Penulis: Cakdan

  • Subaru Pasang Harga Rp1,2 Miliar untuk WRX Edisi Ceri

    Subaru Pasang Harga Rp1,2 Miliar untuk WRX Edisi Ceri

    Subaru Indonesia meluncurkan Subaru WRX STI Cherry Red Sport Edition seharga Rp1,2 miliar on the road Jakarta, Sabtu (3/10/2026). Edisi khusus ini hadir ketika penjualan Subaru merosot di tengah pasar mobil nasional yang tumbuh.

    Peluncuran berlangsung dalam ajang SUBARUVERSE yang digelar PT Plaza Auto Mega, agen pemegang merek Subaru di Indonesia sejak Februari 2020.

    Mobil ini dibangun dari Subaru WRX Sedan bertransmisi CVT dengan warna dasar Ceramic White dan aksen Cherry Red, warna identitas STI (Subaru Tecnica International).

    Paket eksteriornya meliputi STI Spoiler Front, Side, Rear Quarter, dan Rear Under Diffuser, skirt lip, door mirror cover, Dry Carbon Rear Spoiler, serta Sports Grille STI.

    Untuk pengendalian, Subaru memasang Flexible Tower Bar for CVT, Flexible Draw Stiffener Rear, dan pelek Enkei PF09 R18x9.0. Detail lain berupa battery holder, tutup oli dan radiator STI, STI Shift Knob, STI Valve Cap Set, dan STI Door Handle Protector.

    Daftar itu menunjukkan label STI pada mobil ini merujuk pada paket aero dan komponen sasis, bukan perubahan mesin.

    Basisnya pun CVT, berbeda dari WRX STI generasi lama yang identik dengan transmisi manual.

    Sebagai pembanding, WRX tS EyeSight dibanderol Rp994,5 juta, sehingga paket Cherry Red menambah sekitar Rp205,5 juta.

    Edisi khusus menjadi strategi Subaru menjaga daya tarik merek. Pada GIIAS 2026, Subaru juga meluncurkan WRX Wagon STI Cherry Blossom Special Edition seharga Rp1,262 miliar.

    Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat wholesales Subaru pada Januari-Agustus 2026 hanya 127 unit, turun 36,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Penjualan ritelnya turun 45,3 persen. Hingga Juli, ritel Subaru 93 unit, dari 154 unit setahun sebelumnya.

    Penurunan itu berlawanan dengan arah pasar. Wholesales nasional Januari-Agustus 2026 naik 20,1 persen menjadi 599.491 unit, didorong mobil listrik berbaterai (BEV) yang mencapai 101.171 unit atau 16,9 persen pasar. Sepuluh besar BEV seluruhnya diisi merek China. Pangsa Subaru kini sekitar 0,02 persen.

    Executive General Manager Subaru Indonesia Edward Kencono menyebut SUBARUVERSE sebagai cara memperlihatkan banyak sisi Subaru.

    “Dari performa dan petualangan hingga keluarga, lifestyle, dan komunitas, semuanya memiliki satu benang merah, yaitu menghadirkan pengalaman yang memberikan Confidence in Motion untuk setiap perjalanan,” ujarnya.

    Untuk mendongkrak transaksi, diler Plaza Subaru menawarkan bunga 0 persen untuk Outback dan WRX, uang muka ringan khusus Outback, potongan hingga 50 persen untuk Subaru Lifestyle Gear, 15 persen untuk aksesori STI, serta penawaran hingga Rp20 juta untuk paket aksesori STI Forester.

    Pengunjung juga dapat mengikuti test drive dan AWD Challenge untuk menjajal Symmetrical All-Wheel Drive.

    Seluruh mobil Subaru mendapat garansi 3 tahun atau 100.000 kilometer, servis berkala gratis 3 tahun, dan Subaru Roadside Assistance 5 tahun.

    Fakta kunci

    1. Harga: WRX STI Cherry Red Sport Edition dijual Rp1,2 miliar OTR Jakarta, sekitar Rp205,5 juta di atas WRX tS EyeSight.

    2. Basis: Mobil ini memakai WRX Sedan bertransmisi CVT. Ada 17 komponen STI dan performa, tanpa ubahan mesin.

    3. Sasis: Flexible Tower Bar khusus CVT, Flexible Draw Stiffener Rear, dan pelek Enkei PF09 R18x9.0.

    4. Penjualan: Wholesales Subaru Januari–Agustus 2026 sebanyak 127 unit (turun 36,8 persen), dan ritelnya turun 45,3 persen.

    5. Pasar: Pasar nasional naik 20,1 persen menjadi 599.491 unit, dengan BEV menguasai 16,9 persen.

  • GoPro Sekarat: Dari Bintang Wall Street Rp198 Triliun Jadi Saham Receh

    GoPro Sekarat: Dari Bintang Wall Street Rp198 Triliun Jadi Saham Receh

    Pernah bernilai Rp198 triliun, kini cuma Rp3,38 triliun. GoPro mengaku ragu bisa bertahan setahun lagi.

    GoPro mengaku kepada investornya: mungkin tidak sanggup bertahan 12 bulan ke depan.

