriornya meliputi STI Spoiler Front, Side, Rear Quarter, dan Rear Under Diffuser, skirt lip, door mirror cover, Dry Carbon Rear Spoiler, serta Sports Grille STI.

    Untuk pengendalian, Subaru memasang Flexible Tower Bar for CVT, Flexible Draw Stiffener Rear, dan pelek Enkei PF09 R18x9.0. Detail lain berupa battery holder, tutup oli dan radiator STI, STI Shift Knob, STI Valve Cap Set, dan STI Door Handle Protector.

    Daftar itu menunjukkan label STI pada mobil ini merujuk pada paket aero dan komponen sasis, bukan perubahan mesin.

    Basisnya pun CVT, berbeda dari WRX STI generasi lama yang identik dengan transmisi manual.

    Sebagai pembanding, WRX tS EyeSight dibanderol Rp994,5 juta, sehingga paket Cherry Red menambah sekitar Rp205,5 juta.

    Edisi khusus menjadi strategi Subaru menjaga daya tarik merek. Pada GIIAS 2026, Subaru juga meluncurkan WRX Wagon STI Cherry Blossom Special Edition seharga Rp1,262 miliar.

    Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat wholesales Subaru pada Januari-Agustus 2026 hanya 127 unit, turun 36,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Penjualan ritelnya turun 45,3 persen. Hingga Juli, ritel Subaru 93 unit, dari 154 unit setahun sebelumnya.

    Penurunan itu berlawanan dengan arah pasar. Wholesales nasional Januari-Agustus 2026 naik 20,1 persen menjadi 599.491 unit, didorong mobil listrik berbaterai (BEV) yang mencapai 101.171 unit atau 16,9 persen pasar. Sepuluh besar BEV seluruhnya diisi merek China. Pangsa Subaru kini sekitar 0,02 persen.

    Executive General Manager Subaru Indonesia Edward Kencono menyebut SUBARUVERSE sebagai cara memperlihatkan banyak sisi Subaru.

    “Dari performa dan petualangan hingga keluarga, lifestyle, dan komunitas, semuanya memiliki satu benang merah, yaitu menghadirkan pengalaman yang memberikan Confidence in Motion untuk setiap perjalanan,” ujarnya.

    Untuk mendongkrak transaksi, diler Plaza Subaru menawarkan bunga 0 persen untuk Outback dan WRX, uang muka ringan khusus Outback, potongan hingga 50 persen untuk Subaru Lifestyle Gear, 15 persen untuk aksesori STI, serta penawaran hingga Rp20 juta untuk paket aksesori STI Forester.

    Pengunjung juga dapat mengikuti test drive dan AWD Challenge untuk menjajal Symmetrical All-Wheel Drive.

    Seluruh mobil Subaru mendapat garansi 3 tahun atau 100.000 kilometer, servis berkala gratis 3 tahun, dan Subaru Roadside Assistance 5 tahun.

    Fakta kunci

    1. Harga: WRX STI Cherry Red Sport Edition dijual Rp1,2 miliar OTR Jakarta, sekitar Rp205,5 juta di atas WRX tS EyeSight.

    2. Basis: Mobil ini memakai WRX Sedan bertransmisi CVT. Ada 17 komponen STI dan performa, tanpa ubahan mesin.

    3. Sasis: Flexible Tower Bar khusus CVT, Flexible Draw Stiffener Rear, dan pelek Enkei PF09 R18x9.0.

    4. Penjualan: Wholesales Subaru Januari–Agustus 2026 sebanyak 127 unit (turun 36,8 persen), dan ritelnya turun 45,3 persen.

    5. Pasar: Pasar nasional naik 20,1 persen menjadi 599.491 unit, dengan BEV menguasai 16,9 persen.

  • Nvidia RTX Spark: Komputer Tidak Akan Sama Lagi

    Nvidia RTX Spark: Komputer Tidak Akan Sama Lagi

    Dunia komputer sebenarnya sudah lama terbelah dua. Yang satu bernama x86. Yang satu lagi ARM. Selama puluhan tahun batasnya sangat jelas.

    Kalau bicara laptop dan PC? Rajanya Intel dan AMD.

    Kalau bicara smartphone? Rajanya ARM (Advanced RISC Machine).

    Tidak pernah saling ganggu. Tidak pernah saling rebut wilayah. Sampai akhirnya Apple membuat kekacauan.

    Bayangkan begini: Ada dua koki. Koki pertama bekerja di restoran Padang. Koki kedua bekerja di restoran fast food.

    Koki restoran Padang itu x86. Intel dan AMD. Ia kuat. Bisa mengangkat banyak pekerjaan sekaligus. Pesanan rumit datang. Langsung dihajar sekaligus. Cepat selesai.

    Tapi ada harga yang harus dibayar. Ia cepat lelah. Cepat panas. Butuh pendingin. Butuh energi besar. Butuh listrik banyak.

