Kategori: otomotif

  • Subaru Pasang Harga Rp1,2 Miliar untuk WRX Edisi Ceri

    Subaru Pasang Harga Rp1,2 Miliar untuk WRX Edisi Ceri

    Subaru Indonesia meluncurkan Subaru WRX STI Cherry Red Sport Edition seharga Rp1,2 miliar on the road Jakarta, Sabtu (3/10/2026). Edisi khusus ini hadir ketika penjualan Subaru merosot di tengah pasar mobil nasional yang tumbuh.

    Peluncuran berlangsung dalam ajang SUBARUVERSE yang digelar PT Plaza Auto Mega, agen pemegang merek Subaru di Indonesia sejak Februari 2020.

    Mobil ini dibangun dari Subaru WRX Sedan bertransmisi CVT dengan warna dasar Ceramic White dan aksen Cherry Red, warna identitas STI (Subaru Tecnica International).

    Paket eksteriornya meliputi STI Spoiler Front, Side, Rear Quarter, dan Rear Under Diffuser, skirt lip, door mirror cover, Dry Carbon Rear Spoiler, serta Sports Grille STI.

    Untuk pengendalian, Subaru memasang Flexible Tower Bar for CVT, Flexible Draw Stiffener Rear, dan pelek Enkei PF09 R18x9.0. Detail lain berupa battery holder, tutup oli dan radiator STI, STI Shift Knob, STI Valve Cap Set, dan STI Door Handle Protector.

    Daftar itu menunjukkan label STI pada mobil ini merujuk pada paket aero dan komponen sasis, bukan perubahan mesin.

    Basisnya pun CVT, berbeda dari WRX STI generasi lama yang identik dengan transmisi manual.

    Sebagai pembanding, WRX tS EyeSight dibanderol Rp994,5 juta, sehingga paket Cherry Red menambah sekitar Rp205,5 juta.

    Edisi khusus menjadi strategi Subaru menjaga daya tarik merek. Pada GIIAS 2026, Subaru juga meluncurkan WRX Wagon STI Cherry Blossom Special Edition seharga Rp1,262 miliar.

    Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat wholesales Subaru pada Januari-Agustus 2026 hanya 127 unit, turun 36,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Penjualan ritelnya turun 45,3 persen. Hingga Juli, ritel Subaru 93 unit, dari 154 unit setahun sebelumnya.

    Penurunan itu berlawanan dengan arah pasar. Wholesales nasional Januari-Agustus 2026 naik 20,1 persen menjadi 599.491 unit, didorong mobil listrik berbaterai (BEV) yang mencapai 101.171 unit atau 16,9 persen pasar. Sepuluh besar BEV seluruhnya diisi merek China. Pangsa Subaru kini sekitar 0,02 persen.

    Executive General Manager Subaru Indonesia Edward Kencono menyebut SUBARUVERSE sebagai cara memperlihatkan banyak sisi Subaru.

    “Dari performa dan petualangan hingga keluarga, lifestyle, dan komunitas, semuanya memiliki satu benang merah, yaitu menghadirkan pengalaman yang memberikan Confidence in Motion untuk setiap perjalanan,” ujarnya.

    Untuk mendongkrak transaksi, diler Plaza Subaru menawarkan bunga 0 persen untuk Outback dan WRX, uang muka ringan khusus Outback, potongan hingga 50 persen untuk Subaru Lifestyle Gear, 15 persen untuk aksesori STI, serta penawaran hingga Rp20 juta untuk paket aksesori STI Forester.

    Pengunjung juga dapat mengikuti test drive dan AWD Challenge untuk menjajal Symmetrical All-Wheel Drive.

    Seluruh mobil Subaru mendapat garansi 3 tahun atau 100.000 kilometer, servis berkala gratis 3 tahun, dan Subaru Roadside Assistance 5 tahun.

    Fakta kunci

    1. Harga: WRX STI Cherry Red Sport Edition dijual Rp1,2 miliar OTR Jakarta, sekitar Rp205,5 juta di atas WRX tS EyeSight.

    2. Basis: Mobil ini memakai WRX Sedan bertransmisi CVT. Ada 17 komponen STI dan performa, tanpa ubahan mesin.

    3. Sasis: Flexible Tower Bar khusus CVT, Flexible Draw Stiffener Rear, dan pelek Enkei PF09 R18x9.0.

    4. Penjualan: Wholesales Subaru Januari–Agustus 2026 sebanyak 127 unit (turun 36,8 persen), dan ritelnya turun 45,3 persen.

    5. Pasar: Pasar nasional naik 20,1 persen menjadi 599.491 unit, dengan BEV menguasai 16,9 persen.

  • GoPro Sekarat: Dari Bintang Wall Street Rp198 Triliun Jadi Saham Receh

    GoPro Sekarat: Dari Bintang Wall Street Rp198 Triliun Jadi Saham Receh

    Pernah bernilai Rp198 triliun, kini cuma Rp3,38 triliun. GoPro mengaku ragu bisa bertahan setahun lagi.

    GoPro mengaku kepada investornya: mungkin tidak sanggup bertahan 12 bulan ke depan.

    Pengakuan ini bukan main-main. Tertulis resmi. Dalam dokumen 8-K yang diserahkan ke otoritas bursa Amerika (SEC). Tanggal 1 Juni 2026.

    Auditornya, PricewaterhouseCoopers (PwC), memberi peringatan keras: ada “keraguan substansial atas kemampuan perusahaan untuk melanjutkan usaha”.

    PwC sudah mengaudit GoPro sejak 2011. Jadi mereka tahu betul kondisinya.

    Alasannya: rugi operasi terus-menerus. Arus kas negatif. Dan utang yang jatuh tempo dalam setahun.

    GoPro rugi bersih USD93,5 juta — sekitar Rp1,68 triliun — sepanjang 2025. Tahun sebelumnya lebih parah: rugi USD432,3 juta, atau sekitar Rp7,78 triliun, di 2024.

    Penjualan turun. Lalu ada beban baru: harga komponen memori naik 80 sampai 110 persen. Pasokannya pun berkurang — imbas krisis chip akibat ledakan AI. April dan Mei 2026 disebut “makin lesu”.

