Penulis: Cakdan

  • Strategi Honda Lawan Mobil China 2026: Tinggalkan Target Full EV, Fokus ke Hybrid

    Strategi Honda Lawan Mobil China 2026: Tinggalkan Target Full EV, Fokus ke Hybrid

    Honda akhirnya menyerah.

    Setidaknya menyerah untuk satu hal: mimpi menjadi merek mobil full listrik pada 2040.

    Target itu resmi dicabut. Langsung oleh bos global Honda: Toshihiro Mibe. Dalam pertemuan bisnis hari ini. Kalimatnya sederhana: “Tidak realistis lagi”.

    Berarti mesin bensin masih panjang umur. Hybrid justru jadi penyelamat.

    Keputusan ini menarik. Apalagi datang di saat pasar Indonesia sedang berubah cepat. Mobil-mobil China mulai mengacak-acak peta lama.

    Honda yang dulu nyaman di papan atas kini mulai terdesak. Data Gaikindo April 2026 sudah bicara keras.

    Honda wholesales tinggal 2.363 unit. Posisi ke-9 nasional. Nyaris keluar dari 10 besar.

    Bandingkan dengan BYD: 4.625 unit. Jaecoo: 3.219 unit.

    Artinya ancaman itu nyata. Bukan lagi masa depan. Sudah terjadi sekarang.

    Padahal Honda dulu rajanya mobil rakyat perkotaan. Brio. HR-V. CR-V. Mobil-mobilnya identik dengan anak muda.

    Kini pasar berubah. Yang dicari bukan hanya merek. Tapi teknologi. Efisiensi. Dan sensasi baru.

    Honda sadar itu. Maka arah setir langsung dibelokkan. Bukan lagi full EV. Tapi hybrid.

    Honda akan meluncurkan 15 model hybrid generasi baru sampai Maret 2030. Fokus utamanya Amerika Utara. Tapi efeknya pasti global. Termasuk Indonesia.

    Mulai 2027 Honda memakai platform hybrid baru. Mesin baru. Sistem hybrid baru. Bahkan AWD elektrik baru.

    Efisiensi bahan bakar ditargetkan naik lebih 10 persen. Biaya sistem hybrid ditekan 30 persen dibanding sistem tahun 2023.

    Honda juga menyiapkan ADAS generasi baru mulai 2028.

    Bukan sekadar adaptive cruise control. Sistem ini bisa membantu setir, akselerasi, sampai navigasi dari titik awal sampai tujuan. Jalan tol maupun jalan biasa.

    Honda ingin hybrid terasa seperti EV. Tapi tanpa kecemasan charging.

    Strategi itu terasa masuk akal. Sebab pasar global ternyata belum siap sepenuhnya untuk EV murni.

    Mibe, bos Honda itu, mengaku lingkungan bisnis berubah terlalu cepat. Permintaan EV tidak setinggi prediksi awal dekade 2020-an.

    Akibatnya mahal. Sangat mahal. Honda mencatat kerugian terkait EV sebesar 1,579 triliun yen. Kalau dirupiahkan: Rp268,4 triliun.

    Itu membuat Honda mencatat rugi operasional 414,3 miliar yen. Sekitar Rp70,4 triliun. Salah satu kerugian terbesar dalam sejarah Honda.

    Proyek EV banyak dibatalkan.

    Honda 0 Sedan batal.

    Honda 0 SUV batal.

    Acura RSX listrik batal.

    Dua proyek Afeela bersama Sony juga mati sebelum lahir.

    Honda kini realistis. Mesin bensin tidak dibunuh.

    Hybrid dijadikan jembatan panjang menuju netral karbon 2050.

    Artinya Honda melihat dunia belum siap meninggalkan bensin sepenuhnya.

    Apalagi di negara berkembang seperti Indonesia. Infrastruktur charging masih timpang.

    Kekhawatiran soal EV dan baterainya masih tinggi. Nilai jual kembali belum sepenuhnya stabil.

    Maka hybrid dianggap jalan tengah paling aman.

    Apalagi Toyota sudah membuktikannya. Di Indonesia Toyota Veloz Hybrid langsung masuk lima besar nasional April 2026: 3.262 unit. Kijang Innova Hybrid juga masih perkasa.

    Honda tidak mau terlambat lebih jauh. Karena sekarang lawannya bukan cuma Toyota.

    Tapi China. BYD agresif. Jaecoo tiba-tiba meledak. Geely mulai merangsek. Denza stabil di 20 besar nasional.

    Honda tahu perang berikutnya bukan soal gengsi merek. Tapi kecepatan membaca pasar. Karena itu investasi Honda juga berubah total.

    Selama tiga tahun sampai 2029, Honda mengurangi investasi EV menjadi hanya 0,8 triliun yen atau sekitar Rp136 triliun.

    Sebaliknya, investasi hybrid dan mesin bensin mencapai 4,4 triliun yen. Setara Rp748 triliun.

    Software juga diguyur dana 1 triliun yen.

    Total investasi tiga tahun Honda mencapai 6,2 triliun yen. Sekitar Rp1.054 triliun.

    Honda juga mulai memangkas biaya besar-besaran.

    Mereka punya strategi “Triple Half”. Biaya pengembangan dipotong setengah.

    Waktu pengembangan dipotong setengah.

    Beban kerja pengembangan juga dipotong setengah.

    AI dipakai besar-besaran.

    Platform dibuat makin seragam.

    Komponen dipakai bersama lebih 60 persen antar model.

    Tujuannya sederhana: murah dan cepat. Karena merek China terlalu cepat bergerak.

    Honda bahkan mulai memakai banyak komponen lokal China dan India demi menekan biaya. Sesuatu yang dulu sulit dibayangkan dari pabrikan Jepang.

    Tapi dunia memang berubah.

    Dan Honda memilih bertahan hidup dulu. Bukan memaksakan idealisme EV penuh.

    Di Indonesia strategi itu mungkin justru cocok.

    Konsumen Indonesia belum sepenuhnya meninggalkan bensin. Tapi juga mulai tertarik elektrifikasi.

    Hybrid akhirnya jadi zona aman.

    Tidak perlu charging. Tidak takut antre SPKLU. Tapi tetap irit dan modern. Honda tampaknya membaca itu dengan sangat serius sekarang.