    ARM berbeda. Ia seperti koki restoran cepat saji. Tugasnya dibuat sederhana. Tidak mengangkat beban besar sekaligus.

    Tapi kerjanya sangat efisien. Sangat hemat tenaga. Sangat hemat listrik. Karena itulah smartphone bisa hidup seharian. Tidak ada kipas. Tidak berisik. Tidak panas seperti laptop gaming.

    Dulu orang menganggap ARM cuma cocok untuk HP. Tidak cocok untuk pekerjaan berat. Tidak cocok untuk komputer serius.

    Lalu Apple datang. Apple membuat chip M1. Kemudian M2. M3. Dan sekarang M4.

    Tiba-tiba dunia kaget. Laptop tanpa kipas. Baterai tahan belasan hingga puluhan jam.

    Tetapi performanya bisa mengalahkan laptop mahal berbasis Intel. Saat itulah industri sadar. ARM bukan lagi pemain kelas dua.

    Kini Nvidia melakukan langkah yang sama. Lewat RTX Spark.

    Bedanya, Nvidia bawa senjata yang tidak dimiliki Apple. AI. Dan GPU. Dalam jumlah besar.

    Apple menjual laptop yang cepat dan hemat.

    Nvidia ingin menjual laptop yang cepat, hemat, sekaligus bisa menjadi “rumah” bagi AI Agent.

    Itulah sebabnya bos Nvidia Jensen Huang menyebut RTX Spark sebagai “reinvention of PC”. Penemuan ulang komputer.

    Bukan karena prosesornya lebih cepat. Tapi karena fungsi komputernya berubah.

    Dulu komputer menunggu manusia bekerja.

    Sekarang komputer mulai bekerja untuk manusia.

    Dulu Anda membuka aplikasi. Besok AI Agent yang membuka aplikasi.

    Dulu Anda mencari data. Besok AI Agent yang mencari data.

    Dulu Anda membuat presentasi. Besok AI Agent yang membantu membuatkannya.

    Itulah mimpi Nvidia. Dan RTX Spark adalah fondasinya.

    Kalau dianalogikan lebih sederhana lagi:

    Intel dan AMD selama ini seperti mesin V8. Tenaganya besar. Suaranya menggelegar. Tapi bensinnya boros.

    ARM seperti mesin hybrid modern. Lebih senyap. Lebih irit. Lebih efisien. Dan sekarang tenaganya mulai menyamai mesin besar tadi.

    Inilah yang membuat Intel dan AMD berkeringat. Karena untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, wilayah kekuasaan mereka mulai dimasuki pendatang baru.

    Bukan dari Qualcomm.

    Bukan dari Apple.

    Tapi dari Nvidia. Perusahaan yang saat ini menjadi raja AI dunia. (*)

  • Honda Kaget, Volkswagen Belajar: China Kini Jadi Guru Industri Mobil Dunia

    Honda Kaget, Volkswagen Belajar: China Kini Jadi Guru Industri Mobil Dunia

    Dulu dunia mengajari China membuat mobil. Sekarang dunia datang ke China untuk belajar.

    Honda datang ke Shanghai. Lalu pulang dengan wajah murung.

    Bukan karena mobilnya tidak laku. Tapi karena melihat pabrik mobil China.

    Saking canggihnya. Saking otomatisnya. Saking cepatnya.

    Sampai CEO Honda Toshihiro Mibe berkata kepada media Jepang: “Kami tidak punya kesempatan melawan ini.”

    Kalimat itu berat. Karena keluar dari mulut bos salah satu perusahaan otomotif terbesar di dunia.

    Dulu China adalah murid. Sekarang China menjadi guru. Dulu pabrikan Barat mengajari mereka membuat mobil.

    Sekarang pabrikan Barat belajar bagaimana membuat mobil dari mereka.

    Perubahannya sangat cepat. Bahkan terlalu cepat.

    Saya berkunjung ke Auto China 2026. Pameran otomotif terbesar di dunia. Saya melihat sesuatu yang membuat banyak pabrikan global gelisah.

    Mobil bukan lagi sekadar mesin. Mobil berubah menjadi komputer beroda. Atau lebih tepatnya: smartphone yang bisa berjalan.

    Itulah yang sedang dikerjakan China. Mereka tidak hanya membuat mobil. Mereka membuat ekosistem.

    Mobil. Telepon genggam. Rumah pintar. Aplikasi. Robot. Semuanya terhubung.

    Lihat Xiaomi. Baru bikin mobil sejak 2024. Tapi kini sudah menjadi salah satu merek mobil listrik terlaris di China.

    Strateginya sederhana. Kalau ponsel Xiaomi bisa bicara dengan smart home Xiaomi. Maka mobil Xiaomi juga harus bisa bicara dengan keduanya. Satu ekosistem. Satu aplikasi. Satu kehidupan digital.