    Pasar langsung bereaksi. Saham GoPro (NASDAQ: GPRO) jatuh dari USD1,26 (sekitar Rp22.680) pada Jumat pekan lalu ke sekitar USD1,10 (Rp19.800) di Senin. Selasa pagi di kisaran USD1,11 (Rp19.980).

    Ini saham receh. Penny stock. Padahal dulu lain ceritanya.

    GoPro lahir dari karet gelang dan papan selancar. Pendirinya Nick Woodman. Lulusan seni rupa UC San Diego tahun 1997. Idenya muncul saat berselancar di Australia dan Indonesia pada 2002. Ia mengikat kamera 35 mm ke pergelangan tangannya. Untuk merekam dirinya sendiri di air sambil berselancar.

    Modalnya pinjaman: sekitar USD235.000 (Rp4,23 miliar) dari orang tuanya. Sambil jualan kalung manik-manik dan kerang dari dalam mobil Volkswagen. Kamera GoPro pertama dijual sekitar USD30 — kira-kira Rp540.000.

    Ini percobaan ketiga Woodman bikin startup. Dua sebelumnya gagal. Termasuk usaha gim bernama Funbug, yang ambruk pada 2001 dan menelan uang investor USD3,9 juta (Rp70,2 miliar). Ketakutan gagal lagi itulah, kata Woodman, yang membuatnya ngotot.

    GoPro melantai di bursa pada 26 Juni 2014. Harga perdananya USD24 (Rp432.000) per lembar. Investor suka konsepnya: perusahaan hardware yang sekaligus merek media. Videonya ditonton miliaran kali di YouTube.

    Hari pertama saja sudah meroket. Ditutup di USD31,34 (Rp564.120). Nilai perusahaan hampir USD4 miliar — sekitar Rp72 triliun.

    Puncaknya 7 Oktober 2014. Saham tembus rekor USD93,85 (Rp1.689.300). Nilai pasar GoPro lewat USD11 miliar. Setara Rp198 triliun.

    Woodman sempat jadi CEO bergaji tertinggi di Amerika. Paket saham terbatasnya, di akhir 2014, ditaksir USD284,5 juta — sekitar Rp5,12 triliun. Nomor satu di Bloomberg Pay Index.

    Lalu mulai merosot.

    Penyebabnya klasik. Kamera ponsel makin bagus. Orang biasa tak lagi butuh kamera terpisah. Pesaing murah menggerogoti dari bawah.

    Taruhan besar GoPro untuk melebar gagal total: drone Karma. November 2016 ditarik dari pasaran. Sekitar 2.500 unit. Sebabnya: kehilangan daya saat terbang — sebagian jatuh dari langit. Lini drone itu dihentikan pada 2018.

    Saat itu, gaji tunai Woodman dipangkas jadi USD1 saja — Rp18.000. Lebih dari 20 persen karyawan dirumahkan.

    Kini tekanan datang lagi. GoPro sudah memangkas 23 persen karyawannya. Juga sedang menimbang tawaran untuk menjual perusahaan.

    Saya memakai GoPro sejak 2012. Modelnya GoPro Hero 3+. Waktu itu GoPro satu-satunya pilihan. Satu-satunya action cam yang terlihat sangat keren. Dibantu banjir konten video di media sosial yang semuanya pakai GoPro.

    Tapi konten saja tidak cukup. Kualitas hardware tetap penting. Di situlah DJI masuk. Mendobrak pasar yang dulu dikuasai mutlak GoPro.

    DJI membawa solusi atas hal yang gagal dibenahi GoPro. Masalahnya di chip kamera yang uzur. Perkembangan kualitas gambar jadi lambat. Dari satu model ke model berikutnya nyaris tidak ada pembaruan berarti. Belum lagi kamera yang gampang panas— overheating.

    DJI juga menguasai pasar drone. Lagi-lagi area yang gagal ditembus GoPro lewat drone Karma. Lagi pula, milih nama kok Karma.

    Dan ini yang terpenting: DJI punya ekosistem terbaik di seluruh produknya. Action camera, drone, wireless microphone, handheld camera — semua nyambung mulus. Aplikasinya solid, minim bug. GoPro tidak punya itu.

    Tapi GoPro belum tentu kiamat.

    Dokumen seperti ini tidak otomatis berarti bangkrut. GoPro sendiri menegaskan: belum ada rencana spesifik mengajukan kebangkrutan. Tanpa pendanaan baru atau suntikan dana, kemampuan bertahannya memang terancam — tapi pintu belum tertutup.

    Ada contoh harapan. Kodak mengajukan pernyataan serupa tahun lalu. Lalu melunasi utang lewat dana pensiun. Akhir tahun justru tumbuh.

    Dan ada satu hal yang luput dari dokumen itu: GoPro Mission 1. Seri kamera baru. Sensornya 1 inci, mampu rekam 8K. Baru mulai dikirim beberapa hari lalu. Termasuk varian Mission 1 Pro.

    Produk baru itu tidak disebut dalam laporan keuangan. Bisa jadi penyelamat. Bisa jadi terlambat. Saya lihat ulasan-ulasan dari reviewer cukup positif. Tanggapan pasar, harusnya juga positif. 

    Meski demikian, melihat ekosistem DJI yang sudah jauh di depan, saya ragu satu kamera bisa membalik keadaan. Masalah GoPro bukan cuma satu produk. Tapi seluruh ekosistemnya.

    Cerita karet gelang dan papan selancar itu belum tamat. Tapi babak ini yang paling berat.

  • Honda di Persimpangan

    Honda di Persimpangan

    Tekanan pasar, perubahan teknologi, dan perbedaan pandangan di internal perusahaan menjadi ujian baru bagi raksasa Jepang ini.

    Nobuhiko Kawamoto datang sendiri ke Tokyo. April lalu. Mantan CEO Honda itu menemui langsung Toshihiro Mibe: “Mundur!” katanya.

    Mibe bergeming.

    Kawamoto bukan sembarang orang. Ia pernah memaksa penerusnya mundur di masa krisis sebelumnya. Pengaruhnya besar.

    Tapi kali ini ia gagal.

