Kategori: Uncategorized

  • Japanese hybrids are truly built differently.

    Japanese hybrids are truly built differently.

    Japanese hybrids are truly built differently. Silahkan nggak setuju juga boleh. Wkwkwk.

    Harus diakui racikan Jepang—khususnya sistem e:HEV di Honda Civic FL—rasanya beda.

    Ini bukan soal adu besar layar headunit atau kapasitas baterai, tapi Engineering.

    Sensasi Berkendara (Driving Engagement) Civic (karena gue pake juga), rasanya seperti pulang ke rumah. Adem, nyaman, dan damai.

    Seperti makan di Pagi Sore, memang mahal. Tapi selalu bisa memenuhi ekspektasi. Kita tahu akan makan dengan sangat nikmat. Tahu setiap detil lauk yang dipilih. Kikil cabe hijau, ubi tumbuk, ayam goreng.

    Civic e:HEV bukan orang baru. Dia tetap Civic dengan semua sifat-sifatnya yang kita suka dan tidak. Tapi, dalam versi yang jauh lebih baik.

    Pabrikan China banyak fokus pada karakter pure EV—mesin bensin cuma jadi generator malas.

    Di Civic e:HEV, ada Linear Shift Control yang memanipulasi putaran mesin untuk meniru perpindahan gigi transmisi konvensional saat gas diinjak dalam. Plus, saat highway cruising, kopling mekanis mengunci langsung ke mesin 2.0L Atkinson Cycle-nya. Karakter petrolhead-nya tetap hidup!

    Mobil PHEV baterai besar (18-30++ kWh) bikin obesitas. Honda pake baterai Lithium-ion ringkas (hanya ~36 kg) di bawah jok belakang. Jadinya? Pusat gravitasi (center of gravity) makin rendah, sasis tetap rigid, dan handling khas Civic di tikungan tetap tajam tanpa gejala body roll berlebih.

    Memang agak sulit dinalar mobil Rp700 juta tidak ada layar besar, ambient light dan gimmick visual lain. Tidak juga paling cepat di akselerasi 0-100 kpj. Tapi entah kenapa setiap menekan tombol start/stop mobil ini selalu muncul dopamin bahagia.

    “Mobil sport harian yang disempurnakan oleh elektrifikasi” Mungkin terasa gimmick.

    Tapi bagi yang masih mencari presisi kemudi, kematangan racikan sasis, dan fun to drive… racikan Jepang memang masih made different. 🇯🇵⚡️

    Gimana menurut kalian? Tulis di kolom komentar! 👇

  • Peluncuran BYD M6 PHEV

    Peluncuran BYD M6 PHEV

    Merasa sangat terhormat ketika diminta BYD Indonesia untuk memberi testimoni terkait kesan pertama mencoba BYD M6 DM-i.

    Di acara peluncuran resmi mobil tersebut di Spike Air Dome, CBD PIK 2, Senin malam. Yang dihadiri lebih dari 600-an diler, media, Board of Director BYD APAC, termasuk Vice President of BYD Global Liu Xueliang. Yang ditayangkan di channel YouTube BYD global.

    Saya tidak sendiri. Tapi, bersama Michele dari Suara.com, yang timnya memenangkan tantangan paling irit saat test drive BYD M6 DM-i.

    Sampai-sampai om @b_channel_indonesia bercanda, BYD DM itu memang dibuat pas Danang dan Michele ya. Wkwkwkw.

    Seharian sudah menghapal apa yang mau disampaikan.

    Sudah siap “yapping”. Tapi, sometimes shit just happens. Begitu banyak sebenarnya yang ingin disampaikan. Tiba-tiba nervous dan otak berhenti berfungsi. Hahaha.

    Well, terkadang sudah berusaha semaksimalnya tapi hasil tidak semaksimal yang kita inginkan, begitulah hidup.

  • Masa depan otomotif bukan cuma di jalan raya, tapi di udara!

    Masa depan otomotif bukan cuma di jalan raya, tapi di udara!

    Saya sudah lihat debut eVTOL (electric Vertical Take-off and Landing) punya Honda di Jepang. Sudah dengar penjelasan langsung soal “Land Aircraft Carrier” XPeng di Hong Kong.