    Kecepatannya juga mengagetkan.

    Di pabrik Xiaomi dekat Beijing, satu mobil keluar dari jalur produksi setiap 76 detik.

    Bukan setiap jam. Bukan setiap beberapa menit. Tapi setiap 76 detik.

    Di Hefei, pabrik Nio bahkan hampir sepenuhnya otomatis. Robot bekerja. Manusia mengawasi. Bukan sebaliknya.

    BYD lebih ekstrem lagi. Mereka sudah memiliki teknologi pengisian daya ultra cepat.

    Dalam lima menit. Ya, lima menit. Mobil bisa mendapat tambahan jarak tempuh 400 kilometer. Hampir sama dengan waktu mengisi bensin.

    400 kilometer itu setara perjalanan Jakarta-Semarang. Setara menunggu kopi Starbucks selesai dibuat barista.

    China juga unggul dalam biaya produksi.

    Menurut International Energy Agency, biaya membuat SUV listrik kecil di China setidaknya 30 persen lebih murah dibanding negara maju.

    Salah satu penyebabnya adalah baterai.

    Penyebab lain: rantai pasok. Semuanya ada. Semuanya dekat. Semuanya terintegrasi.

    Keunggulan itu tidak datang tiba-tiba.

    Riset Rhodium Group menyebut pemerintah China menggelontorkan puluhan miliar dolar untuk industri kendaraan listrik dan baterai. Puluhan miliar dolar.

    Jika dikonversi ke rupiah nilainya mencapai ratusan triliun rupiah. Hasilnya mulai terlihat sekarang.

    Dampaknya terasa di mana-mana. Pangsa pasar merek asing di China turun drastis.

    Tahun 2020 masih 64 persen. Tahun ini tinggal 32 persen. Hilang separuh. Dalam lima tahun.

    General Motors terpukul. Pabrikan Jerman terpukul. Pabrikan Jepang juga terpukul. Bahkan merek mewah ikut terpukul.

    Ada mobil baru bernama Maextro S800. Buatan Huawei. Mobil sedan mewah ini kini menjadi mobil terlaris di China untuk segmen harga di atas USD100.000. Setara sekitar Rp1,78 miliar.

    Mobil itu mengalahkan Porsche Panamera.

    Mengalahkan BMW Seri 7. Dua nama yang dulu hampir tak tersentuh di pasar premium China.

    Ford juga mulai khawatir. CEO Ford Jim Farley mengatakan: “Kami sedang berjuang untuk hidup kami.”

    Bukan kalimat yang biasa keluar dari bos perusahaan sebesar Ford.

    Maka hubungan antara Barat dan China ikut berubah. Dulu Barat membawa teknologi. China menyediakan pabrik.

    Sekarang kebalikannya mulai terjadi. Volkswagen membayar USD700 juta kepada XPeng. Setara sekitar Rp12,46 triliun.

    Tujuannya bukan membeli pabrik. Bukan membeli saham. Tapi membeli akses teknologi software dan sistem mengemudi otomatis.

    Karena mereka merasa terlalu lambat mengembangkannya sendiri.

    Stellantis juga berubah. Mereka menandatangani kerja sama senilai 1 miliar euro.

    Setara sekitar Rp20,6 triliun. Dengan Dongfeng. Mobil China bahkan akan diproduksi di Eropa.

    Situasi yang sulit dibayangkan sepuluh tahun lalu. Namun bukan berarti China tanpa masalah.

    Pasar domestik mereka mulai melambat. Perang harga membuat margin keuntungan menipis.

    Kapasitas produksi terlalu besar. Mobil terlalu banyak. Persaingan terlalu keras. Karena itu mereka keluar.

    Menyerbu pasar dunia. BYD. Chery. SAIC. XPeng. Geely. Satu per satu.

    Masuk Eropa.

    Masuk Timur Tengah.

    Masuk Amerika Selatan.

    Masuk Asia Tenggara. Termasuk Indonesia.

    Jaecoo 7 hanya dalam 14 bulan sudah menjadi salah satu mobil baru terlaris di Inggris. Jaecoo J5 juga memimpin penjualan mobil listrik di Indonesia lebih dari 4 bulan berturut-turut.

    Padahal mereknya nyaris tidak dikenal sebelumnya.

    Sepanjang 2025 penjualan mobil di Indonesia turun. Tapi, pangsa pasar mobil China di Indonesia naik lebih dari 2x. Sudah tembus 15% (113.258 unit) di 2025 dari hanya 6,2% di 2024.

    Amerika memang masih menutup pintu. Tarif impor mobil China di sana bisa lebih dari 100 persen.

    Tapi dunia lebih luas daripada Amerika. Dan China tahu itu.

    Analis otomotif Bill Russo punya kesimpulan menarik. Kesalahan terbesar dunia Barat adalah mengira transisi ini hanya soal mobil listrik.