    Pengakuan ini bukan main-main. Tertulis resmi. Dalam dokumen 8-K yang diserahkan ke otoritas bursa Amerika (SEC). Tanggal 1 Juni 2026.

    Auditornya, PricewaterhouseCoopers (PwC), memberi peringatan keras: ada “keraguan substansial atas kemampuan perusahaan untuk melanjutkan usaha”.

    PwC sudah mengaudit GoPro sejak 2011. Jadi mereka tahu betul kondisinya.

    Alasannya: rugi operasi terus-menerus. Arus kas negatif. Dan utang yang jatuh tempo dalam setahun.

    GoPro rugi bersih USD93,5 juta — sekitar Rp1,68 triliun — sepanjang 2025. Tahun sebelumnya lebih parah: rugi USD432,3 juta, atau sekitar Rp7,78 triliun, di 2024.

    Penjualan turun. Lalu ada beban baru: harga komponen memori naik 80 sampai 110 persen. Pasokannya pun berkurang — imbas krisis chip akibat ledakan AI. April dan Mei 2026 disebut “makin lesu”.

    Pasar langsung bereaksi. Saham GoPro (NASDAQ: GPRO) jatuh dari USD1,26 (sekitar Rp22.680) pada Jumat pekan lalu ke sekitar USD1,10 (Rp19.800) di Senin. Selasa pagi di kisaran USD1,11 (Rp19.980).

    Ini saham receh. Penny stock. Padahal dulu lain ceritanya.

    GoPro lahir dari karet gelang dan papan selancar. Pendirinya Nick Woodman. Lulusan seni rupa UC San Diego tahun 1997. Idenya muncul saat berselancar di Australia dan Indonesia pada 2002. Ia mengikat kamera 35 mm ke pergelangan tangannya. Untuk merekam dirinya sendiri di air sambil berselancar.

    Modalnya pinjaman: sekitar USD235.000 (Rp4,23 miliar) dari orang tuanya. Sambil jualan kalung manik-manik dan kerang dari dalam mobil Volkswagen. Kamera GoPro pertama dijual sekitar USD30 — kira-kira Rp540.000.

    Ini percobaan ketiga Woodman bikin startup. Dua sebelumnya gagal. Termasuk usaha gim bernama Funbug, yang ambruk pada 2001 dan menelan uang investor USD3,9 juta (Rp70,2 miliar). Ketakutan gagal lagi itulah, kata Woodman, yang membuatnya ngotot.

    GoPro melantai di bursa pada 26 Juni 2014. Harga perdananya USD24 (Rp432.000) per lembar. Investor suka konsepnya: perusahaan hardware yang sekaligus merek media. Videonya ditonton miliaran kali di YouTube.

    Hari pertama saja sudah meroket. Ditutup di USD31,34 (Rp564.120). Nilai perusahaan hampir USD4 miliar — sekitar Rp72 triliun.

    Puncaknya 7 Oktober 2014. Saham tembus rekor USD93,85 (Rp1.689.300). Nilai pasar GoPro lewat USD11 miliar. Setara Rp198 triliun.

    Woodman sempat jadi CEO bergaji tertinggi di Amerika. Paket saham terbatasnya, di akhir 2014, ditaksir USD284,5 juta — sekitar Rp5,12 triliun. Nomor satu di Bloomberg Pay Index.

    Lalu mulai merosot.

    Penyebabnya klasik. Kamera ponsel makin bagus. Orang biasa tak lagi butuh kamera terpisah. Pesaing murah menggerogoti dari bawah.

    Taruhan besar GoPro untuk melebar gagal total: drone Karma. November 2016 ditarik dari pasaran. Sekitar 2.500 unit. Sebabnya: kehilangan daya saat terbang — sebagian jatuh dari langit. Lini drone itu dihentikan pada 2018.

    Saat itu, gaji tunai Woodman dipangkas jadi USD1 saja — Rp18.000. Lebih dari 20 persen karyawan dirumahkan.

    Kini tekanan datang lagi. GoPro sudah memangkas 23 persen karyawannya. Juga sedang menimbang tawaran untuk menjual perusahaan.

    Saya memakai GoPro sejak 2012. Modelnya GoPro Hero 3+. Waktu itu GoPro satu-satunya pilihan. Satu-satunya action cam yang terlihat sangat keren. Dibantu banjir konten video di media sosial yang semuanya pakai GoPro.

    Tapi konten saja tidak cukup. Kualitas hardware tetap penting. Di situlah DJI masuk. Mendobrak pasar yang dulu dikuasai mutlak GoPro.

    DJI membawa solusi atas hal yang gagal dibenahi GoPro. Masalahnya di chip kamera yang uzur. Perkembangan kualitas gambar jadi lambat. Dari satu model ke model berikutnya nyaris tidak ada pembaruan berarti. Belum lagi kamera yang gampang panas— overheating.

    DJI juga menguasai pasar drone. Lagi-lagi area yang gagal ditembus GoPro lewat drone Karma. Lagi pula, milih nama kok Karma.