    Terlambat? Mungkin belum. Tapi waktu mereka juga tidak banyak lagi.

  • PHEV di Indonesia Belum Mati, tapi Juga Belum Jadi Raja

    PHEV di Indonesia Belum Mati, tapi Juga Belum Jadi Raja

    Penjualannya lambat. Tapi pabrikan China justru makin ramai membawa model baru.

    Mobil listrik murni (EV) luar biasa ramai. Hybrid biasa sudah diterima. Tapi plug-in hybrid atau PHEV masih seperti anak tengah: tidak dibenci, tapi juga belum benar-benar dicintai.

    Penjualannya kecil. Sangat kecil (lihat grafik).

    Dari 46 unit di 2021, turun ke 10 unit di 2022, lalu mulai naik ke 128 unit, 136 unit, melonjak ke 5.270 unit di 2025. Itu artinya ada pertumbuhan.

    Tapi skalanya masih sangat kecil dibanding EV murni (103.931 unit di 2025) maupun hybrid biasa (65.943 unit).

    Tapi anehnya, pabrikan China justru ramai-ramai membawa PHEV ke Indonesia. Wuling sudah. BYD siap. Chery jalan terus.

    Changan juga ikut. Bahkan model REEV atau range extender mulai muncul.

    Artinya satu: mereka melihat sesuatu yang belum dilihat pasar Indonesia hari ini.

    PHEV sebenarnya menawarkan kompromi paling masuk akal: Bisa jalan pakai bensin. Bisa juga pakai listrik.

    Tidak ada rasa takut kehabisan baterai di tengah jalan. Tapi tetap lebih hemat dibanding mobil bensin biasa.

    Masalahnya justru ada di tengah itu.

    Orang Indonesia yang sudah siap pindah ke listrik biasanya langsung memilih EV murni. Apalagi dengan benefit pajak dan non fiskal (bebas Gage). Sementara yang belum siap, memilih hybrid biasa.

    PHEV akhirnya terjebak di antara dua dunia.

    Harga juga jadi soal.

    PHEV umumnya jauh lebih mahal dibanding hybrid biasa. Tapi belum semurah EV yang semakin agresif.

    Konsumen Indonesia akhirnya bertanya sederhana: “Kalau tetap harus isi bensin, kenapa tidak sekalian hybrid biasa?”

    Padahal secara teknologi, PHEV jauh lebih canggih.

    Baterainya lebih besar. Motor listriknya lebih kuat. Bahkan banyak PHEV modern bisa berjalan lebih dari 150 KM hanya dengan tenaga listrik/baterai.

    Chery percaya diri membawa teknologi Super Hybrid. BYD juga mulai serius dengan DM-i. Changan menyiapkan REEV (Range Extender Electric Vehicle).

    Semua datang dengan satu logika: Indonesia belum siap full EV, tapi mulai bosan dengan mobil bensin biasa.

    Mereka tidak salah.

    Infrastruktur charging Indonesia memang tumbuh. Tapi belum merata. Kalah cepat dengan tumbuhnya pengguna EV.

    Di luar kota besar, SPKLU masih jarang. Di kota-kota besar, antrean ngecas bikin tidak nyaman.

    Di titik inilah PHEV sebenarnya paling masuk akal. Bisa dicas di rumah. Tapi kalau lupa ngecas, mobil tetap jalan.

    Tidak bikin panik. Tidak ada range anxiety atau charging anxiety.

    Masalah berikutnya adalah pajak dan positioning.

    Di Indonesia, insentif terbesar justru diberikan ke EV murni. PHEV tidak mendapat perlakuan seistimewa itu. Akibatnya harga jual sulit kompetitif. Pajak mahal terasa beban.

    Padahal di China, PHEV justru sedang meledak.

    Sepanjang 2025, China jual 34,531,000 unit mobil. PHEV terjual 5,861,000 unit (+14%).

    Sedangkan BEV 10,622,000 unit (+37.6%). Total New Energy Vehicle (NEV): 16,490,000 unit. Sisanya (sekitar 47%) masih bensin/ICE.

    BYD bahkan menjadikan teknologi plug-in hybrid sebagai senjata utama sebelum EV mereka benar-benar dominan.

    Banyak konsumen Tiongkok merasa PHEV lebih realistis untuk transisi.

    Indonesia tampaknya menuju arah yang sama. Tapi lebih lambat.

    Pasar Indonesia unik. Konsumen masih sangat sensitif soal harga. Sangat mempertimbangkan resale value. Dan masih trauma soal baterai.

    Karena itu hybrid biasa lebih cepat diterima. Tidak perlu colok listrik. Tidak perlu adaptasi besar. Tidak ribet.

    PHEV akhirnya seperti teknologi yang masih “kepagian”. Belum gagal. Tapi juga belum waktunya.

    Namun ada satu tanda menarik: pabrikan China tidak mundur. Itu penting.

    Karena mereka terkenal sangat agresif membaca pasar. Kalau mereka tetap membawa PHEV, berarti mereka yakin 3-5 tahun ke depan pasar Indonesia akan berubah.

    Apalagi nantinya harga baterai mulai turun. Teknologi makin murah. SPKLU lebih merata. Konsumen juga mulai terbiasa dengan charging.

    Saat itu terjadi, PHEV bisa berubah posisi. Dari produk bingung menjadi jembatan utama menuju elektrifikasi penuh.

    Kini posisinya masih menggantung. Belum meledak. Tapi juga belum selesai.

    Dan justru di situlah menariknya pasar otomotif Indonesia hari ini. (*)

  • Bukan Cuma Suara, Mikrofon Ini Juga Soal Gaya

    Bukan Cuma Suara, Mikrofon Ini Juga Soal Gaya

    Kecil sekali. Tapi justru itu kekuatannya. DJI Mic Mini 2. Bobotnya hanya 11 gram. Hampir tidak terasa saat dipakai.

    Saya tahunya pun saat berada di Beijing belum lama ini. “Cak, DJI baru rilis mic baru,” kata teman.

    “Oh ya? Ya sudah ayo ke DJI Store,”.

    ”Setiap ke China harus mampir ke store DJI ya Cak?,” tulis teman lain di kolom Instagram.

    Tahun lalu saya juga beli DJI Mic Mini di Shanghai. Karena setengah harga di Indonesia, Rp300 ribu.