    Padahal bukan. Ini soal siapa yang akan memimpin teknologi mobilitas generasi berikutnya.

    Dan saat ini. Pusat gravitasinya sudah bergeser. Ke China. (*)

  • Ferrari Luce: Mobil Keluarga Rp11 Miliar yang Bikin Penggemar Ngamuk

    Ferrari Luce: Mobil Keluarga Rp11 Miliar yang Bikin Penggemar Ngamuk

    Ferrari akhirnya membuat mobil listrik. Masalahnya: banyak orang merasa itu bukan lagi Ferrari.

    Ferrari akhirnya menyerah juga. Bukan menyerah kalah. Tapi menyerah pada zaman. Maka lahirlah Ferrari listrik pertama: Luce.

    Dibaca: lu-chey. Artinya: cahaya. Harganya juga bikin mata silau: USD640.000. Kalau dirupiahkan sekitar Rp11,4 miliar.

    Namun yang bikin gaduh bukan harganya. Melainkan bentuknya. Dan jiwanya.

    Ferrari selama ini identik dengan dua hal: suara mesin dan bentuk agresif, sporty, mewah. Luce justru datang tanpa keduanya.

    Tidak ada raungan V8. Tidak ada V12. Tidak ada knalpot. Yang ada justru kabin senyap.

    Lebih mengejutkan lagi: Ferrari ini punya empat pintu dan lima kursi. Seperti mobil keluarga.

    Itulah yang membuat banyak penggemar Ferrari marah. Harga saham Ferrari bahkan langsung turun 8 persen setelah peluncuran.

    Di media sosial lebih kasar lagi. Ada yang bilang mobil itu mirip Nissan Leaf.

    Apalagi warna biru pastel saat peluncuran memang mengingatkan ke mobil listrik murah Jepang itu.

    Padahal bedanya jauh. Nissan Leaf sekitar 32.250 poundsterling. Sekitar Rp574 juta. Ferrari Luce Rp11,4 miliar.

    Mantan bos Ferrari sendiri ikut kecewa. Luca di Montezemolo sampai berkata: “Kita sedang mempertaruhkan kehancuran sebuah legenda”.

    Pedas sekali. Bahkan ia bilang logo kuda jingkrak Ferrari sebaiknya dicopot saja. Ucapan itu lebih sakit daripada komentar netizen.

    Masalah Ferrari sebenarnya bukan sekadar listrik. Orang sudah tahu Ferrari pasti masuk EV cepat atau lambat.

    Masalahnya: Ferrari mengubah terlalu banyak hal sekaligus. Mobil ini bukan hanya EV pertama Ferrari. Tapi juga Ferrari empat pintu kedua sepanjang sejarah. Dan Ferrari lima penumpang pertama. Penggemar Ferrari sulit menelan banyak hal besar sekaligus.

    Ferrari seperti meninggalkan identitas lamanya. CEO Ferrari Benedetto Vigna sebenarnya sadar itu. Ia malah bilang mobil ini memang dibuat “polarising”. Artinya sengaja bikin orang terbelah.

    Ada yang cinta. Ada yang benci. Strategi dibaliknya ini: mencari pembeli baru. Bukan sekadar penggemar Ferrari lama. Targetnya kaya raya generasi baru.

    Pendiri startup teknologi. Orang-orang yang suka kemewahan diam-diam. Quiet luxury.

    Itu sebabnya desainnya dibuat berbeda.

    Jony Ive —mantan desainer Apple— ikut merancang mobil ini bersama Marc Newson. Maka nuansa Apple sangat terasa.

    Minimalis. Bersih. Tidak banyak sirip. Tidak banyak ventilasi udara besar.

    Menabrak pakem desain Ferrari yang dikenal banyak orang. Spoiler belakangnya bahkan disamarkan. Tampak sederhana. Tapi sebenarnya rumit. Secara teknis, Luce sebenarnya luar biasa.

    Motor listrik ada di setiap roda. 0-100 km/jam hanya 2,5 detik. Nyaris selevel mobil balap.

    Namun masalah EV tetap sama: baterai berat. Karena itu bodinya jadi tinggi. Luce hanya lebih rendah 4 cm dibanding SUV Ferrari Purosangue. Padahal Ferrari sport hybrid F80 lebih rendah 40 cm dari Luce.

    Itulah sebabnya banyak orang merasa ini bukan Ferrari. Lebih seperti sedan mewah Tiongkok yang super cepat.

    Namun Ferrari tampaknya memang sengaja ke arah sana. Pasar Tiongkok jadi target penting. Di sana mobil listrik sudah jadi simbol teknologi dan status sosial.

    Ferrari tahu pasar supercar mesin bensin mulai berubah. Bahkan Mate Rimac —pendiri Rimac Nevera— akhirnya lebih banyak memproduksi mobil bensin/hybrid setelah bergabung dengan Bugatti.