    Krisis Honda sudah menumpuk. Pasar China ambruk: dari 8 persen di 2020 jadi kurang dari 3 persen tahun lalu.

    Strategi EV terjun bebas.

    Reuters melaporkan, Honda terpaksa menghapus investasi senilai USD9 miliar—Rp162 triliun—setelah membatalkan tiga model EV yang sedang dikembangkan (Honda 0 Series). Total kerugian diperkirakan USD12 miliar atau Rp216 triliun.

    Ini yang jadi kerugian tahunan pertama Honda dalam tujuh dekade.

    Para sesepuh Honda marah. Sejak akhir tahun lalu mereka bertemu diam-diam. Lewat pesan teks. Lewat makan malam.

    Kadang melibatkan eksekutif yang masih aktif. Tuduhan mereka terang-terangan.

    “CEO tidak melihat kondisi lapangan, tidak mendengarkan pelanggan, tidak turun ke genba,” begitu ringkasan diskusi mereka.

    Genba—tempat kerja sesungguhnya—adalah prinsip sakral Honda sejak zaman Soichiro Honda.

    China jadi simbol kegagalan itu.

    Mibe jarang hadir di pameran otomotif Shanghai—event terbesar industri yang selalu dihadiri bos-bos rival.

    Covid sempat membatasi perjalanan. Tapi setelah itu pun Mibe tetap jarang ke sana.

    Strategi EV Mibe ambisius. Ia berjanji Honda full electric pada 2040. Bulan lalu Honda menarik janji itu.

    Saya dua kali bertemu langsung dengan CEO Honda itu di Jepang.

    Di 2023, pertanyaan saya kepada Mibe: “Bagaimana tanggapan Anda tentang mobil listrik China?”. Karena saat itu saya prediksi mobil China bakal meledak.

    Di 2025, saya bertanya ini: “Honda pernah punya robot humanoid ASIMO, mengapa tidak dikembangkan lagi dan malah fokus pada eksplorasi luar angkasa (roket)?”. Sebab, pabrikan otomotif China seperti XPeng membuat robot humanoid yang sangat canggih.

    Honda bukan satu-satunya yang tertatih tatih dengan EV. Ford, GM, dan Nissan sudah lebih dulu menghapus total lebih dari USD25 miliar—Rp450 triliun—dari rencana EV yang dibatalkan.

    Mibe sempat ditawari jalan keluar: bank Jepang mengusulkan agar divisi EV Honda dipinang investor luar. Beban berat bisa berkurang.

    Mibe menolak. Honda akan menyelesaikan sendiri, katanya.

    Sebagai konsekuensi kerugian, Mibe menerima pemotongan gaji 30 persen selama tiga bulan.

    Mibe punya rencana pemulihan. Ia berjanji memangkas 30 persen biaya powertrain hybrid baru.

    Ia juga memindahkan insinyur pengembangan mobil kembali ke anak perusahaan R&D—membalik kebijakan era sebelumnya.

    Saat pabrikan China berlari kencang dengan mobil listrik murah dan penuh software, Honda terasa lambat bergerak.

    Toyota dan Nissan sudah lebih dulu berkolaborasi dengan mitra lokal untuk membuat mobil listrik sesuai selera konsumen China. Honda baru mulai melakukan langkah serupa tahun ini.

    Masalah lain muncul dari budaya perusahaan.

    Honda selama puluhan tahun dikenal sebagai surga para insinyur.

    Budaya itu mulai terkikis.

    Sebagian mantan petinggi mengeluhkan makin banyak pekerjaan desain komponen diserahkan ke pemasok. Akibatnya biaya sulit dikendalikan.

    “Kemampuan Honda mengembangkan mobil menurun, tetapi biayanya tidak,” kata analis SBI Securities, Koji Endo.

    Ironisnya, yang justru menyelamatkan Honda saat ini adalah divisi sepeda motor.

    Tahun lalu divisi motor mencetak laba rekor USD4,6 miliar atau sekitar Rp82,8 triliun. Sementara bisnis mobil menjadi sumber tekanan.

    Di internal perusahaan mulai muncul perasaan tidak nyaman.

    Divisi motor merasa mereka ikut menopang kerugian bisnis mobil.

    Honda adalah pembuat mesin terbesar di dunia—dari mesin pemotong salju, roket, sampai jet. Civic dan Accord adalah dua mobil terlaris sepanjang sejarah.

    Warisan itu besar sekali. Tapi apakah cukup untuk bertahan?

    Jeffrey Rothfeder, penulis buku Driving Honda, bahkan pesimistis. “Saya tidak tahu jalan keluarnya bagi mereka,” katanya.

    Kalimat itu terasa keras. Tapi mungkin memang menggambarkan posisi Honda saat ini.

    Dulu Honda terkenal karena mesin.

    Dulu Honda terkenal karena keberanian insinyurnya.

    Dulu Honda terkenal karena selalu berbeda.

    Kini tantangannya berubah.

    Bukan lagi membuat mesin terbaik.

    Melainkan bertahan hidup di era ketika software, baterai, dan kecepatan inovasi menjadi penentu.

    Dan di situlah Honda sedang diuji. (*)

  • Honda Kaget, Volkswagen Belajar: China Kini Jadi Guru Industri Mobil Dunia

    Honda Kaget, Volkswagen Belajar: China Kini Jadi Guru Industri Mobil Dunia

    Dulu dunia mengajari China membuat mobil. Sekarang dunia datang ke China untuk belajar.

    Honda datang ke Shanghai. Lalu pulang dengan wajah murung.

    Bukan karena mobilnya tidak laku. Tapi karena melihat pabrik mobil China.

    Saking canggihnya. Saking otomatisnya. Saking cepatnya.

    Sampai CEO Honda Toshihiro Mibe berkata kepada media Jepang: “Kami tidak punya kesempatan melawan ini.”

    Kalimat itu berat. Karena keluar dari mulut bos salah satu perusahaan otomotif terbesar di dunia.

    Dulu China adalah murid. Sekarang China menjadi guru. Dulu pabrikan Barat mengajari mereka membuat mobil.

    Sekarang pabrikan Barat belajar bagaimana membuat mobil dari mereka.