    Tidak menyesal, karena mikrofon sekarang jadi alat kerja content creator. Juga jurnalis.

    DJI Mic Mini 2 praktis. Semua disatukan dalam satu kotak. Charging case. Isinya lengkap: transmitter, receiver, aksesoris.

    Tidak perlu bongkar tas.

    Tidak perlu setup lama.

    Buka. Pakai. Rekam.

    Soal suara, DJI tidak main-main. Rekaman 48kHz 24-bit. Standar audio studio.

    Ada tiga preset suara: Regular. Rich. Bright. Artinya, pengguna tidak perlu banyak setting.

    Tinggal pilih karakter suara. Lingkungan juga diperhitungkan. Ada dua level noise cancelling. Untuk indoor dan outdoor.

    Di jalan ramai tetap bisa dipakai. Di ruangan tenang tetap bersih.

    Fitur lain tidak kalah penting:

    Auto limiting. Gain sampai 5 level. Dual-track recording via aplikasi DJI Mimo.

    Ini penting untuk editing. Ada backup audio kalau level terlalu tinggi.

    Desainnya juga tidak biasa. Ada cover depan magnetik. Bisa diganti warna. Standarnya hitam dan putih. Tambahan warna dijual terpisah. Harga cover: 99 yuan. Sekitar Rp252 ribu.

    DJI bahkan menggandeng ilustrator Victo Ngai. Hasilnya empat tema: Dawn, Surge, Blaze, Glimmer.

    Biasanya mikrofon disembunyikan. Sekarang justru ditampilkan.

    Soal koneksi, fleksibel. Bisa ke kamera. Smartphone. Samsung S26 Ultra. iPhone. Laptop. Tablet.

    Bahkan bisa langsung ke perangkat DJI seperti Osmo Pocket 3 dan Action 6. Tanpa receiver tambahan. Ini mempercepat workflow.

    Jarak transmisi juga jauh. Hingga 400 meter dengan receiver standar. Atau 300 meter dengan mobile receiver.

    Untuk creator lapangan, ini penting. Daya tahan juga panjang.

    Transmitter: 11,5 jam

    Receiver: 10,5 jam

    Dengan case, total bisa sampai 48 jam.

    Charging cepat juga ada.

    Isi 5 menit → pakai 1 jam.

    Harga?

    Versi paling murah: 179 yuan = Rp456 ribu.

    Paket lengkap: 599–698 yuan = Rp1,52 juta – Rp1,78 juta.

    Pasar content creator makin besar. Semua butuh audio yang jelas. Tapi tidak semua mau ribet.

    DJI tahu yang diinginkan pasar. Mereka tidak hanya jual kualitas suara. Mereka jual kemudahan. Dan sekarang, ditambah gaya.

    Mikrofon tidak lagi sekadar alat. Tapi bagian dari tampilan.

  • Menguak Mitos Mobil Listrik: Fast Charging dan Ngecas 20%-80% Bikin Baterai EV Cepat Soak?

    Menguak Mitos Mobil Listrik: Fast Charging dan Ngecas 20%-80% Bikin Baterai EV Cepat Soak?

    Banyak orang waswas soal baterai mobil listrik. Takut cepat soak. Takut harganya selangit saat harus ganti. Hasil riset Geotab bikin pemilik mobil listrik menarik nafas lega.

    Geotab tidak main-main. Mereka menganalisis 22.700 unit kendaraan listrik. Meliputi 21 model yang berbeda. Bukan data simulasi di laboratorium. Ini data asli dari jalan raya.

    Hasilnya: baterai mobil listrik modern itu sangat kokoh.

    Rata-rata penyusutan kapasitasnya hanya 2,3 persen setahun. Begitulah datanya.

    Artinya: setelah 8 tahun, sisa napas baterai Anda masih 81,6 persen. Itu sudah lebih dari cukup untuk umur rata-rata kendaraan.

    Tapi, ada “tapi”-nya.

    1. Musuh utamanya satu: High-power DC fast charging.

    Terutama yang di atas 100 kW. Itu seperti memberi “pukulan” keras ke sel baterai.

    Mobil yang terlalu sering pakai fast charging (lebih dari 12 persen dari total pengisian) susutnya lebih cepat: 2,5 persen setahun.

    Kalau dayanya di atas 100 kW, angka susutnya naik jadi 3 persen. Bandingkan dengan yang jarang fast charging: hanya susut 1,5 persen.

    Artinya: fast charging hanya untuk darurat. Hindari yang terlalu cepat : up to 100 kW. Cas dirumah bikin baterai awet.

    2. Faktor kedua: suhu.

    Ini yang sering luput dari pemilik EV. Baterai tidak suka panas. Di daerah yang sering suhu di atas 25 derajat Celsius—seperti Indonesia—degradasi baterai lebih cepat 0,4 persen dibanding daerah sejuk. Kimia di dalam sel baterai jadi lebih stres kalau kepanasan.

    Artinya: sebisa mungkin mobil jangan dijemur. Cari parkiran yang teduh/sejuk.

    3. Lalu soal mitos 20-80 persen

    Banyak ahli menyarankan jangan nge-cas sampai 100 persen. Juga jangan sampai nol. Benar, tapi tidak usah terlalu pusing.

    Pabrikan sudah pintar. Mereka sudah memasang “pagar” perangkat lunak (buffer). Angka 100 persen di layar Anda sebenarnya belum benar-benar penuh secara kimiawi.

    Data menunjukkan: penyusutan baru akan melonjak kalau mobil dibiarkan dalam kondisi penuh (100 persen) atau kosong melompong (0 persen) dalam waktu yang sangat lama. Yakni lebih dari 80 persen dari total waktu hidup mobil itu. Kalau dipakai harian? Aman saja.

    4. Bagaimana dengan penggunaan berat?

    Memang, mobil yang sering diajak lari jauh otomatis susutnya lebih besar. Naik 0,8 persen.

    Tapi bagi Anda pemilik EV, ini tetap menguntungkan. Dampak produktivitas Anda jauh melampaui biaya susut baterainya. Di perusahaan, ROI (Return on Investment) tercapai lebih cepat.

    Satu hal lagi: perkembangan teknologi. Mobil-mobil keluaran terbaru punya manajemen panas yang lebih baik. Hasilnya, degradasi makin stabil. Jadi, pakailah mobil listrik Anda. Jangan terlalu banyak khawatir!