    Dan ini yang terpenting: DJI punya ekosistem terbaik di seluruh produknya. Action camera, drone, wireless microphone, handheld camera — semua nyambung mulus. Aplikasinya solid, minim bug. GoPro tidak punya itu.

    Tapi GoPro belum tentu kiamat.

    Dokumen seperti ini tidak otomatis berarti bangkrut. GoPro sendiri menegaskan: belum ada rencana spesifik mengajukan kebangkrutan. Tanpa pendanaan baru atau suntikan dana, kemampuan bertahannya memang terancam — tapi pintu belum tertutup.

    Ada contoh harapan. Kodak mengajukan pernyataan serupa tahun lalu. Lalu melunasi utang lewat dana pensiun. Akhir tahun justru tumbuh.

    Dan ada satu hal yang luput dari dokumen itu: GoPro Mission 1. Seri kamera baru. Sensornya 1 inci, mampu rekam 8K. Baru mulai dikirim beberapa hari lalu. Termasuk varian Mission 1 Pro.

    Produk baru itu tidak disebut dalam laporan keuangan. Bisa jadi penyelamat. Bisa jadi terlambat. Saya lihat ulasan-ulasan dari reviewer cukup positif. Tanggapan pasar, harusnya juga positif. 

    Meski demikian, melihat ekosistem DJI yang sudah jauh di depan, saya ragu satu kamera bisa membalik keadaan. Masalah GoPro bukan cuma satu produk. Tapi seluruh ekosistemnya.

    Cerita karet gelang dan papan selancar itu belum tamat. Tapi babak ini yang paling berat.

  • Honda di Persimpangan

    Honda di Persimpangan

    Tekanan pasar, perubahan teknologi, dan perbedaan pandangan di internal perusahaan menjadi ujian baru bagi raksasa Jepang ini.

    Nobuhiko Kawamoto datang sendiri ke Tokyo. April lalu. Mantan CEO Honda itu menemui langsung Toshihiro Mibe: “Mundur!” katanya.

    Mibe bergeming.

    Kawamoto bukan sembarang orang. Ia pernah memaksa penerusnya mundur di masa krisis sebelumnya. Pengaruhnya besar.

    Tapi kali ini ia gagal.

    Krisis Honda sudah menumpuk. Pasar China ambruk: dari 8 persen di 2020 jadi kurang dari 3 persen tahun lalu.

    Strategi EV terjun bebas.

    Reuters melaporkan, Honda terpaksa menghapus investasi senilai USD9 miliar—Rp162 triliun—setelah membatalkan tiga model EV yang sedang dikembangkan (Honda 0 Series). Total kerugian diperkirakan USD12 miliar atau Rp216 triliun.

    Ini yang jadi kerugian tahunan pertama Honda dalam tujuh dekade.

    Para sesepuh Honda marah. Sejak akhir tahun lalu mereka bertemu diam-diam. Lewat pesan teks. Lewat makan malam.

    Kadang melibatkan eksekutif yang masih aktif. Tuduhan mereka terang-terangan.

    “CEO tidak melihat kondisi lapangan, tidak mendengarkan pelanggan, tidak turun ke genba,” begitu ringkasan diskusi mereka.

    Genba—tempat kerja sesungguhnya—adalah prinsip sakral Honda sejak zaman Soichiro Honda.

    China jadi simbol kegagalan itu.

    Mibe jarang hadir di pameran otomotif Shanghai—event terbesar industri yang selalu dihadiri bos-bos rival.

    Covid sempat membatasi perjalanan. Tapi setelah itu pun Mibe tetap jarang ke sana.

    Strategi EV Mibe ambisius. Ia berjanji Honda full electric pada 2040. Bulan lalu Honda menarik janji itu.

    Saya dua kali bertemu langsung dengan CEO Honda itu di Jepang.

    Di 2023, pertanyaan saya kepada Mibe: “Bagaimana tanggapan Anda tentang mobil listrik China?”. Karena saat itu saya prediksi mobil China bakal meledak.

    Di 2025, saya bertanya ini: “Honda pernah punya robot humanoid ASIMO, mengapa tidak dikembangkan lagi dan malah fokus pada eksplorasi luar angkasa (roket)?”. Sebab, pabrikan otomotif China seperti XPeng membuat robot humanoid yang sangat canggih.

    Honda bukan satu-satunya yang tertatih tatih dengan EV. Ford, GM, dan Nissan sudah lebih dulu menghapus total lebih dari USD25 miliar—Rp450 triliun—dari rencana EV yang dibatalkan.

    Mibe sempat ditawari jalan keluar: bank Jepang mengusulkan agar divisi EV Honda dipinang investor luar. Beban berat bisa berkurang.

    Mibe menolak. Honda akan menyelesaikan sendiri, katanya.

    Sebagai konsekuensi kerugian, Mibe menerima pemotongan gaji 30 persen selama tiga bulan.

    Mibe punya rencana pemulihan. Ia berjanji memangkas 30 persen biaya powertrain hybrid baru.

    Ia juga memindahkan insinyur pengembangan mobil kembali ke anak perusahaan R&D—membalik kebijakan era sebelumnya.