    Perubahannya sangat cepat. Bahkan terlalu cepat.

    Saya berkunjung ke Auto China 2026. Pameran otomotif terbesar di dunia. Saya melihat sesuatu yang membuat banyak pabrikan global gelisah.

    Mobil bukan lagi sekadar mesin. Mobil berubah menjadi komputer beroda. Atau lebih tepatnya: smartphone yang bisa berjalan.

    Itulah yang sedang dikerjakan China. Mereka tidak hanya membuat mobil. Mereka membuat ekosistem.

    Mobil. Telepon genggam. Rumah pintar. Aplikasi. Robot. Semuanya terhubung.

    Lihat Xiaomi. Baru bikin mobil sejak 2024. Tapi kini sudah menjadi salah satu merek mobil listrik terlaris di China.

    Strateginya sederhana. Kalau ponsel Xiaomi bisa bicara dengan smart home Xiaomi. Maka mobil Xiaomi juga harus bisa bicara dengan keduanya. Satu ekosistem. Satu aplikasi. Satu kehidupan digital.

    Kecepatannya juga mengagetkan.

    Di pabrik Xiaomi dekat Beijing, satu mobil keluar dari jalur produksi setiap 76 detik.

    Bukan setiap jam. Bukan setiap beberapa menit. Tapi setiap 76 detik.

    Di Hefei, pabrik Nio bahkan hampir sepenuhnya otomatis. Robot bekerja. Manusia mengawasi. Bukan sebaliknya.

    BYD lebih ekstrem lagi. Mereka sudah memiliki teknologi pengisian daya ultra cepat.

    Dalam lima menit. Ya, lima menit. Mobil bisa mendapat tambahan jarak tempuh 400 kilometer. Hampir sama dengan waktu mengisi bensin.

    400 kilometer itu setara perjalanan Jakarta-Semarang. Setara menunggu kopi Starbucks selesai dibuat barista.

    China juga unggul dalam biaya produksi.

    Menurut International Energy Agency, biaya membuat SUV listrik kecil di China setidaknya 30 persen lebih murah dibanding negara maju.

    Salah satu penyebabnya adalah baterai.

    Penyebab lain: rantai pasok. Semuanya ada. Semuanya dekat. Semuanya terintegrasi.

    Keunggulan itu tidak datang tiba-tiba.

    Riset Rhodium Group menyebut pemerintah China menggelontorkan puluhan miliar dolar untuk industri kendaraan listrik dan baterai. Puluhan miliar dolar.

    Jika dikonversi ke rupiah nilainya mencapai ratusan triliun rupiah. Hasilnya mulai terlihat sekarang.

    Dampaknya terasa di mana-mana. Pangsa pasar merek asing di China turun drastis.

    Tahun 2020 masih 64 persen. Tahun ini tinggal 32 persen. Hilang separuh. Dalam lima tahun.

    General Motors terpukul. Pabrikan Jerman terpukul. Pabrikan Jepang juga terpukul. Bahkan merek mewah ikut terpukul.

    Ada mobil baru bernama Maextro S800. Buatan Huawei. Mobil sedan mewah ini kini menjadi mobil terlaris di China untuk segmen harga di atas USD100.000. Setara sekitar Rp1,78 miliar.

    Mobil itu mengalahkan Porsche Panamera.

    Mengalahkan BMW Seri 7. Dua nama yang dulu hampir tak tersentuh di pasar premium China.

    Ford juga mulai khawatir. CEO Ford Jim Farley mengatakan: “Kami sedang berjuang untuk hidup kami.”

    Bukan kalimat yang biasa keluar dari bos perusahaan sebesar Ford.

    Maka hubungan antara Barat dan China ikut berubah. Dulu Barat membawa teknologi. China menyediakan pabrik.

    Sekarang kebalikannya mulai terjadi. Volkswagen membayar USD700 juta kepada XPeng. Setara sekitar Rp12,46 triliun.

    Tujuannya bukan membeli pabrik. Bukan membeli saham. Tapi membeli akses teknologi software dan sistem mengemudi otomatis.

    Karena mereka merasa terlalu lambat mengembangkannya sendiri.

    Stellantis juga berubah. Mereka menandatangani kerja sama senilai 1 miliar euro.

    Setara sekitar Rp20,6 triliun. Dengan Dongfeng. Mobil China bahkan akan diproduksi di Eropa.

    Situasi yang sulit dibayangkan sepuluh tahun lalu. Namun bukan berarti China tanpa masalah.

    Pasar domestik mereka mulai melambat. Perang harga membuat margin keuntungan menipis.

    Kapasitas produksi terlalu besar. Mobil terlalu banyak. Persaingan terlalu keras. Karena itu mereka keluar.

    Menyerbu pasar dunia. BYD. Chery. SAIC. XPeng. Geely. Satu per satu.

    Masuk Eropa.

    Masuk Timur Tengah.

    Masuk Amerika Selatan.

    Masuk Asia Tenggara. Termasuk Indonesia.

    Jaecoo 7 hanya dalam 14 bulan sudah menjadi salah satu mobil baru terlaris di Inggris. Jaecoo J5 juga memimpin penjualan mobil listrik di Indonesia lebih dari 4 bulan berturut-turut.

    Padahal mereknya nyaris tidak dikenal sebelumnya.

    Sepanjang 2025 penjualan mobil di Indonesia turun. Tapi, pangsa pasar mobil China di Indonesia naik lebih dari 2x. Sudah tembus 15% (113.258 unit) di 2025 dari hanya 6,2% di 2024.

    Amerika memang masih menutup pintu. Tarif impor mobil China di sana bisa lebih dari 100 persen.

    Tapi dunia lebih luas daripada Amerika. Dan China tahu itu.

    Analis otomotif Bill Russo punya kesimpulan menarik. Kesalahan terbesar dunia Barat adalah mengira transisi ini hanya soal mobil listrik.

    Padahal bukan. Ini soal siapa yang akan memimpin teknologi mobilitas generasi berikutnya.