  • Laporan dari Tingkok #7: EREV: Jalan Tengah yang Diam-Diam Jadi Jawaban Industri Otomotif

    Laporan dari Tingkok #7: EREV: Jalan Tengah yang Diam-Diam Jadi Jawaban Industri Otomotif

    Mobil listrik belum sepenuhnya menang di pasar global.

    Hybrid yang dulu dianggap solusi pun mulai kehilangan momentumnya.

    Yang justru naik pelan, tapi pasti: EREV (Extended Range Electric Vehicle). Mobil listrik jangkauan jauh.

    Beijing Auto Show 2026 seperti memberi jawaban atas kebingungan itu.

    Tidak banyak yang menyadari sejak awal. Namun hampir semua pabrikan besar kini diam-diam mengarah ke teknologi ini.

    EREV bukan mobil listrik murni seperti BEV (Battery Electric Vehicle).

    Tapi juga bukan hybrid konvensional seperti yang kita kenal selama ini.

    Mesin bensinnya tidak menggerakkan roda sama sekali.

    Fungsinya hanya sebagai generator untuk mengisi baterai.

    Sementara roda sepenuhnya digerakkan motor listrik.

    Artinya, sensasi berkendaranya tetap seperti mobil listrik. Halus, responsif, tanpa perpindahan gigi. Namun tanpa rasa cemas kehabisan baterai di tengah perjalanan jauh.

    Di sinilah letak kekuatan EREV.

    6 tahun lalu sudah ada Nissan Kicks e-Power. EREV tanpa plug-in dengan baterai lebih kecil (2,1 kWh). EREV sekarang baterainya jumbo.

    Lihat saja iCar V27.

    Mobil ini memiliki panjang 5,045 meter, lebar 1,09 meter, dan tinggi 1,89 meter, dengan wheelbase mencapai 2.900 mm.

    Mesin yang digunakan berkapasitas 1.5 liter turbo.

    Namun sekali lagi, hanya berfungsi sebagai generator.

    Penggerak utamanya adalah dua motor listrik (versi AWD).

    Total tenaga mencapai 335 kW atau setara 449 hp.

    Akselerasi 0–100 km/jam hanya 5,5 detik.

    Jarak tempuh listrik murninya mencapai 280 km.

    Sedangkan jarak total kombinasi bisa mencapai 1.350 km.

    iCar V27 EREV menggendong 34.3 kWh, lebih besar dari BYD Atto 1 tipe Dynamic.

    Full baterai saja bisa 200-210 km. Dengan mesin 1.5L turbo range extender tembus 1.000-1.200 km.

    Data tahun 2026 mulai menunjukkan arah yang jelas. Di China, EREV kini sudah menguasai lebih dari 12 persen pasar kendaraan listrik.

    Bahkan pada kuartal ketiga 2025, penjualannya sempat menembus lebih dari 100.000 unit per bulan.

    Di sisi lain, pertumbuhan mobil listrik murni mulai melambat.

    Tidak lagi melonjak seperti beberapa tahun sebelumnya.

    Industri mulai realistis. Tidak semua negara siap langsung beralih ke mobil listrik penuh.

    Terutama negara berkembang seperti Indonesia.

    Infrastruktur charging belum merata.

    Perjalanan jarak jauh masih menjadi kekhawatiran utama konsumen.

    EREV hadir sebagai solusi praktis. Tidak lagi sekadar soal efisiensi bahan bakar. Kini ia juga bicara soal performa dan fleksibilitas penggunaan.

    Pabrikan Eropa pun mulai mengubah strategi. Volkswagen dan Audi, yang sebelumnya sangat fokus pada BEV, kini mulai memasukkan EREV dalam rencana produk mereka.

    Mereka menyiapkan lebih dari 20 model elektrifikasi baru pada 2026.

    Sebagian di antaranya adalah EREV. Ini sinyal penting bagi industri global.

    Pasar tidak lagi hanya mengikuti idealisme teknologi. Pasar mulai mengikuti kebutuhan nyata konsumen.

    Indonesia sendiri mulai menunjukkan sinyal awal. Changan sudah memberikan teaser Deepal S05. Model ini bukan hybrid biasa. Ia menggunakan sistem EREV.

    Artinya arah perkembangan sudah mulai terlihat.

    Mengapa EREV mulai unggul? Jawabannya sederhana, tapi sebagian akan setuju.

    Pertama, pengalaman berkendara yang sepenuhnya elektrik.

    Tidak ada perpindahan gigi.

    Tidak ada hentakan tenaga.

    Semuanya halus seperti mobil listrik murni.

    Kedua, kapasitas baterai yang semakin besar. Generasi terbaru EREV menggunakan baterai 30–50 kWh.

    Dengan kapasitas itu, mobil bisa menempuh 200–300 km hanya dengan listrik. Untuk penggunaan harian di kota seperti Jakarta, itu sudah lebih dari cukup.

    Sebagian besar pengguna bahkan tidak perlu menggunakan bensin selama hari kerja. Mesin hanya aktif saat perjalanan jauh.

    Ketiga, tidak bergantung penuh pada infrastruktur charging. Ini menjadi keunggulan utama di negara berkembang.

    EREV tetap bisa berjalan meski jaringan SPKLU belum merata. Karena selalu ada cadangan energi dari mesin bensin.

    Keempat, fleksibilitas penggunaan yang tinggi. Satu mobil bisa berfungsi sebagai kendaraan listrik harian.

    Sekaligus kendaraan jarak jauh tanpa kompromi. Inilah yang membuat EREV menjadi titik tengah yang ideal.

    Data pasar semakin memperkuat tren ini.

    Di China, kendaraan plug-in (PHEV dan EREV) sudah menyumbang lebih dari 50 persen penjualan mobil baru pada 2025.

    Artinya lebih dari separuh pasar sudah bergerak ke elektrifikasi. Dan EREV menjadi bagian penting dari pergeseran itu.

    Namun tantangan tetap ada. Persaingan semakin ketat.

    Lebih dari 40 model EREV kini sudah beredar di pasar. Perang harga mulai tidak terhindarkan.

    Pertumbuhan industri juga mulai melambat ke kisaran 13–14 persen di 2026.