    Saat pabrikan China berlari kencang dengan mobil listrik murah dan penuh software, Honda terasa lambat bergerak.

    Toyota dan Nissan sudah lebih dulu berkolaborasi dengan mitra lokal untuk membuat mobil listrik sesuai selera konsumen China. Honda baru mulai melakukan langkah serupa tahun ini.

    Masalah lain muncul dari budaya perusahaan.

    Honda selama puluhan tahun dikenal sebagai surga para insinyur.

    Budaya itu mulai terkikis.

    Sebagian mantan petinggi mengeluhkan makin banyak pekerjaan desain komponen diserahkan ke pemasok. Akibatnya biaya sulit dikendalikan.

    “Kemampuan Honda mengembangkan mobil menurun, tetapi biayanya tidak,” kata analis SBI Securities, Koji Endo.

    Ironisnya, yang justru menyelamatkan Honda saat ini adalah divisi sepeda motor.

    Tahun lalu divisi motor mencetak laba rekor USD4,6 miliar atau sekitar Rp82,8 triliun. Sementara bisnis mobil menjadi sumber tekanan.

    Di internal perusahaan mulai muncul perasaan tidak nyaman.

    Divisi motor merasa mereka ikut menopang kerugian bisnis mobil.

    Honda adalah pembuat mesin terbesar di dunia—dari mesin pemotong salju, roket, sampai jet. Civic dan Accord adalah dua mobil terlaris sepanjang sejarah.

    Warisan itu besar sekali. Tapi apakah cukup untuk bertahan?

    Jeffrey Rothfeder, penulis buku Driving Honda, bahkan pesimistis. “Saya tidak tahu jalan keluarnya bagi mereka,” katanya.

    Kalimat itu terasa keras. Tapi mungkin memang menggambarkan posisi Honda saat ini.

    Dulu Honda terkenal karena mesin.

    Dulu Honda terkenal karena keberanian insinyurnya.

    Dulu Honda terkenal karena selalu berbeda.

    Kini tantangannya berubah.

    Bukan lagi membuat mesin terbaik.

    Melainkan bertahan hidup di era ketika software, baterai, dan kecepatan inovasi menjadi penentu.

    Dan di situlah Honda sedang diuji. (*)

  • Nvidia RTX Spark: Komputer Tidak Akan Sama Lagi

    Nvidia RTX Spark: Komputer Tidak Akan Sama Lagi

    Dunia komputer sebenarnya sudah lama terbelah dua. Yang satu bernama x86. Yang satu lagi ARM. Selama puluhan tahun batasnya sangat jelas.

    Kalau bicara laptop dan PC? Rajanya Intel dan AMD.

    Kalau bicara smartphone? Rajanya ARM (Advanced RISC Machine).

    Tidak pernah saling ganggu. Tidak pernah saling rebut wilayah. Sampai akhirnya Apple membuat kekacauan.

    Bayangkan begini: Ada dua koki. Koki pertama bekerja di restoran Padang. Koki kedua bekerja di restoran fast food.

    Koki restoran Padang itu x86. Intel dan AMD. Ia kuat. Bisa mengangkat banyak pekerjaan sekaligus. Pesanan rumit datang. Langsung dihajar sekaligus. Cepat selesai.

    Tapi ada harga yang harus dibayar. Ia cepat lelah. Cepat panas. Butuh pendingin. Butuh energi besar. Butuh listrik banyak.

    ARM berbeda. Ia seperti koki restoran cepat saji. Tugasnya dibuat sederhana. Tidak mengangkat beban besar sekaligus.

    Tapi kerjanya sangat efisien. Sangat hemat tenaga. Sangat hemat listrik. Karena itulah smartphone bisa hidup seharian. Tidak ada kipas. Tidak berisik. Tidak panas seperti laptop gaming.

    Dulu orang menganggap ARM cuma cocok untuk HP. Tidak cocok untuk pekerjaan berat. Tidak cocok untuk komputer serius.

    Lalu Apple datang. Apple membuat chip M1. Kemudian M2. M3. Dan sekarang M4.

    Tiba-tiba dunia kaget. Laptop tanpa kipas. Baterai tahan belasan hingga puluhan jam.

    Tetapi performanya bisa mengalahkan laptop mahal berbasis Intel. Saat itulah industri sadar. ARM bukan lagi pemain kelas dua.

    Kini Nvidia melakukan langkah yang sama. Lewat RTX Spark.

    Bedanya, Nvidia bawa senjata yang tidak dimiliki Apple. AI. Dan GPU. Dalam jumlah besar.

    Apple menjual laptop yang cepat dan hemat.

    Nvidia ingin menjual laptop yang cepat, hemat, sekaligus bisa menjadi “rumah” bagi AI Agent.

    Itulah sebabnya bos Nvidia Jensen Huang menyebut RTX Spark sebagai “reinvention of PC”. Penemuan ulang komputer.

    Bukan karena prosesornya lebih cepat. Tapi karena fungsi komputernya berubah.

    Dulu komputer menunggu manusia bekerja.