    Ironis memang. Karena EV sangat cepat di garis lurus. Tapi belum tentu menyenangkan di tikungan.

    Itu inti masalah Ferrari. Ferrari bukan sekadar cepat. Ferrari adalah rasa. Raungan mesin. Getaran. Tikungan. Ledakan emosi saat pedal gas diinjak. Dan Luce menghapus sebagian besar itu.

    Namun Ferrari tampaknya yakin. Mereka percaya pembeli baru akan datang. Orang-orang yang dulu tidak pernah membeli Ferrari. Orang kaya teknologi. Pecinta desain minimalis. Atau mereka yang ingin Ferrari tanpa drama suara bising.

    Pertanyaannya tinggal satu: Apakah Ferrari masih Ferrari kalau suara mesinnya hilang dan desainnya berubah drastis?

  • Japanese hybrids are truly built differently.

    Japanese hybrids are truly built differently.

    Japanese hybrids are truly built differently. Silahkan nggak setuju juga boleh. Wkwkwk.

    Harus diakui racikan Jepang—khususnya sistem e:HEV di Honda Civic FL—rasanya beda.

    Ini bukan soal adu besar layar headunit atau kapasitas baterai, tapi Engineering.

    Sensasi Berkendara (Driving Engagement) Civic (karena gue pake juga), rasanya seperti pulang ke rumah. Adem, nyaman, dan damai.

    Seperti makan di Pagi Sore, memang mahal. Tapi selalu bisa memenuhi ekspektasi. Kita tahu akan makan dengan sangat nikmat. Tahu setiap detil lauk yang dipilih. Kikil cabe hijau, ubi tumbuk, ayam goreng.

    Civic e:HEV bukan orang baru. Dia tetap Civic dengan semua sifat-sifatnya yang kita suka dan tidak. Tapi, dalam versi yang jauh lebih baik.

    Pabrikan China banyak fokus pada karakter pure EV—mesin bensin cuma jadi generator malas.

    Di Civic e:HEV, ada Linear Shift Control yang memanipulasi putaran mesin untuk meniru perpindahan gigi transmisi konvensional saat gas diinjak dalam. Plus, saat highway cruising, kopling mekanis mengunci langsung ke mesin 2.0L Atkinson Cycle-nya. Karakter petrolhead-nya tetap hidup!

    Mobil PHEV baterai besar (18-30++ kWh) bikin obesitas. Honda pake baterai Lithium-ion ringkas (hanya ~36 kg) di bawah jok belakang. Jadinya? Pusat gravitasi (center of gravity) makin rendah, sasis tetap rigid, dan handling khas Civic di tikungan tetap tajam tanpa gejala body roll berlebih.

    Memang agak sulit dinalar mobil Rp700 juta tidak ada layar besar, ambient light dan gimmick visual lain. Tidak juga paling cepat di akselerasi 0-100 kpj. Tapi entah kenapa setiap menekan tombol start/stop mobil ini selalu muncul dopamin bahagia.

    “Mobil sport harian yang disempurnakan oleh elektrifikasi” Mungkin terasa gimmick.

    Tapi bagi yang masih mencari presisi kemudi, kematangan racikan sasis, dan fun to drive… racikan Jepang memang masih made different. 🇯🇵⚡️

    Gimana menurut kalian? Tulis di kolom komentar! 👇

  • Berkunjung ke ‘Kuil’ Otomotif di Solo

    Berkunjung ke ‘Kuil’ Otomotif di Solo

    Namanya Widodo Teguh. Dikenal lewat ProRock Engineering: bengkel modifikasi off-road, restorasi, dan custom kendaraan di kawasan Pabelan, Solo (Surakarta), Jawa Tengah.

    Tapi, banyak yang belum kenal Making Cars. Proyek “gila” berupa museum otomotif yang juga milik Widodo.

    Museumnya berisi mobil-mobil yang tidak sekadar tua. Tapi punya nyawa. Punya cerita sejarah. Ada banyak model, merek, dan mobil yang sangat langka. Bahkan pertama saya melihatnya. Benar-benar menjadi “kuil” otomotif di Solo.

    Kesana pun karena diajak “warlok” Pak Gub @ridwanhr setelah bersama-sama mengisi acara di iNews Campus Connect (ICC) 2026 di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).

    Sebelumnya makan siang dulu di Warung Sate Kambing Mas Mardi, yang dagingnya empuk gurih. Lantas diantarkan ke Stasiun Balapan.

    Dan masih repot-repot dibawakan oleh-oleh dua dus Surabi Solo dari temannya, Sukma. Baik banget. Terima kasih buat hospitality-nya Pak Gub!

  • Peluncuran BYD M6 PHEV

    Peluncuran BYD M6 PHEV

    Merasa sangat terhormat ketika diminta BYD Indonesia untuk memberi testimoni terkait kesan pertama mencoba BYD M6 DM-i.

