Japanese hybrids are truly built differently.

Written by

in

Japanese hybrids are truly built differently. Silahkan nggak setuju juga boleh. Wkwkwk.

Harus diakui racikan Jepang—khususnya sistem e:HEV di Honda Civic FL—rasanya beda.

Ini bukan soal adu besar layar headunit atau kapasitas baterai, tapi Engineering.

Sensasi Berkendara (Driving Engagement) Civic (karena gue pake juga), rasanya seperti pulang ke rumah. Adem, nyaman, dan damai.

Seperti makan di Pagi Sore, memang mahal. Tapi selalu bisa memenuhi ekspektasi. Kita tahu akan makan dengan sangat nikmat. Tahu setiap detil lauk yang dipilih. Kikil cabe hijau, ubi tumbuk, ayam goreng.

Civic e:HEV bukan orang baru. Dia tetap Civic dengan semua sifat-sifatnya yang kita suka dan tidak. Tapi, dalam versi yang jauh lebih baik.

Pabrikan China banyak fokus pada karakter pure EV—mesin bensin cuma jadi generator malas.

Di Civic e:HEV, ada Linear Shift Control yang memanipulasi putaran mesin untuk meniru perpindahan gigi transmisi konvensional saat gas diinjak dalam. Plus, saat highway cruising, kopling mekanis mengunci langsung ke mesin 2.0L Atkinson Cycle-nya. Karakter petrolhead-nya tetap hidup!

Mobil PHEV baterai besar (18-30++ kWh) bikin obesitas. Honda pake baterai Lithium-ion ringkas (hanya ~36 kg) di bawah jok belakang. Jadinya? Pusat gravitasi (center of gravity) makin rendah, sasis tetap rigid, dan handling khas Civic di tikungan tetap tajam tanpa gejala body roll berlebih.

Memang agak sulit dinalar mobil Rp700 juta tidak ada layar besar, ambient light dan gimmick visual lain. Tidak juga paling cepat di akselerasi 0-100 kpj. Tapi entah kenapa setiap menekan tombol start/stop mobil ini selalu muncul dopamin bahagia.

“Mobil sport harian yang disempurnakan oleh elektrifikasi” Mungkin terasa gimmick.

Tapi bagi yang masih mencari presisi kemudi, kematangan racikan sasis, dan fun to drive… racikan Jepang memang masih made different. 🇯🇵⚡️

Gimana menurut kalian? Tulis di kolom komentar! 👇