    Dan saat ini. Pusat gravitasinya sudah bergeser. Ke China. (*)

  • Ferrari Luce: Mobil Keluarga Rp11 Miliar yang Bikin Penggemar Ngamuk

    Ferrari Luce: Mobil Keluarga Rp11 Miliar yang Bikin Penggemar Ngamuk

    Ferrari akhirnya membuat mobil listrik. Masalahnya: banyak orang merasa itu bukan lagi Ferrari.

    Ferrari akhirnya menyerah juga. Bukan menyerah kalah. Tapi menyerah pada zaman. Maka lahirlah Ferrari listrik pertama: Luce.

    Dibaca: lu-chey. Artinya: cahaya. Harganya juga bikin mata silau: USD640.000. Kalau dirupiahkan sekitar Rp11,4 miliar.

    Namun yang bikin gaduh bukan harganya. Melainkan bentuknya. Dan jiwanya.

    Ferrari selama ini identik dengan dua hal: suara mesin dan bentuk agresif, sporty, mewah. Luce justru datang tanpa keduanya.

    Tidak ada raungan V8. Tidak ada V12. Tidak ada knalpot. Yang ada justru kabin senyap.

    Lebih mengejutkan lagi: Ferrari ini punya empat pintu dan lima kursi. Seperti mobil keluarga.

    Itulah yang membuat banyak penggemar Ferrari marah. Harga saham Ferrari bahkan langsung turun 8 persen setelah peluncuran.

    Di media sosial lebih kasar lagi. Ada yang bilang mobil itu mirip Nissan Leaf.

    Apalagi warna biru pastel saat peluncuran memang mengingatkan ke mobil listrik murah Jepang itu.

    Padahal bedanya jauh. Nissan Leaf sekitar 32.250 poundsterling. Sekitar Rp574 juta. Ferrari Luce Rp11,4 miliar.

    Mantan bos Ferrari sendiri ikut kecewa. Luca di Montezemolo sampai berkata: “Kita sedang mempertaruhkan kehancuran sebuah legenda”.

    Pedas sekali. Bahkan ia bilang logo kuda jingkrak Ferrari sebaiknya dicopot saja. Ucapan itu lebih sakit daripada komentar netizen.

    Masalah Ferrari sebenarnya bukan sekadar listrik. Orang sudah tahu Ferrari pasti masuk EV cepat atau lambat.

    Masalahnya: Ferrari mengubah terlalu banyak hal sekaligus. Mobil ini bukan hanya EV pertama Ferrari. Tapi juga Ferrari empat pintu kedua sepanjang sejarah. Dan Ferrari lima penumpang pertama. Penggemar Ferrari sulit menelan banyak hal besar sekaligus.

    Ferrari seperti meninggalkan identitas lamanya. CEO Ferrari Benedetto Vigna sebenarnya sadar itu. Ia malah bilang mobil ini memang dibuat “polarising”. Artinya sengaja bikin orang terbelah.

    Ada yang cinta. Ada yang benci. Strategi dibaliknya ini: mencari pembeli baru. Bukan sekadar penggemar Ferrari lama. Targetnya kaya raya generasi baru.

    Pendiri startup teknologi. Orang-orang yang suka kemewahan diam-diam. Quiet luxury.

    Itu sebabnya desainnya dibuat berbeda.

    Jony Ive —mantan desainer Apple— ikut merancang mobil ini bersama Marc Newson. Maka nuansa Apple sangat terasa.

    Minimalis. Bersih. Tidak banyak sirip. Tidak banyak ventilasi udara besar.

    Menabrak pakem desain Ferrari yang dikenal banyak orang. Spoiler belakangnya bahkan disamarkan. Tampak sederhana. Tapi sebenarnya rumit. Secara teknis, Luce sebenarnya luar biasa.

    Motor listrik ada di setiap roda. 0-100 km/jam hanya 2,5 detik. Nyaris selevel mobil balap.

    Namun masalah EV tetap sama: baterai berat. Karena itu bodinya jadi tinggi. Luce hanya lebih rendah 4 cm dibanding SUV Ferrari Purosangue. Padahal Ferrari sport hybrid F80 lebih rendah 40 cm dari Luce.

    Itulah sebabnya banyak orang merasa ini bukan Ferrari. Lebih seperti sedan mewah Tiongkok yang super cepat.

    Namun Ferrari tampaknya memang sengaja ke arah sana. Pasar Tiongkok jadi target penting. Di sana mobil listrik sudah jadi simbol teknologi dan status sosial.

    Ferrari tahu pasar supercar mesin bensin mulai berubah. Bahkan Mate Rimac —pendiri Rimac Nevera— akhirnya lebih banyak memproduksi mobil bensin/hybrid setelah bergabung dengan Bugatti.

    Ironis memang. Karena EV sangat cepat di garis lurus. Tapi belum tentu menyenangkan di tikungan.

    Itu inti masalah Ferrari. Ferrari bukan sekadar cepat. Ferrari adalah rasa. Raungan mesin. Getaran. Tikungan. Ledakan emosi saat pedal gas diinjak. Dan Luce menghapus sebagian besar itu.

    Namun Ferrari tampaknya yakin. Mereka percaya pembeli baru akan datang. Orang-orang yang dulu tidak pernah membeli Ferrari. Orang kaya teknologi. Pecinta desain minimalis. Atau mereka yang ingin Ferrari tanpa drama suara bising.

    Pertanyaannya tinggal satu: Apakah Ferrari masih Ferrari kalau suara mesinnya hilang dan desainnya berubah drastis?

  • Berkunjung ke ‘Kuil’ Otomotif di Solo

    Berkunjung ke ‘Kuil’ Otomotif di Solo

    Namanya Widodo Teguh. Dikenal lewat ProRock Engineering: bengkel modifikasi off-road, restorasi, dan custom kendaraan di kawasan Pabelan, Solo (Surakarta), Jawa Tengah.

    Tapi, banyak yang belum kenal Making Cars. Proyek “gila” berupa museum otomotif yang juga milik Widodo.

    Museumnya berisi mobil-mobil yang tidak sekadar tua. Tapi punya nyawa. Punya cerita sejarah. Ada banyak model, merek, dan mobil yang sangat langka. Bahkan pertama saya melihatnya. Benar-benar menjadi “kuil” otomotif di Solo.