    Ini fase seleksi alam. Hanya pemain yang kuat dan efisien yang akan bertahan.

    Namun satu hal sudah jelas. EREV bukan sekadar tren sementara. Ia adalah jembatan penting menuju masa depan otomotif.

    Jembatan dari mesin bensin menuju listrik penuh. Dan untuk Indonesia, jembatan itu terasa sangat relevan. Apalagi, setelah pajak mobil listrik tidak akan sangat murah seperti sebelumnya.

    Namun, PHEV/EREV belum menemukan momentum di Indonesia.

    Penjualan PHEV sepanjang 2025 hanya 5.270 unit. Bandingkan dengan hybrid 65.943 unit. Dan EV 103.931 unit.

    Andai PHEV/EREV diberi kelonggaran pajak sama dengan EV, dijamin pertumbuhannya bisa lebih dari dua digit.

  • Laporan dari Tiongkok #6: Mobil Tidak Lagi Butuh Sopir, Bisa Berpikir dan Mengambil Keputusan Sendiri

    Laporan dari Tiongkok #6: Mobil Tidak Lagi Butuh Sopir, Bisa Berpikir dan Mengambil Keputusan Sendiri

    Mobil tidak lagi butuh sopir. Sebentar lagi, mungkin juga tidak butuh peta.

    Itu yang terasa di Beijing Auto Show 2026.

    China sudah menang di mobil listrik. Butuh 25 tahun.

    Sekarang mereka tidak mau menunggu selama itu lagi.

    Target berikutnya: AI di semua mobil.

    Pemerintah China sudah memberi arah. Namanya: “AI Plus”. AI harus masuk ke semua sektor. Termasuk otomotif.

    Tujuannya jelas: lepas dari ketergantungan chip Amerika.

    Sudah tidak ada lagi batas antara perusahaan mobil dan perusahaan teknologi. “Sudah tidak ada bedanya,” kata Stephen Ma dari Nissan China.

    Kalimat itu sederhana. Tapi artinya dalam.

    Xpeng sudah memulai. Mobilnya tidak perlu koordinat. Cukup bilang: “Parkir dekat pintu masuk mall.” Mobil akan cari sendiri.

    Xiaomi lebih jauh lagi. Lewat HyperOS. Mobil bisa: pesan restoran, order kopi, mencatat aktivitas, bahkan membaca emosi pengemudi. Kalau Anda stres, mobil akan menenangkan Anda.

    Konsep ini mengingatkan saya ke Honda NeuV (New Electric Urban Vehicle) saat meliput Tokyo Motor Show 2020 dulu.

    Saat itu Honda sudah punya konsep “emotion engine”. Lewat AI, mobil jadi teman pengemudi: tahu kapan marah, sedih, senang.

    Kata Dan Hearsch dari AlixPartners: AI di mobil China dibuat agar “lebih mudah dikendarai, lebih mudah diajak berinteraksi,”.

    Raja teknologi China Huawei siapkan investasi besar. Lebih dari USD 10 miliar. Sekitar Rp170 triliun. Untuk satu hal: komputasi mobil pintar. Karena perang berikutnya adalah ini: chip.

    Selain Xpeng dengan chip Turingnya, BYD, Geely, NIO, mulai bikin chip sendiri. Tujuannya sederhana: tidak tergantung perusahaan Amerika Nvidia.

    Horizon Robotics meluncurkan Starry 6. Satu chip. Tapi bisa mengatur: mengemudi, kabin, hingga 12 layar sekaligus. Mobil berubah jadi komputer berjalan.

    Lalu Chery. Mereka tidak mau ketinggalan. Malah lompat lebih jauh. Tidak lagi mau disebut pabrikan mobil.

    Mereka ingin jadi: AI-driven global technology ecosystem. Strateginya sudah lama.

    2014–2020: kumpulkan teknologi

    2021–2024: mulai diterapkan

    2026: AI jadi pusat segalanya

    Mereka masuk fase baru. Namanya: AI 2.0 Slogannya: AI untuk manusia. Sistemnya lengkap. Ada:

    AI Power

    AI Chassis

    AI Cockpit

    AI Pilot

    AI Safety

    Semua dikendalikan satu otak: Chery AIOS. Datanya tidak kecil. Menganalisa 6,8 juta kendaraan. 21 juta klip video.

    Model AI: 14 miliar sampai 20 miliar parameter. Mobil belajar dari dunia nyata.

    Hasilnya: Falcon Pilot. Mobil bisa berpikir. Tidak butuh peta HD. Bisa mengambil keputusan sendiri.

    Target berikutnya: Robocar ONE. Produksi massal: kuartal 4 2026. Level otonom: L2 sampai L4. Sistem lengkap: rem, kemudi, daya, sensor — semua ada cadangan.

    AI juga masuk ke baterai. Chery melakukan 1 juta iterasi desain.

    Hasilnya: Baterai solid-state.

    Jarak: 1.000 km.

    Energi: ≥400 Wh/kg.

    Kapasitas: 60 Ah

    Target validasi: 2027.

    Bahkan produksi mobil ikut berubah. Dengan Digital Twin: Analisis kecelakaan 100x lebih cepat.

    Simulasi berkurang 60%. Waktu pengembangan turun 30%. Bobot mobil lebih ringan 10%.

    Kata sekjen OICA (Gaikindo level dunia) Francois Roudier:“Ini bukan transisi. Ini revolusi.”

    Memang terasa seperti itu. Dulu mobil hanya alat. Sekarang mobil jadi agen.

    Bisa berpikir.

    Bisa belajar.

    Bisa mengambil keputusan.

    Kalau ini benar-benar terjadi, yang berubah bukan hanya mobil. Tapi seluruh industri otomotif dunia.

  • Laporan dari Tiongkok #5: Yin Tongyue Ingin Chery Sejajar dengan Toyota dan Apple

    Laporan dari Tiongkok #5: Yin Tongyue Ingin Chery Sejajar dengan Toyota dan Apple

    Pendiri Chery Yin Tongyue tidak sedang membual. Angkanya bicara sendiri.

    Tahun 2025 menjadi saksi betapa Chery Motor Indonesia sudah “meledak”.

    Penjualan pabrikan mobil dari kota kecil Wuhu itu tembus 2,8 juta unit.