    Di acara peluncuran resmi mobil tersebut di Spike Air Dome, CBD PIK 2, Senin malam. Yang dihadiri lebih dari 600-an diler, media, Board of Director BYD APAC, termasuk Vice President of BYD Global Liu Xueliang. Yang ditayangkan di channel YouTube BYD global.

    Saya tidak sendiri. Tapi, bersama Michele dari Suara.com, yang timnya memenangkan tantangan paling irit saat test drive BYD M6 DM-i.

    Sampai-sampai om @b_channel_indonesia bercanda, BYD DM itu memang dibuat pas Danang dan Michele ya. Wkwkwkw.

    Seharian sudah menghapal apa yang mau disampaikan.

    Sudah siap “yapping”. Tapi, sometimes shit just happens. Begitu banyak sebenarnya yang ingin disampaikan. Tiba-tiba nervous dan otak berhenti berfungsi. Hahaha.

    Well, terkadang sudah berusaha semaksimalnya tapi hasil tidak semaksimal yang kita inginkan, begitulah hidup.

  • Masa depan otomotif bukan cuma di jalan raya, tapi di udara!

    Masa depan otomotif bukan cuma di jalan raya, tapi di udara!

    Saya sudah lihat debut eVTOL (electric Vertical Take-off and Landing) punya Honda di Jepang. Sudah dengar penjelasan langsung soal “Land Aircraft Carrier” XPeng di Hong Kong.

    Di China saya lihat lagi raksasa teknologi dan manufaktur dari China CATL bikin kendaraan terbang sebagai solusi pamungkas mengatasi macetnya perkotaan!

    Ini bukan mobil pribadi. Tapi taksi terbang. Namanya AutoFlight Prosperity.Taksi udara otonom super canggih yang didesain untuk mobilitas cepat antarkota.

    Era transportasi udara ini bisa terwujud berkat kemajuan di kepadatan energi baterai EV.

    Raksasa baterai seperti CATL dan BYD berhasil memangkas waktu charging hingga hanya butuh 5 sampai 15 menit.

    Selain itu, gebrakan ini didukung penuh oleh rencana 5 tahun pemerintah China (2026–2030) untuk membangun “Low-Altitude Economy” (ekonomi ketinggian rendah di bawah 3.000 meter) demi mempercepat sertifikasi taksi udara komersial.

    Kalau teknologi ini masuk ke Indonesia, kamu berani cobain naik ini buat commuting tiap hari nggak? Bogor-Jakarta cuma 10 menit enak juga kali ya.

    Coba drop pendapat kamu di kolom komentar!

  • Strategi Honda Lawan Mobil China 2026: Tinggalkan Target Full EV, Fokus ke Hybrid

    Strategi Honda Lawan Mobil China 2026: Tinggalkan Target Full EV, Fokus ke Hybrid

    Honda akhirnya menyerah.

    Setidaknya menyerah untuk satu hal: mimpi menjadi merek mobil full listrik pada 2040.

    Target itu resmi dicabut. Langsung oleh bos global Honda: Toshihiro Mibe. Dalam pertemuan bisnis hari ini. Kalimatnya sederhana: “Tidak realistis lagi”.

    Berarti mesin bensin masih panjang umur. Hybrid justru jadi penyelamat.

    Keputusan ini menarik. Apalagi datang di saat pasar Indonesia sedang berubah cepat. Mobil-mobil China mulai mengacak-acak peta lama.

    Honda yang dulu nyaman di papan atas kini mulai terdesak. Data Gaikindo April 2026 sudah bicara keras.

    Honda wholesales tinggal 2.363 unit. Posisi ke-9 nasional. Nyaris keluar dari 10 besar.

    Bandingkan dengan BYD: 4.625 unit. Jaecoo: 3.219 unit.

    Artinya ancaman itu nyata. Bukan lagi masa depan. Sudah terjadi sekarang.

    Padahal Honda dulu rajanya mobil rakyat perkotaan. Brio. HR-V. CR-V. Mobil-mobilnya identik dengan anak muda.

    Kini pasar berubah. Yang dicari bukan hanya merek. Tapi teknologi. Efisiensi. Dan sensasi baru.

    Honda sadar itu. Maka arah setir langsung dibelokkan. Bukan lagi full EV. Tapi hybrid.

    Honda akan meluncurkan 15 model hybrid generasi baru sampai Maret 2030. Fokus utamanya Amerika Utara. Tapi efeknya pasti global. Termasuk Indonesia.

    Mulai 2027 Honda memakai platform hybrid baru. Mesin baru. Sistem hybrid baru. Bahkan AWD elektrik baru.

    Efisiensi bahan bakar ditargetkan naik lebih 10 persen. Biaya sistem hybrid ditekan 30 persen dibanding sistem tahun 2023.