    Sekarang komputer mulai bekerja untuk manusia.

    Dulu Anda membuka aplikasi. Besok AI Agent yang membuka aplikasi.

    Dulu Anda mencari data. Besok AI Agent yang mencari data.

    Dulu Anda membuat presentasi. Besok AI Agent yang membantu membuatkannya.

    Itulah mimpi Nvidia. Dan RTX Spark adalah fondasinya.

    Kalau dianalogikan lebih sederhana lagi:

    Intel dan AMD selama ini seperti mesin V8. Tenaganya besar. Suaranya menggelegar. Tapi bensinnya boros.

    ARM seperti mesin hybrid modern. Lebih senyap. Lebih irit. Lebih efisien. Dan sekarang tenaganya mulai menyamai mesin besar tadi.

    Inilah yang membuat Intel dan AMD berkeringat. Karena untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, wilayah kekuasaan mereka mulai dimasuki pendatang baru.

    Bukan dari Qualcomm.

    Bukan dari Apple.

    Tapi dari Nvidia. Perusahaan yang saat ini menjadi raja AI dunia. (*)

  • Honda Kaget, Volkswagen Belajar: China Kini Jadi Guru Industri Mobil Dunia

    Honda Kaget, Volkswagen Belajar: China Kini Jadi Guru Industri Mobil Dunia

    Dulu dunia mengajari China membuat mobil. Sekarang dunia datang ke China untuk belajar.

    Honda datang ke Shanghai. Lalu pulang dengan wajah murung.

    Bukan karena mobilnya tidak laku. Tapi karena melihat pabrik mobil China.

    Saking canggihnya. Saking otomatisnya. Saking cepatnya.

    Sampai CEO Honda Toshihiro Mibe berkata kepada media Jepang: “Kami tidak punya kesempatan melawan ini.”

    Kalimat itu berat. Karena keluar dari mulut bos salah satu perusahaan otomotif terbesar di dunia.

    Dulu China adalah murid. Sekarang China menjadi guru. Dulu pabrikan Barat mengajari mereka membuat mobil.

    Sekarang pabrikan Barat belajar bagaimana membuat mobil dari mereka.

    Perubahannya sangat cepat. Bahkan terlalu cepat.

    Saya berkunjung ke Auto China 2026. Pameran otomotif terbesar di dunia. Saya melihat sesuatu yang membuat banyak pabrikan global gelisah.

    Mobil bukan lagi sekadar mesin. Mobil berubah menjadi komputer beroda. Atau lebih tepatnya: smartphone yang bisa berjalan.

    Itulah yang sedang dikerjakan China. Mereka tidak hanya membuat mobil. Mereka membuat ekosistem.

    Mobil. Telepon genggam. Rumah pintar. Aplikasi. Robot. Semuanya terhubung.

    Lihat Xiaomi. Baru bikin mobil sejak 2024. Tapi kini sudah menjadi salah satu merek mobil listrik terlaris di China.

    Strateginya sederhana. Kalau ponsel Xiaomi bisa bicara dengan smart home Xiaomi. Maka mobil Xiaomi juga harus bisa bicara dengan keduanya. Satu ekosistem. Satu aplikasi. Satu kehidupan digital.

    Kecepatannya juga mengagetkan.

    Di pabrik Xiaomi dekat Beijing, satu mobil keluar dari jalur produksi setiap 76 detik.

    Bukan setiap jam. Bukan setiap beberapa menit. Tapi setiap 76 detik.

    Di Hefei, pabrik Nio bahkan hampir sepenuhnya otomatis. Robot bekerja. Manusia mengawasi. Bukan sebaliknya.

    BYD lebih ekstrem lagi. Mereka sudah memiliki teknologi pengisian daya ultra cepat.

    Dalam lima menit. Ya, lima menit. Mobil bisa mendapat tambahan jarak tempuh 400 kilometer. Hampir sama dengan waktu mengisi bensin.

    400 kilometer itu setara perjalanan Jakarta-Semarang. Setara menunggu kopi Starbucks selesai dibuat barista.

    China juga unggul dalam biaya produksi.

    Menurut International Energy Agency, biaya membuat SUV listrik kecil di China setidaknya 30 persen lebih murah dibanding negara maju.

    Salah satu penyebabnya adalah baterai.

    Penyebab lain: rantai pasok. Semuanya ada. Semuanya dekat. Semuanya terintegrasi.

    Keunggulan itu tidak datang tiba-tiba.

    Riset Rhodium Group menyebut pemerintah China menggelontorkan puluhan miliar dolar untuk industri kendaraan listrik dan baterai. Puluhan miliar dolar.

    Jika dikonversi ke rupiah nilainya mencapai ratusan triliun rupiah. Hasilnya mulai terlihat sekarang.

    Dampaknya terasa di mana-mana. Pangsa pasar merek asing di China turun drastis.

    Tahun 2020 masih 64 persen. Tahun ini tinggal 32 persen. Hilang separuh. Dalam lima tahun.

    General Motors terpukul. Pabrikan Jerman terpukul. Pabrikan Jepang juga terpukul. Bahkan merek mewah ikut terpukul.