    Yang luar biasa: hampir 30 persennya adalah kategori NEV (kendaraan energi baru). Mereka sudah ada di 130 negara dengan 14.000 karyawan di luar negeri.

    Tapi bagi Yin, angka cuma akibat. Sebabnya ada pada filosofi.

    Setidaknya ada lima poin besar yang ditekankan Yin Tongyue dalam pidatonya di hadapan 1.000 mitra dari 120 negara yang berkumpul di Wuhu, Anhui, Selasa (28/4):

    1. Inovasi di Atas Profit

    Banyak bos perusahaan hanya pening memikirkan laba. Yin beda.

    Bagi Chery, kemampuan inovasi jauh lebih penting daripada sekadar keuntungan jangka pendek. Tahun ini saja, Chery tidak tanggung-tanggung menggelontorkan investasi 30 miliar Yuan (sekitar Rp69 Triliun).

    Uang sebanyak itu lari ke mana? Ke sistem R&D global “1+7+N”. Mereka meriset segalanya: mulai dari baterai solid-state, energi hijau, hingga chip pintar dan AI.

    Bahkan, mereka membuat arsitektur AI sendiri CheryClaw. Tujuannya satu: memiliki otak terpintar di industri otomotif.

    2. Kualitas Bukan Sekadar Volume

    Yin terang-terangan menyebut satu nama: Toyota. Bahkan Toyota disebut 2 kali dalam pidaotnya. Chery ingin menjadikan standar kualitas tertinggi Toyota sebagai patokan global mereka.

    Chery memperkuat tim kualitas dunia, memperbaiki fisik produk, layanan servis, hingga ketersediaan suku cadang. “Tanpa kualitas, volume penjualan hanya akan jadi beban di masa depan,” beber Yin.

    3. Jalan Bareng Raksasa Dunia

    Chery sadar mereka tidak bisa pintar sendirian. Maka, mereka menggandeng para “naga” teknologi dunia: NVIDIA, Bosch, Qualcomm, CATL, hingga ByteDance (pemilik TikTok).

    Strateginya cerdik: Chery membangun “rak teknologi super” agar mitra-mitra mereka bisa mendapatkan senjata terbaik.

    4. Filosofi “Warga Global”

    Ini yang menarik. Yin memperkenalkan slogan baru: “In somewhere, For somewhere, Be somewhere”. Chery tidak mau cuma datang, jualan, lalu bawa pulang uang ke Tiongkok.

    Mereka ingin menyatu dengan ekosistem industri lokal. Membangun pabrik lokal, memakai rantai pasok lokal, hingga menciptakan lapangan kerja di tempat mereka berjualan.

    Contoh nyatanya adalah proyek EBRO di Spanyol. Mobil Chery harus punya “rasa” lokal.

    5. “Long-termism” dan Silsilah Keluarga

    Yin sangat menyentuh saat bicara soal hubungan jangka panjang. Banyak mitra diler Chery adalah bisnis keluarga yang sudah bekerja sama selama 10 hingga 20 tahun.

    Yin terharu melihat generasi kedua—anak-anak para diler itu—kini sudah menjadi CEO dan bos. “Ini bukan transaksi sekali putus. Ini hubungan selamanya,” beber Yin.

    Berharap Capai Usia 100 Tahun

    Tahun depan, Chery akan merayakan ulang tahun ke-30. Ambisi Yin Tongyue sudah melampaui aspal jalanan.

    Ia ingin Chery sejajar dengan Apple dan Toyota—menjadi merek kelas atas dunia yang punya pengaruh global.

    Yin ingin Chery menjadi perusahaan yang hidup 100 tahun atau lebih.

    Pesannya kepada tim Chery International: harus benar-benar internasional, menghormati mitra, dan mau mendengarkan masukan pengguna.

  • Laporan dari Tiongkok #4: Masuk Ruang Tabrak Chery di Wuhu: Tiggo 7 Pro Ditabrakkan ke Tiggo 9 di Kecepatan 50 Kpj!

    Laporan dari Tiongkok #4: Masuk Ruang Tabrak Chery di Wuhu: Tiggo 7 Pro Ditabrakkan ke Tiggo 9 di Kecepatan 50 Kpj!

    Saya sedang di Wuhu. Di markas Chery. Di sebuah gedung seluas 32.000 meter persegi. Namanya: Crash Test Center. Investasinya tidak main-main: 150 juta Yuan (Rp328 miliar).

    Isinya? Alat-alat canggih untuk menghancurkan mobil.

    Minggu (26/4) siang, Chery melakukan live crash test. Kecepatannya 50 km/jam. Mobil yang dikorbankan ada 2: Tiggo 9 dan Tiggo 7 Pro bensin.

    Tiggo 7 Pro diluncurkan hingga 50 km/jam menabrak Tiggo 9 yang diam. Moncong mobil sama-sama hancur. Ini horror. Tapi, ternyata baik Tiggo 9 dan Tiggo 7 Pro sama-sama lulus. Pilar A dan B tetap tegak. Tidak bengkok.

    Kabin tetap utuh. Pintu masih bisa dibuka. Itu kuncinya: kalau terjadi kecelakaan, penumpang harus bisa keluar. Atau dikeluarkan.

    Kenapa Chery begitu ambisius? Targetnya jelas: bintang lima. Baik itu ANCAP maupun Euro NCAP.

    Di situ saya baru paham: crash test bukan tontonan tabrak-tabakan. Ini laboratorium hidup dan mati. Yang dinilai bukan bodi penyok. Tapi apakah penumpang masih punya ruang hidup.

    Apakah pilar A patah.

    Pilar B melintir.

    Pilar C meleyot.

    Apakah pintu masih bisa dibuka walau bonet mobil remuk?

    Apakah sabuk pengaman menarik tubuh sepersekian detik lebih cepat?

    Apakah airbag mekar tepat waktu?

    Itu semua diuji.

    Menariknya, bodi Tiggo 9 disebut memakai 85 persen high-strength steel.

    Orang sering salah paham. Makin keras baja bukan berarti makin aman. Yang penting distribusi kekuatan.

    Area depan boleh remuk. Kabinnya tidak boleh. Ini filosofi crash structure.

    Ada bagian yang memang dikorbankan agar energi benturan habis sebelum masuk kabin.

    Di situlah mahalnya rekayasa.

    Bukan di layar 15 inci.