    Honda juga menyiapkan ADAS generasi baru mulai 2028.

    Bukan sekadar adaptive cruise control. Sistem ini bisa membantu setir, akselerasi, sampai navigasi dari titik awal sampai tujuan. Jalan tol maupun jalan biasa.

    Honda ingin hybrid terasa seperti EV. Tapi tanpa kecemasan charging.

    Strategi itu terasa masuk akal. Sebab pasar global ternyata belum siap sepenuhnya untuk EV murni.

    Mibe, bos Honda itu, mengaku lingkungan bisnis berubah terlalu cepat. Permintaan EV tidak setinggi prediksi awal dekade 2020-an.

    Akibatnya mahal. Sangat mahal. Honda mencatat kerugian terkait EV sebesar 1,579 triliun yen. Kalau dirupiahkan: Rp268,4 triliun.

    Itu membuat Honda mencatat rugi operasional 414,3 miliar yen. Sekitar Rp70,4 triliun. Salah satu kerugian terbesar dalam sejarah Honda.

    Proyek EV banyak dibatalkan.

    Honda 0 Sedan batal.

    Honda 0 SUV batal.

    Acura RSX listrik batal.

    Dua proyek Afeela bersama Sony juga mati sebelum lahir.

    Honda kini realistis. Mesin bensin tidak dibunuh.

    Hybrid dijadikan jembatan panjang menuju netral karbon 2050.

    Artinya Honda melihat dunia belum siap meninggalkan bensin sepenuhnya.

    Apalagi di negara berkembang seperti Indonesia. Infrastruktur charging masih timpang.

    Kekhawatiran soal EV dan baterainya masih tinggi. Nilai jual kembali belum sepenuhnya stabil.

    Maka hybrid dianggap jalan tengah paling aman.

    Apalagi Toyota sudah membuktikannya. Di Indonesia Toyota Veloz Hybrid langsung masuk lima besar nasional April 2026: 3.262 unit. Kijang Innova Hybrid juga masih perkasa.

    Honda tidak mau terlambat lebih jauh. Karena sekarang lawannya bukan cuma Toyota.

    Tapi China. BYD agresif. Jaecoo tiba-tiba meledak. Geely mulai merangsek. Denza stabil di 20 besar nasional.

    Honda tahu perang berikutnya bukan soal gengsi merek. Tapi kecepatan membaca pasar. Karena itu investasi Honda juga berubah total.

    Selama tiga tahun sampai 2029, Honda mengurangi investasi EV menjadi hanya 0,8 triliun yen atau sekitar Rp136 triliun.

    Sebaliknya, investasi hybrid dan mesin bensin mencapai 4,4 triliun yen. Setara Rp748 triliun.

    Software juga diguyur dana 1 triliun yen.

    Total investasi tiga tahun Honda mencapai 6,2 triliun yen. Sekitar Rp1.054 triliun.

    Honda juga mulai memangkas biaya besar-besaran.

    Mereka punya strategi “Triple Half”. Biaya pengembangan dipotong setengah.

    Waktu pengembangan dipotong setengah.

    Beban kerja pengembangan juga dipotong setengah.

    AI dipakai besar-besaran.

    Platform dibuat makin seragam.

    Komponen dipakai bersama lebih 60 persen antar model.

    Tujuannya sederhana: murah dan cepat. Karena merek China terlalu cepat bergerak.

    Honda bahkan mulai memakai banyak komponen lokal China dan India demi menekan biaya. Sesuatu yang dulu sulit dibayangkan dari pabrikan Jepang.

    Tapi dunia memang berubah.

    Dan Honda memilih bertahan hidup dulu. Bukan memaksakan idealisme EV penuh.

    Di Indonesia strategi itu mungkin justru cocok.

    Konsumen Indonesia belum sepenuhnya meninggalkan bensin. Tapi juga mulai tertarik elektrifikasi.

    Hybrid akhirnya jadi zona aman.

    Tidak perlu charging. Tidak takut antre SPKLU. Tapi tetap irit dan modern. Honda tampaknya membaca itu dengan sangat serius sekarang.

    Terlambat? Mungkin belum. Tapi waktu mereka juga tidak banyak lagi.

  • PHEV di Indonesia Belum Mati, tapi Juga Belum Jadi Raja

    PHEV di Indonesia Belum Mati, tapi Juga Belum Jadi Raja

    Penjualannya lambat. Tapi pabrikan China justru makin ramai membawa model baru.

    Mobil listrik murni (EV) luar biasa ramai. Hybrid biasa sudah diterima. Tapi plug-in hybrid atau PHEV masih seperti anak tengah: tidak dibenci, tapi juga belum benar-benar dicintai.

    Penjualannya kecil. Sangat kecil (lihat grafik).