    Ada mobil baru bernama Maextro S800. Buatan Huawei. Mobil sedan mewah ini kini menjadi mobil terlaris di China untuk segmen harga di atas USD100.000. Setara sekitar Rp1,78 miliar.

    Mobil itu mengalahkan Porsche Panamera.

    Mengalahkan BMW Seri 7. Dua nama yang dulu hampir tak tersentuh di pasar premium China.

    Ford juga mulai khawatir. CEO Ford Jim Farley mengatakan: “Kami sedang berjuang untuk hidup kami.”

    Bukan kalimat yang biasa keluar dari bos perusahaan sebesar Ford.

    Maka hubungan antara Barat dan China ikut berubah. Dulu Barat membawa teknologi. China menyediakan pabrik.

    Sekarang kebalikannya mulai terjadi. Volkswagen membayar USD700 juta kepada XPeng. Setara sekitar Rp12,46 triliun.

    Tujuannya bukan membeli pabrik. Bukan membeli saham. Tapi membeli akses teknologi software dan sistem mengemudi otomatis.

    Karena mereka merasa terlalu lambat mengembangkannya sendiri.

    Stellantis juga berubah. Mereka menandatangani kerja sama senilai 1 miliar euro.

    Setara sekitar Rp20,6 triliun. Dengan Dongfeng. Mobil China bahkan akan diproduksi di Eropa.

    Situasi yang sulit dibayangkan sepuluh tahun lalu. Namun bukan berarti China tanpa masalah.

    Pasar domestik mereka mulai melambat. Perang harga membuat margin keuntungan menipis.

    Kapasitas produksi terlalu besar. Mobil terlalu banyak. Persaingan terlalu keras. Karena itu mereka keluar.

    Menyerbu pasar dunia. BYD. Chery. SAIC. XPeng. Geely. Satu per satu.

    Masuk Eropa.

    Masuk Timur Tengah.

    Masuk Amerika Selatan.

    Masuk Asia Tenggara. Termasuk Indonesia.

    Jaecoo 7 hanya dalam 14 bulan sudah menjadi salah satu mobil baru terlaris di Inggris. Jaecoo J5 juga memimpin penjualan mobil listrik di Indonesia lebih dari 4 bulan berturut-turut.

    Padahal mereknya nyaris tidak dikenal sebelumnya.

    Sepanjang 2025 penjualan mobil di Indonesia turun. Tapi, pangsa pasar mobil China di Indonesia naik lebih dari 2x. Sudah tembus 15% (113.258 unit) di 2025 dari hanya 6,2% di 2024.

    Amerika memang masih menutup pintu. Tarif impor mobil China di sana bisa lebih dari 100 persen.

    Tapi dunia lebih luas daripada Amerika. Dan China tahu itu.

    Analis otomotif Bill Russo punya kesimpulan menarik. Kesalahan terbesar dunia Barat adalah mengira transisi ini hanya soal mobil listrik.

    Padahal bukan. Ini soal siapa yang akan memimpin teknologi mobilitas generasi berikutnya.

    Dan saat ini. Pusat gravitasinya sudah bergeser. Ke China. (*)

  • Ferrari Luce: Mobil Keluarga Rp11 Miliar yang Bikin Penggemar Ngamuk

    Ferrari Luce: Mobil Keluarga Rp11 Miliar yang Bikin Penggemar Ngamuk

    Ferrari akhirnya membuat mobil listrik. Masalahnya: banyak orang merasa itu bukan lagi Ferrari.

    Ferrari akhirnya menyerah juga. Bukan menyerah kalah. Tapi menyerah pada zaman. Maka lahirlah Ferrari listrik pertama: Luce.

    Dibaca: lu-chey. Artinya: cahaya. Harganya juga bikin mata silau: USD640.000. Kalau dirupiahkan sekitar Rp11,4 miliar.

    Namun yang bikin gaduh bukan harganya. Melainkan bentuknya. Dan jiwanya.

    Ferrari selama ini identik dengan dua hal: suara mesin dan bentuk agresif, sporty, mewah. Luce justru datang tanpa keduanya.

    Tidak ada raungan V8. Tidak ada V12. Tidak ada knalpot. Yang ada justru kabin senyap.

    Lebih mengejutkan lagi: Ferrari ini punya empat pintu dan lima kursi. Seperti mobil keluarga.

    Itulah yang membuat banyak penggemar Ferrari marah. Harga saham Ferrari bahkan langsung turun 8 persen setelah peluncuran.

    Di media sosial lebih kasar lagi. Ada yang bilang mobil itu mirip Nissan Leaf.

    Apalagi warna biru pastel saat peluncuran memang mengingatkan ke mobil listrik murah Jepang itu.

    Padahal bedanya jauh. Nissan Leaf sekitar 32.250 poundsterling. Sekitar Rp574 juta. Ferrari Luce Rp11,4 miliar.

    Mantan bos Ferrari sendiri ikut kecewa. Luca di Montezemolo sampai berkata: “Kita sedang mempertaruhkan kehancuran sebuah legenda”.