    Bukan di sunroof.

    Bukan di ambient light.

    Tapi di bagian yang tak terlihat. Yang baru terasa saat kecelakaan.

    Fasilitas Wuhu ini juga dipakai memvalidasi standar lima bintang. Termasuk target memenuhi standar mirip ANCAP dan Euro NCAP.

    Standar yang menilai empat hal:

    Perlindungan dewasa.

    Perlindungan anak.

    Perlindungan pengguna jalan lain.

    Dan safety assist.

    Bukan cuma tabrakan. Tapi kecerdasan mencegah tabrakan. Crash test membaca seluruh filosofi mobil.

    Banyak yang ribut layar besar. Ribut fitur. Ribut harga. Padahal bagian yang tak kalah penting ada di las. Di struktur. Di laboratorium.

    Setelah mengunjungi laboratorium Wuhu pesan Chery jelas: Mereka tidak hanya ngejar murah. Tapi juga legitimasi dan kepercayaan. Yang tidak bisa dibeli dengan iklan.

    Tapi, harus dibuktikan dengan benturan. Berkali-kali.

  • Laporan dari Tiongkok #3 : Kisah Nekat Wuhu Membangun Imperium Chery Group

    Laporan dari Tiongkok #3 : Kisah Nekat Wuhu Membangun Imperium Chery Group

    Chery Group Chery Motor Indonesia tidak lahir di Beijing. Bukan juga di Shanghai, pusat industri terbesar di China itu.

    Ia lahir di Wuhu. Sebuah kota yang dulu nyaris tidak punya hubungan dengan industri otomotif.

    Tahun 1995. Wuhu hanyalah kota perdagangan dan tekstil di Provinsi Anhui.

    Tidak ada sejarah otomotif.

    Tidak ada pabrik mobil.

    Tidak ada rantai pasok.

    Tapi ada satu hal yang mereka miliki: ambisi besar untuk berubah. Pemerintah kota Wuhu tiba-tiba mengambil keputusan yang tidak biasa. Mereka ingin punya industri sendiri. Bukan industri kecil. Tapi industri berat: otomotif. Pilihan yang sangat berisiko.

    Mereka kemudian merekrut satu orang penting. Namanya Yin Tongyue. Saat itu bekerja di FAW-Volkswagen.

    Masih muda, tapi dikenal sebagai insinyur berbakat. Ia diminta pulang ke kampung halamannya di Anhui.

    Tahun 1997. Wuhu membentuk perusahaan. Namanya belum Chery. Masih Anhui Auto Parts Co., Ltd.

    Modalnya dari pemerintah kota. Bukan dari pusat. Di sinilah titik pembeda utama Chery dibanding pabrikan China lain.

    Jika pabrikan besar seperti SAIC, FAW, Dongfeng, dan Changan adalah “anak pusat”, maka Chery adalah “anak daerah”.

    Konsekuensinya besar. Kalau gagal, bukan hanya perusahaan yang jatuh. Ekonomi kota Wuhu ikut runtuh.

    Maka mereka tidak punya pilihan selain berhasil. Masalahnya banyak. Tidak punya teknologi. Tidak punya fasilitas. Bahkan tidak punya izin produksi nasional. Tapi proyek tetap berjalan.

    Mesin pertama Chery bahkan bukan buatan sendiri.

    Wuhu membeli satu lini produksi mesin bekas dari pabrik Ford di Dagenham, Inggris. Dirakit ulang di China. Di mana? Di gudang-gudang kosong. Di bangunan seadanya.

    Orang dalam Chery menyebut fase ini sebagai “thatched hut spirit” — semangat gubuk jerami.

    Masalah berikutnya lebih serius. Chery tidak bisa menjual mobil secara nasional. Tidak punya lisensi.

    Solusinya unik. Wuhu “menikahkan” Chery dengan SAIC. SAIC mengambil 20 persen saham.

    Sebagai imbalannya, Chery bisa menggunakan lisensi nasional SAIC. Ini jalan pintas untuk bertahan hidup. Meski, hubungan itu tidak berlangsung lama.

    Tahun 2003, Chery sudah cukup kuat. Wuhu membeli kembali saham SAIC. Chery resmi berdiri sendiri. Dari titik ini, karakter Chery terbentuk.

    Berbeda dengan “Big Four” China yang bergantung pada joint venture dengan brand global seperti Volkswagen, GM, atau Toyota, Chery tidak punya kemewahan itu. Mereka dipaksa untuk mengembangkan teknologi sendiri.

    Mulai dari mesin ACTECO. Transmisi CVT dan DHT. Platform kendaraan. Semua dibangun dari nol.

    Itulah sebabnya Chery sering disebut sebagai “perusahaan para insinyur”.

    Dan semua itu berpusat di satu tempat: Wuhu.

    Wuhu bukan hanya lokasi pabrik. Ia adalah pusat kendali (command center).

    Di sana ada Longshan R&D Center. Salah satu pusat riset terbesar di China.

    Struktur global Chery pun unik. Mereka menyebutnya model “1+7+N”.

    Satu pusat utama di Wuhu. Tujuh pusat riset global — termasuk di Frankfurt, Barcelona, dan Sao Paulo. Dan jaringan tambahan di berbagai negara.

    Tapi semua tetap kembali ke Wuhu. Tidak hanya riset. Wuhu juga menjadi pusat integrasi industri Chery.

    Di sana ada galangan kapal. Bisnis properti. Layanan keuangan. Semua saling terhubung.

    Inilah yang membuat Chery berbeda. Mereka membangun ekosistem, bukan sekadar pabrik.

    Keterbatasan di dalam negeri juga membentuk strategi global mereka. Karena tidak punya dominasi seperti pemain besar di China,

    Chery memilih keluar. Ekspor pertama dilakukan tahun 2001 ke Suriah.

    Bukan pasar besar. Tapi awal dari strategi global. Hasilnya sekarang terlihat.

    Selama 22 tahun berturut-turut, Chery menjadi eksportir mobil nomor satu dari China.

    Dan Wuhu menjadi titik awal semua pencapaian itu. (*)

  • Laporan dari Tiongkok #2: Freelander 8: Wajah Inggris, Otak China, Nama Baru Penguasa SUV Global

    Laporan dari Tiongkok #2: Freelander 8: Wajah Inggris, Otak China, Nama Baru Penguasa SUV Global

    Freelander. Nama tua itu hidup lagi.