    Kesana pun karena diajak “warlok” Pak Gub @ridwanhr setelah bersama-sama mengisi acara di iNews Campus Connect (ICC) 2026 di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).

    Sebelumnya makan siang dulu di Warung Sate Kambing Mas Mardi, yang dagingnya empuk gurih. Lantas diantarkan ke Stasiun Balapan.

    Dan masih repot-repot dibawakan oleh-oleh dua dus Surabi Solo dari temannya, Sukma. Baik banget. Terima kasih buat hospitality-nya Pak Gub!

  • Laporan dari Tiongkok #6: Mobil Tidak Lagi Butuh Sopir, Bisa Berpikir dan Mengambil Keputusan Sendiri

    Laporan dari Tiongkok #6: Mobil Tidak Lagi Butuh Sopir, Bisa Berpikir dan Mengambil Keputusan Sendiri

    Mobil tidak lagi butuh sopir. Sebentar lagi, mungkin juga tidak butuh peta.

    Itu yang terasa di Beijing Auto Show 2026.

    China sudah menang di mobil listrik. Butuh 25 tahun.

    Sekarang mereka tidak mau menunggu selama itu lagi.

    Target berikutnya: AI di semua mobil.

    Pemerintah China sudah memberi arah. Namanya: “AI Plus”. AI harus masuk ke semua sektor. Termasuk otomotif.

    Tujuannya jelas: lepas dari ketergantungan chip Amerika.

    Sudah tidak ada lagi batas antara perusahaan mobil dan perusahaan teknologi. “Sudah tidak ada bedanya,” kata Stephen Ma dari Nissan China.

    Kalimat itu sederhana. Tapi artinya dalam.

    Xpeng sudah memulai. Mobilnya tidak perlu koordinat. Cukup bilang: “Parkir dekat pintu masuk mall.” Mobil akan cari sendiri.

    Xiaomi lebih jauh lagi. Lewat HyperOS. Mobil bisa: pesan restoran, order kopi, mencatat aktivitas, bahkan membaca emosi pengemudi. Kalau Anda stres, mobil akan menenangkan Anda.

    Konsep ini mengingatkan saya ke Honda NeuV (New Electric Urban Vehicle) saat meliput Tokyo Motor Show 2020 dulu.

    Saat itu Honda sudah punya konsep “emotion engine”. Lewat AI, mobil jadi teman pengemudi: tahu kapan marah, sedih, senang.

    Kata Dan Hearsch dari AlixPartners: AI di mobil China dibuat agar “lebih mudah dikendarai, lebih mudah diajak berinteraksi,”.

    Raja teknologi China Huawei siapkan investasi besar. Lebih dari USD 10 miliar. Sekitar Rp170 triliun. Untuk satu hal: komputasi mobil pintar. Karena perang berikutnya adalah ini: chip.

    Selain Xpeng dengan chip Turingnya, BYD, Geely, NIO, mulai bikin chip sendiri. Tujuannya sederhana: tidak tergantung perusahaan Amerika Nvidia.

    Horizon Robotics meluncurkan Starry 6. Satu chip. Tapi bisa mengatur: mengemudi, kabin, hingga 12 layar sekaligus. Mobil berubah jadi komputer berjalan.

    Lalu Chery. Mereka tidak mau ketinggalan. Malah lompat lebih jauh. Tidak lagi mau disebut pabrikan mobil.

    Mereka ingin jadi: AI-driven global technology ecosystem. Strateginya sudah lama.

    2014–2020: kumpulkan teknologi

    2021–2024: mulai diterapkan

    2026: AI jadi pusat segalanya

    Mereka masuk fase baru. Namanya: AI 2.0 Slogannya: AI untuk manusia. Sistemnya lengkap. Ada:

    AI Power

    AI Chassis

    AI Cockpit

    AI Pilot

    AI Safety

    Semua dikendalikan satu otak: Chery AIOS. Datanya tidak kecil. Menganalisa 6,8 juta kendaraan. 21 juta klip video.

    Model AI: 14 miliar sampai 20 miliar parameter. Mobil belajar dari dunia nyata.

    Hasilnya: Falcon Pilot. Mobil bisa berpikir. Tidak butuh peta HD. Bisa mengambil keputusan sendiri.

    Target berikutnya: Robocar ONE. Produksi massal: kuartal 4 2026. Level otonom: L2 sampai L4. Sistem lengkap: rem, kemudi, daya, sensor — semua ada cadangan.

    AI juga masuk ke baterai. Chery melakukan 1 juta iterasi desain.

    Hasilnya: Baterai solid-state.

    Jarak: 1.000 km.

    Energi: ≥400 Wh/kg.

    Kapasitas: 60 Ah

    Target validasi: 2027.

    Bahkan produksi mobil ikut berubah. Dengan Digital Twin: Analisis kecelakaan 100x lebih cepat.

    Simulasi berkurang 60%. Waktu pengembangan turun 30%. Bobot mobil lebih ringan 10%.

    Kata sekjen OICA (Gaikindo level dunia) Francois Roudier:“Ini bukan transisi. Ini revolusi.”

    Memang terasa seperti itu. Dulu mobil hanya alat. Sekarang mobil jadi agen.

    Bisa berpikir.

    Bisa belajar.

    Bisa mengambil keputusan.

    Kalau ini benar-benar terjadi, yang berubah bukan hanya mobil. Tapi seluruh industri otomotif dunia.

  • Laporan dari Tiongkok #5: Yin Tongyue Ingin Chery Sejajar dengan Toyota dan Apple

    Laporan dari Tiongkok #5: Yin Tongyue Ingin Chery Sejajar dengan Toyota dan Apple

    Pendiri Chery Yin Tongyue tidak sedang membual. Angkanya bicara sendiri.

    Tahun 2025 menjadi saksi betapa Chery Motor Indonesia sudah “meledak”.

    Penjualan pabrikan mobil dari kota kecil Wuhu itu tembus 2,8 juta unit.

    Yang luar biasa: hampir 30 persennya adalah kategori NEV (kendaraan energi baru). Mereka sudah ada di 130 negara dengan 14.000 karyawan di luar negeri.