    Pedas sekali. Bahkan ia bilang logo kuda jingkrak Ferrari sebaiknya dicopot saja. Ucapan itu lebih sakit daripada komentar netizen.

    Masalah Ferrari sebenarnya bukan sekadar listrik. Orang sudah tahu Ferrari pasti masuk EV cepat atau lambat.

    Masalahnya: Ferrari mengubah terlalu banyak hal sekaligus. Mobil ini bukan hanya EV pertama Ferrari. Tapi juga Ferrari empat pintu kedua sepanjang sejarah. Dan Ferrari lima penumpang pertama. Penggemar Ferrari sulit menelan banyak hal besar sekaligus.

    Ferrari seperti meninggalkan identitas lamanya. CEO Ferrari Benedetto Vigna sebenarnya sadar itu. Ia malah bilang mobil ini memang dibuat “polarising”. Artinya sengaja bikin orang terbelah.

    Ada yang cinta. Ada yang benci. Strategi dibaliknya ini: mencari pembeli baru. Bukan sekadar penggemar Ferrari lama. Targetnya kaya raya generasi baru.

    Pendiri startup teknologi. Orang-orang yang suka kemewahan diam-diam. Quiet luxury.

    Itu sebabnya desainnya dibuat berbeda.

    Jony Ive —mantan desainer Apple— ikut merancang mobil ini bersama Marc Newson. Maka nuansa Apple sangat terasa.

    Minimalis. Bersih. Tidak banyak sirip. Tidak banyak ventilasi udara besar.

    Menabrak pakem desain Ferrari yang dikenal banyak orang. Spoiler belakangnya bahkan disamarkan. Tampak sederhana. Tapi sebenarnya rumit. Secara teknis, Luce sebenarnya luar biasa.

    Motor listrik ada di setiap roda. 0-100 km/jam hanya 2,5 detik. Nyaris selevel mobil balap.

    Namun masalah EV tetap sama: baterai berat. Karena itu bodinya jadi tinggi. Luce hanya lebih rendah 4 cm dibanding SUV Ferrari Purosangue. Padahal Ferrari sport hybrid F80 lebih rendah 40 cm dari Luce.

    Itulah sebabnya banyak orang merasa ini bukan Ferrari. Lebih seperti sedan mewah Tiongkok yang super cepat.

    Namun Ferrari tampaknya memang sengaja ke arah sana. Pasar Tiongkok jadi target penting. Di sana mobil listrik sudah jadi simbol teknologi dan status sosial.

    Ferrari tahu pasar supercar mesin bensin mulai berubah. Bahkan Mate Rimac —pendiri Rimac Nevera— akhirnya lebih banyak memproduksi mobil bensin/hybrid setelah bergabung dengan Bugatti.

    Ironis memang. Karena EV sangat cepat di garis lurus. Tapi belum tentu menyenangkan di tikungan.

    Itu inti masalah Ferrari. Ferrari bukan sekadar cepat. Ferrari adalah rasa. Raungan mesin. Getaran. Tikungan. Ledakan emosi saat pedal gas diinjak. Dan Luce menghapus sebagian besar itu.

    Namun Ferrari tampaknya yakin. Mereka percaya pembeli baru akan datang. Orang-orang yang dulu tidak pernah membeli Ferrari. Orang kaya teknologi. Pecinta desain minimalis. Atau mereka yang ingin Ferrari tanpa drama suara bising.

    Pertanyaannya tinggal satu: Apakah Ferrari masih Ferrari kalau suara mesinnya hilang dan desainnya berubah drastis?

  • Japanese hybrids are truly built differently.

    Japanese hybrids are truly built differently.

    Japanese hybrids are truly built differently. Silahkan nggak setuju juga boleh. Wkwkwk.

    Harus diakui racikan Jepang—khususnya sistem e:HEV di Honda Civic FL—rasanya beda.

    Ini bukan soal adu besar layar headunit atau kapasitas baterai, tapi Engineering.

    Sensasi Berkendara (Driving Engagement) Civic (karena gue pake juga), rasanya seperti pulang ke rumah. Adem, nyaman, dan damai.

    Seperti makan di Pagi Sore, memang mahal. Tapi selalu bisa memenuhi ekspektasi. Kita tahu akan makan dengan sangat nikmat. Tahu setiap detil lauk yang dipilih. Kikil cabe hijau, ubi tumbuk, ayam goreng.

    Civic e:HEV bukan orang baru. Dia tetap Civic dengan semua sifat-sifatnya yang kita suka dan tidak. Tapi, dalam versi yang jauh lebih baik.

    Pabrikan China banyak fokus pada karakter pure EV—mesin bensin cuma jadi generator malas.

    Di Civic e:HEV, ada Linear Shift Control yang memanipulasi putaran mesin untuk meniru perpindahan gigi transmisi konvensional saat gas diinjak dalam. Plus, saat highway cruising, kopling mekanis mengunci langsung ke mesin 2.0L Atkinson Cycle-nya. Karakter petrolhead-nya tetap hidup!