    Sudah mati sejak 2015. Sekarang lahir kembali. Tapi dengan darah berbeda.

    Lebih rumit. Lebih ambisius. Dan mungkin lebih berbahaya buat lawan-lawannya.

    Dulu Freelander adalah kebanggaan Inggris. Lahir 1997. SUV pertama Land Rover yang memakai sasis monokok. Bukan body-on-frame. Itu revolusioner pada zamannya.

    Lebih nyaman di kota. Tetap sanggup ke tanah berat. Kompak. Premium. Bisa dijangkau.

    Maka Eropa jatuh cinta. Freelander pernah menjadi SUV 4×4 terlaris di Eropa. Terjual 840.000 unit sepanjang sejarahnya. Lalu dihentikan. Diganti Discovery Sport.

    Banyak yang kira cerita selesai. Ternyata belum.

    Sabtu, 25 April 2028 malam, saya menyaksikan nama itu dibangkitkan lagi. Tapi bukan nostalgia. Ini proyek masa depan.

    Namanya: Freelander 8.

    Lucia Mau, CEO Internasional Freelander, menyebut posisinya jelas: “British premium intelligent all-terrain brand.”

    Kalimat pendek. Tapi dalam. Inggris untuk warisan. China untuk masa depan.

    Ada ironi di sini. Dulu Jaguar Land Rover membawa ilmu ke China. Sekarang justru bergantung pada teknologi China. Terbalik. Sangat terbalik.

    Dan Freelander baru ini bukan sekadar model mobil. Ini merek. Akan ada enam model dalam lima tahun. Memakai momentum global Chery di Wuhu.

    Dan itu bukan mimpi kosong. Karena Chery sedang melesat.

    Ekspor mereka 1,344 juta unit tahun 2025. Naik dari 114 ribu unit pada 2020. Lebih dari 10 kali lipat. Sulit menyebut itu normal. Hyper growth. Itu istilah yang cocok.

    Dan Freelander mau menumpang roket itu. Yang menarik justru siapa mengerjakan apa.

    JLR menyumbang desain. Branding. DNA Inggris. Selesai.

    Yang jadi otak proyek? Chery.

    Yang memasok kecerdasan? Huawei.

    Yang mengurus baterai? CATL.

    Kalau ini kolaborasi, pusat gravitasinya jelas sudah bergeser. Ke

    timur.

    Desain Freelander 8 ditangani Philip Simmons. Nama besar. Pernah menggambar Range Rover Velar. Defender. Dan Freelander lama. Tangan Eropa.

    Tapi isi mobil ini… China sekali.

    Panjangnya lebih dari 5.100 mm. Wheelbase di atas 3.000 mm. Besar sekali. Posisi duduk pengemudi tetap commanding position.

    Konfigurasi kursi 2+2+2. Enam penumpang. Baris kedua zero-gravity seats. Rasa first class. Senyaman Alphard. Bukan sekadar jargon.

    Platformnya pakai T1X milik Chery. Sudah teruji. Lalu teknologi intinya bikin banyak orang Eropa mungkin terdiam.

    Sistem intelligent driving memakai Huawei Qiankun terbaru.

    Dengan LiDAR 896-baris. Bukan sensor main-main. Level atas.

    Otak infotainment-nya memakai Qualcomm Snapdragon 8295P.

    Chip 5 nanometer automotive-grade. Terbaik saat ini. Bisa menggerakkan delapan layar sekaligus. Rendering 3D. Efek sangat halus. Respons cepat.

    Kabinnya seperti pusat komando. Bukan dashboard biasa.

    Urusan baterai lebih liar lagi. CATL menyiapkan Freevoy Range-

    Extended Hybrid Battery. Khusus all-terrain. Supercharging 6C. 360 kW. Sangat cepat.

    Cell-to-Pack generasi ketiga. Dibuat untuk aman. Sekaligus brutal.

    Lalu karena ini membawa nama Land Rover, off-road tidak boleh malu-malu. Mereka pasang i-ATS. Intelligent all-terrain system. Mereka menyebut world first. Berani sekali.

    Ada 9 mode terrain. Virtual central lock. Rear e-LSD. Dual chamber air suspension. Tiga differential lock. Peredam proaktif.

    L2+ ADAS. Advance Valet Parking. ACC. AEB. TJA. BSD. RCW. APA. RPA. Daftarnya panjang. Nyaris seperti lembar teknologi pesawat.

    Banyak yang bilang Eropa kalah software.China unggul hardware. Freelander seperti menyatukan dua kubu itu. Maka ini menarik. Karena kelemahannya sulit dicari.

    Produksi massal dimulai semester dua 2026. Pabrik Changshu. Sangat otomatis. Robot. Welding otomatis.

    R&D center di Suzhou. Headquarter di Shanghai dan Wuhu.

    Investasi? USD1,5 miliar. Kalau dirupiahkan sekitar Rp25,5 triliun.

    Bukan proyek coba-coba. Yang lebih menarik lagi: Mesin bensin murni terakhir mereka — Range Rover Evoque — dihentikan.

    Dikorbankan. Demi memberi jalan untuk Freelander. Itu simbol. Mereka tidak main dua kaki. Sudah memilih.

    Rencana dealer? 100 outlet. 60 kota di China. Lalu ekspor.

    Awalnya Timur Tengah. Lalu Eropa. Inggris. Asia. Bukan tidak mungkin Asia Tenggara.

    Ada kutipan menarik dari analis Gartner, Pedro Pacheco: “Mereka tahu ini bukan lagi hanya soal China. Mereka butuh roadmap global.”

    Freelander persis itu. Roadmap global. Dengan badge Inggris. Tapi sistem China.

    Kalau dulu orang membeli Land Rover karena heritage… Besok mungkin orang membeli Freelander karena teknologi.

    Dan itu pergeseran zaman. Ini sebenarnya bukan sekadar peluncuran mobil. Ini pernyataan geopolitik industri. Bahwa China kini bukan sekadar pabrik. Tapi pemimpin teknologi.

    Wajahnya Inggris. Namanya Eropa. Tapi otaknya China. Ototnya China. Jantungnya China.

    Ironi? Mungkin. Atau mungkin masa depan.