    Dari 46 unit di 2021, turun ke 10 unit di 2022, lalu mulai naik ke 128 unit, 136 unit, melonjak ke 5.270 unit di 2025. Itu artinya ada pertumbuhan.

    Tapi skalanya masih sangat kecil dibanding EV murni (103.931 unit di 2025) maupun hybrid biasa (65.943 unit).

    Tapi anehnya, pabrikan China justru ramai-ramai membawa PHEV ke Indonesia. Wuling sudah. BYD siap. Chery jalan terus.

    Changan juga ikut. Bahkan model REEV atau range extender mulai muncul.

    Artinya satu: mereka melihat sesuatu yang belum dilihat pasar Indonesia hari ini.

    PHEV sebenarnya menawarkan kompromi paling masuk akal: Bisa jalan pakai bensin. Bisa juga pakai listrik.

    Tidak ada rasa takut kehabisan baterai di tengah jalan. Tapi tetap lebih hemat dibanding mobil bensin biasa.

    Masalahnya justru ada di tengah itu.

    Orang Indonesia yang sudah siap pindah ke listrik biasanya langsung memilih EV murni. Apalagi dengan benefit pajak dan non fiskal (bebas Gage). Sementara yang belum siap, memilih hybrid biasa.

    PHEV akhirnya terjebak di antara dua dunia.

    Harga juga jadi soal.

    PHEV umumnya jauh lebih mahal dibanding hybrid biasa. Tapi belum semurah EV yang semakin agresif.

    Konsumen Indonesia akhirnya bertanya sederhana: “Kalau tetap harus isi bensin, kenapa tidak sekalian hybrid biasa?”

    Padahal secara teknologi, PHEV jauh lebih canggih.

    Baterainya lebih besar. Motor listriknya lebih kuat. Bahkan banyak PHEV modern bisa berjalan lebih dari 150 KM hanya dengan tenaga listrik/baterai.

    Chery percaya diri membawa teknologi Super Hybrid. BYD juga mulai serius dengan DM-i. Changan menyiapkan REEV (Range Extender Electric Vehicle).

    Semua datang dengan satu logika: Indonesia belum siap full EV, tapi mulai bosan dengan mobil bensin biasa.

    Mereka tidak salah.

    Infrastruktur charging Indonesia memang tumbuh. Tapi belum merata. Kalah cepat dengan tumbuhnya pengguna EV.

    Di luar kota besar, SPKLU masih jarang. Di kota-kota besar, antrean ngecas bikin tidak nyaman.

    Di titik inilah PHEV sebenarnya paling masuk akal. Bisa dicas di rumah. Tapi kalau lupa ngecas, mobil tetap jalan.

    Tidak bikin panik. Tidak ada range anxiety atau charging anxiety.

    Masalah berikutnya adalah pajak dan positioning.

    Di Indonesia, insentif terbesar justru diberikan ke EV murni. PHEV tidak mendapat perlakuan seistimewa itu. Akibatnya harga jual sulit kompetitif. Pajak mahal terasa beban.

    Padahal di China, PHEV justru sedang meledak.

    Sepanjang 2025, China jual 34,531,000 unit mobil. PHEV terjual 5,861,000 unit (+14%).

    Sedangkan BEV 10,622,000 unit (+37.6%). Total New Energy Vehicle (NEV): 16,490,000 unit. Sisanya (sekitar 47%) masih bensin/ICE.

    BYD bahkan menjadikan teknologi plug-in hybrid sebagai senjata utama sebelum EV mereka benar-benar dominan.

    Banyak konsumen Tiongkok merasa PHEV lebih realistis untuk transisi.

    Indonesia tampaknya menuju arah yang sama. Tapi lebih lambat.

    Pasar Indonesia unik. Konsumen masih sangat sensitif soal harga. Sangat mempertimbangkan resale value. Dan masih trauma soal baterai.

    Karena itu hybrid biasa lebih cepat diterima. Tidak perlu colok listrik. Tidak perlu adaptasi besar. Tidak ribet.

    PHEV akhirnya seperti teknologi yang masih “kepagian”. Belum gagal. Tapi juga belum waktunya.

    Namun ada satu tanda menarik: pabrikan China tidak mundur. Itu penting.

    Karena mereka terkenal sangat agresif membaca pasar. Kalau mereka tetap membawa PHEV, berarti mereka yakin 3-5 tahun ke depan pasar Indonesia akan berubah.

    Apalagi nantinya harga baterai mulai turun. Teknologi makin murah. SPKLU lebih merata. Konsumen juga mulai terbiasa dengan charging.

    Saat itu terjadi, PHEV bisa berubah posisi. Dari produk bingung menjadi jembatan utama menuju elektrifikasi penuh.

    Kini posisinya masih menggantung. Belum meledak. Tapi juga belum selesai.

    Dan justru di situlah menariknya pasar otomotif Indonesia hari ini. (*)