    Tapi bagi Yin, angka cuma akibat. Sebabnya ada pada filosofi.

    Setidaknya ada lima poin besar yang ditekankan Yin Tongyue dalam pidatonya di hadapan 1.000 mitra dari 120 negara yang berkumpul di Wuhu, Anhui, Selasa (28/4):

    1. Inovasi di Atas Profit

    Banyak bos perusahaan hanya pening memikirkan laba. Yin beda.

    Bagi Chery, kemampuan inovasi jauh lebih penting daripada sekadar keuntungan jangka pendek. Tahun ini saja, Chery tidak tanggung-tanggung menggelontorkan investasi 30 miliar Yuan (sekitar Rp69 Triliun).

    Uang sebanyak itu lari ke mana? Ke sistem R&D global “1+7+N”. Mereka meriset segalanya: mulai dari baterai solid-state, energi hijau, hingga chip pintar dan AI.

    Bahkan, mereka membuat arsitektur AI sendiri CheryClaw. Tujuannya satu: memiliki otak terpintar di industri otomotif.

    2. Kualitas Bukan Sekadar Volume

    Yin terang-terangan menyebut satu nama: Toyota. Bahkan Toyota disebut 2 kali dalam pidaotnya. Chery ingin menjadikan standar kualitas tertinggi Toyota sebagai patokan global mereka.

    Chery memperkuat tim kualitas dunia, memperbaiki fisik produk, layanan servis, hingga ketersediaan suku cadang. “Tanpa kualitas, volume penjualan hanya akan jadi beban di masa depan,” beber Yin.

    3. Jalan Bareng Raksasa Dunia

    Chery sadar mereka tidak bisa pintar sendirian. Maka, mereka menggandeng para “naga” teknologi dunia: NVIDIA, Bosch, Qualcomm, CATL, hingga ByteDance (pemilik TikTok).

    Strateginya cerdik: Chery membangun “rak teknologi super” agar mitra-mitra mereka bisa mendapatkan senjata terbaik.

    4. Filosofi “Warga Global”

    Ini yang menarik. Yin memperkenalkan slogan baru: “In somewhere, For somewhere, Be somewhere”. Chery tidak mau cuma datang, jualan, lalu bawa pulang uang ke Tiongkok.

    Mereka ingin menyatu dengan ekosistem industri lokal. Membangun pabrik lokal, memakai rantai pasok lokal, hingga menciptakan lapangan kerja di tempat mereka berjualan.

    Contoh nyatanya adalah proyek EBRO di Spanyol. Mobil Chery harus punya “rasa” lokal.

    5. “Long-termism” dan Silsilah Keluarga

    Yin sangat menyentuh saat bicara soal hubungan jangka panjang. Banyak mitra diler Chery adalah bisnis keluarga yang sudah bekerja sama selama 10 hingga 20 tahun.

    Yin terharu melihat generasi kedua—anak-anak para diler itu—kini sudah menjadi CEO dan bos. “Ini bukan transaksi sekali putus. Ini hubungan selamanya,” beber Yin.

    Berharap Capai Usia 100 Tahun

    Tahun depan, Chery akan merayakan ulang tahun ke-30. Ambisi Yin Tongyue sudah melampaui aspal jalanan.

    Ia ingin Chery sejajar dengan Apple dan Toyota—menjadi merek kelas atas dunia yang punya pengaruh global.

    Yin ingin Chery menjadi perusahaan yang hidup 100 tahun atau lebih.

    Pesannya kepada tim Chery International: harus benar-benar internasional, menghormati mitra, dan mau mendengarkan masukan pengguna.

  • Laporan dari Tiongkok #4: Masuk Ruang Tabrak Chery di Wuhu: Tiggo 7 Pro Ditabrakkan ke Tiggo 9 di Kecepatan 50 Kpj!

    Laporan dari Tiongkok #4: Masuk Ruang Tabrak Chery di Wuhu: Tiggo 7 Pro Ditabrakkan ke Tiggo 9 di Kecepatan 50 Kpj!

    Saya sedang di Wuhu. Di markas Chery. Di sebuah gedung seluas 32.000 meter persegi. Namanya: Crash Test Center. Investasinya tidak main-main: 150 juta Yuan (Rp328 miliar).

    Isinya? Alat-alat canggih untuk menghancurkan mobil.

    Minggu (26/4) siang, Chery melakukan live crash test. Kecepatannya 50 km/jam. Mobil yang dikorbankan ada 2: Tiggo 9 dan Tiggo 7 Pro bensin.

    Tiggo 7 Pro diluncurkan hingga 50 km/jam menabrak Tiggo 9 yang diam. Moncong mobil sama-sama hancur. Ini horror. Tapi, ternyata baik Tiggo 9 dan Tiggo 7 Pro sama-sama lulus. Pilar A dan B tetap tegak. Tidak bengkok.

    Kabin tetap utuh. Pintu masih bisa dibuka. Itu kuncinya: kalau terjadi kecelakaan, penumpang harus bisa keluar. Atau dikeluarkan.

    Kenapa Chery begitu ambisius? Targetnya jelas: bintang lima. Baik itu ANCAP maupun Euro NCAP.

    Di situ saya baru paham: crash test bukan tontonan tabrak-tabakan. Ini laboratorium hidup dan mati. Yang dinilai bukan bodi penyok. Tapi apakah penumpang masih punya ruang hidup.

    Apakah pilar A patah.

    Pilar B melintir.

    Pilar C meleyot.

    Apakah pintu masih bisa dibuka walau bonet mobil remuk?

    Apakah sabuk pengaman menarik tubuh sepersekian detik lebih cepat?

    Apakah airbag mekar tepat waktu?

    Itu semua diuji.

    Menariknya, bodi Tiggo 9 disebut memakai 85 persen high-strength steel.

    Orang sering salah paham. Makin keras baja bukan berarti makin aman. Yang penting distribusi kekuatan.

    Area depan boleh remuk. Kabinnya tidak boleh. Ini filosofi crash structure.

    Ada bagian yang memang dikorbankan agar energi benturan habis sebelum masuk kabin.