    Mobil PHEV baterai besar (18-30++ kWh) bikin obesitas. Honda pake baterai Lithium-ion ringkas (hanya ~36 kg) di bawah jok belakang. Jadinya? Pusat gravitasi (center of gravity) makin rendah, sasis tetap rigid, dan handling khas Civic di tikungan tetap tajam tanpa gejala body roll berlebih.

    Memang agak sulit dinalar mobil Rp700 juta tidak ada layar besar, ambient light dan gimmick visual lain. Tidak juga paling cepat di akselerasi 0-100 kpj. Tapi entah kenapa setiap menekan tombol start/stop mobil ini selalu muncul dopamin bahagia.

    “Mobil sport harian yang disempurnakan oleh elektrifikasi” Mungkin terasa gimmick.

    Tapi bagi yang masih mencari presisi kemudi, kematangan racikan sasis, dan fun to drive… racikan Jepang memang masih made different. 🇯🇵⚡️

    Gimana menurut kalian? Tulis di kolom komentar! 👇

  • Berkunjung ke ‘Kuil’ Otomotif di Solo

    Berkunjung ke ‘Kuil’ Otomotif di Solo

    Namanya Widodo Teguh. Dikenal lewat ProRock Engineering: bengkel modifikasi off-road, restorasi, dan custom kendaraan di kawasan Pabelan, Solo (Surakarta), Jawa Tengah.

    Tapi, banyak yang belum kenal Making Cars. Proyek “gila” berupa museum otomotif yang juga milik Widodo.

    Museumnya berisi mobil-mobil yang tidak sekadar tua. Tapi punya nyawa. Punya cerita sejarah. Ada banyak model, merek, dan mobil yang sangat langka. Bahkan pertama saya melihatnya. Benar-benar menjadi “kuil” otomotif di Solo.

    Kesana pun karena diajak “warlok” Pak Gub @ridwanhr setelah bersama-sama mengisi acara di iNews Campus Connect (ICC) 2026 di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).

    Sebelumnya makan siang dulu di Warung Sate Kambing Mas Mardi, yang dagingnya empuk gurih. Lantas diantarkan ke Stasiun Balapan.

    Dan masih repot-repot dibawakan oleh-oleh dua dus Surabi Solo dari temannya, Sukma. Baik banget. Terima kasih buat hospitality-nya Pak Gub!

  • Peluncuran BYD M6 PHEV

    Peluncuran BYD M6 PHEV

    Merasa sangat terhormat ketika diminta BYD Indonesia untuk memberi testimoni terkait kesan pertama mencoba BYD M6 DM-i.

    Di acara peluncuran resmi mobil tersebut di Spike Air Dome, CBD PIK 2, Senin malam. Yang dihadiri lebih dari 600-an diler, media, Board of Director BYD APAC, termasuk Vice President of BYD Global Liu Xueliang. Yang ditayangkan di channel YouTube BYD global.

    Saya tidak sendiri. Tapi, bersama Michele dari Suara.com, yang timnya memenangkan tantangan paling irit saat test drive BYD M6 DM-i.

    Sampai-sampai om @b_channel_indonesia bercanda, BYD DM itu memang dibuat pas Danang dan Michele ya. Wkwkwkw.

    Seharian sudah menghapal apa yang mau disampaikan.

    Sudah siap “yapping”. Tapi, sometimes shit just happens. Begitu banyak sebenarnya yang ingin disampaikan. Tiba-tiba nervous dan otak berhenti berfungsi. Hahaha.

    Well, terkadang sudah berusaha semaksimalnya tapi hasil tidak semaksimal yang kita inginkan, begitulah hidup.

  • Masa depan otomotif bukan cuma di jalan raya, tapi di udara!

    Masa depan otomotif bukan cuma di jalan raya, tapi di udara!

    Saya sudah lihat debut eVTOL (electric Vertical Take-off and Landing) punya Honda di Jepang. Sudah dengar penjelasan langsung soal “Land Aircraft Carrier” XPeng di Hong Kong.

    Di China saya lihat lagi raksasa teknologi dan manufaktur dari China CATL bikin kendaraan terbang sebagai solusi pamungkas mengatasi macetnya perkotaan!

    Ini bukan mobil pribadi. Tapi taksi terbang. Namanya AutoFlight Prosperity.Taksi udara otonom super canggih yang didesain untuk mobilitas cepat antarkota.

    Era transportasi udara ini bisa terwujud berkat kemajuan di kepadatan energi baterai EV.

    Raksasa baterai seperti CATL dan BYD berhasil memangkas waktu charging hingga hanya butuh 5 sampai 15 menit.

    Selain itu, gebrakan ini didukung penuh oleh rencana 5 tahun pemerintah China (2026–2030) untuk membangun “Low-Altitude Economy” (ekonomi ketinggian rendah di bawah 3.000 meter) demi mempercepat sertifikasi taksi udara komersial.

    Kalau teknologi ini masuk ke Indonesia, kamu berani cobain naik ini buat commuting tiap hari nggak? Bogor-Jakarta cuma 10 menit enak juga kali ya.

    Coba drop pendapat kamu di kolom komentar!