    Di situlah mahalnya rekayasa.

    Bukan di layar 15 inci.

    Bukan di sunroof.

    Bukan di ambient light.

    Tapi di bagian yang tak terlihat. Yang baru terasa saat kecelakaan.

    Fasilitas Wuhu ini juga dipakai memvalidasi standar lima bintang. Termasuk target memenuhi standar mirip ANCAP dan Euro NCAP.

    Standar yang menilai empat hal:

    Perlindungan dewasa.

    Perlindungan anak.

    Perlindungan pengguna jalan lain.

    Dan safety assist.

    Bukan cuma tabrakan. Tapi kecerdasan mencegah tabrakan. Crash test membaca seluruh filosofi mobil.

    Banyak yang ribut layar besar. Ribut fitur. Ribut harga. Padahal bagian yang tak kalah penting ada di las. Di struktur. Di laboratorium.

    Setelah mengunjungi laboratorium Wuhu pesan Chery jelas: Mereka tidak hanya ngejar murah. Tapi juga legitimasi dan kepercayaan. Yang tidak bisa dibeli dengan iklan.

    Tapi, harus dibuktikan dengan benturan. Berkali-kali.

  • Laporan dari Tiongkok #3 : Kisah Nekat Wuhu Membangun Imperium Chery Group

    Laporan dari Tiongkok #3 : Kisah Nekat Wuhu Membangun Imperium Chery Group

    Chery Group Chery Motor Indonesia tidak lahir di Beijing. Bukan juga di Shanghai, pusat industri terbesar di China itu.

    Ia lahir di Wuhu. Sebuah kota yang dulu nyaris tidak punya hubungan dengan industri otomotif.

    Tahun 1995. Wuhu hanyalah kota perdagangan dan tekstil di Provinsi Anhui.

    Tidak ada sejarah otomotif.

    Tidak ada pabrik mobil.

    Tidak ada rantai pasok.

    Tapi ada satu hal yang mereka miliki: ambisi besar untuk berubah. Pemerintah kota Wuhu tiba-tiba mengambil keputusan yang tidak biasa. Mereka ingin punya industri sendiri. Bukan industri kecil. Tapi industri berat: otomotif. Pilihan yang sangat berisiko.

    Mereka kemudian merekrut satu orang penting. Namanya Yin Tongyue. Saat itu bekerja di FAW-Volkswagen.

    Masih muda, tapi dikenal sebagai insinyur berbakat. Ia diminta pulang ke kampung halamannya di Anhui.

    Tahun 1997. Wuhu membentuk perusahaan. Namanya belum Chery. Masih Anhui Auto Parts Co., Ltd.

    Modalnya dari pemerintah kota. Bukan dari pusat. Di sinilah titik pembeda utama Chery dibanding pabrikan China lain.

    Jika pabrikan besar seperti SAIC, FAW, Dongfeng, dan Changan adalah “anak pusat”, maka Chery adalah “anak daerah”.

    Konsekuensinya besar. Kalau gagal, bukan hanya perusahaan yang jatuh. Ekonomi kota Wuhu ikut runtuh.

    Maka mereka tidak punya pilihan selain berhasil. Masalahnya banyak. Tidak punya teknologi. Tidak punya fasilitas. Bahkan tidak punya izin produksi nasional. Tapi proyek tetap berjalan.

    Mesin pertama Chery bahkan bukan buatan sendiri.

    Wuhu membeli satu lini produksi mesin bekas dari pabrik Ford di Dagenham, Inggris. Dirakit ulang di China. Di mana? Di gudang-gudang kosong. Di bangunan seadanya.

    Orang dalam Chery menyebut fase ini sebagai “thatched hut spirit” — semangat gubuk jerami.

    Masalah berikutnya lebih serius. Chery tidak bisa menjual mobil secara nasional. Tidak punya lisensi.

    Solusinya unik. Wuhu “menikahkan” Chery dengan SAIC. SAIC mengambil 20 persen saham.

    Sebagai imbalannya, Chery bisa menggunakan lisensi nasional SAIC. Ini jalan pintas untuk bertahan hidup. Meski, hubungan itu tidak berlangsung lama.

    Tahun 2003, Chery sudah cukup kuat. Wuhu membeli kembali saham SAIC. Chery resmi berdiri sendiri. Dari titik ini, karakter Chery terbentuk.

    Berbeda dengan “Big Four” China yang bergantung pada joint venture dengan brand global seperti Volkswagen, GM, atau Toyota, Chery tidak punya kemewahan itu. Mereka dipaksa untuk mengembangkan teknologi sendiri.

    Mulai dari mesin ACTECO. Transmisi CVT dan DHT. Platform kendaraan. Semua dibangun dari nol.

    Itulah sebabnya Chery sering disebut sebagai “perusahaan para insinyur”.

    Dan semua itu berpusat di satu tempat: Wuhu.

    Wuhu bukan hanya lokasi pabrik. Ia adalah pusat kendali (command center).

    Di sana ada Longshan R&D Center. Salah satu pusat riset terbesar di China.

    Struktur global Chery pun unik. Mereka menyebutnya model “1+7+N”.

    Satu pusat utama di Wuhu. Tujuh pusat riset global — termasuk di Frankfurt, Barcelona, dan Sao Paulo. Dan jaringan tambahan di berbagai negara.

    Tapi semua tetap kembali ke Wuhu. Tidak hanya riset. Wuhu juga menjadi pusat integrasi industri Chery.

    Di sana ada galangan kapal. Bisnis properti. Layanan keuangan. Semua saling terhubung.

    Inilah yang membuat Chery berbeda. Mereka membangun ekosistem, bukan sekadar pabrik.

    Keterbatasan di dalam negeri juga membentuk strategi global mereka. Karena tidak punya dominasi seperti pemain besar di China,

    Chery memilih keluar. Ekspor pertama dilakukan tahun 2001 ke Suriah.

    Bukan pasar besar. Tapi awal dari strategi global. Hasilnya sekarang terlihat.

    Selama 22 tahun berturut-turut, Chery menjadi eksportir mobil nomor satu dari China.

    Dan Wuhu menjadi titik awal semua pencapaian itu. (*)