    Di China saya lihat lagi raksasa teknologi dan manufaktur dari China CATL bikin kendaraan terbang sebagai solusi pamungkas mengatasi macetnya perkotaan!

    Ini bukan mobil pribadi. Tapi taksi terbang. Namanya AutoFlight Prosperity.Taksi udara otonom super canggih yang didesain untuk mobilitas cepat antarkota.

    Era transportasi udara ini bisa terwujud berkat kemajuan di kepadatan energi baterai EV.

    Raksasa baterai seperti CATL dan BYD berhasil memangkas waktu charging hingga hanya butuh 5 sampai 15 menit.

    Selain itu, gebrakan ini didukung penuh oleh rencana 5 tahun pemerintah China (2026–2030) untuk membangun “Low-Altitude Economy” (ekonomi ketinggian rendah di bawah 3.000 meter) demi mempercepat sertifikasi taksi udara komersial.

    Kalau teknologi ini masuk ke Indonesia, kamu berani cobain naik ini buat commuting tiap hari nggak? Bogor-Jakarta cuma 10 menit enak juga kali ya.

    Coba drop pendapat kamu di kolom komentar!

  • Strategi Honda Lawan Mobil China 2026: Tinggalkan Target Full EV, Fokus ke Hybrid

    Strategi Honda Lawan Mobil China 2026: Tinggalkan Target Full EV, Fokus ke Hybrid

    Honda akhirnya menyerah.

    Setidaknya menyerah untuk satu hal: mimpi menjadi merek mobil full listrik pada 2040.

    Target itu resmi dicabut. Langsung oleh bos global Honda: Toshihiro Mibe. Dalam pertemuan bisnis hari ini. Kalimatnya sederhana: “Tidak realistis lagi”.

    Berarti mesin bensin masih panjang umur. Hybrid justru jadi penyelamat.

    Keputusan ini menarik. Apalagi datang di saat pasar Indonesia sedang berubah cepat. Mobil-mobil China mulai mengacak-acak peta lama.

    Honda yang dulu nyaman di papan atas kini mulai terdesak. Data Gaikindo April 2026 sudah bicara keras.

    Honda wholesales tinggal 2.363 unit. Posisi ke-9 nasional. Nyaris keluar dari 10 besar.

    Bandingkan dengan BYD: 4.625 unit. Jaecoo: 3.219 unit.

    Artinya ancaman itu nyata. Bukan lagi masa depan. Sudah terjadi sekarang.

    Padahal Honda dulu rajanya mobil rakyat perkotaan. Brio. HR-V. CR-V. Mobil-mobilnya identik dengan anak muda.

    Kini pasar berubah. Yang dicari bukan hanya merek. Tapi teknologi. Efisiensi. Dan sensasi baru.

    Honda sadar itu. Maka arah setir langsung dibelokkan. Bukan lagi full EV. Tapi hybrid.

    Honda akan meluncurkan 15 model hybrid generasi baru sampai Maret 2030. Fokus utamanya Amerika Utara. Tapi efeknya pasti global. Termasuk Indonesia.

    Mulai 2027 Honda memakai platform hybrid baru. Mesin baru. Sistem hybrid baru. Bahkan AWD elektrik baru.

    Efisiensi bahan bakar ditargetkan naik lebih 10 persen. Biaya sistem hybrid ditekan 30 persen dibanding sistem tahun 2023.

    Honda juga menyiapkan ADAS generasi baru mulai 2028.

    Bukan sekadar adaptive cruise control. Sistem ini bisa membantu setir, akselerasi, sampai navigasi dari titik awal sampai tujuan. Jalan tol maupun jalan biasa.

    Honda ingin hybrid terasa seperti EV. Tapi tanpa kecemasan charging.

    Strategi itu terasa masuk akal. Sebab pasar global ternyata belum siap sepenuhnya untuk EV murni.

    Mibe, bos Honda itu, mengaku lingkungan bisnis berubah terlalu cepat. Permintaan EV tidak setinggi prediksi awal dekade 2020-an.

    Akibatnya mahal. Sangat mahal. Honda mencatat kerugian terkait EV sebesar 1,579 triliun yen. Kalau dirupiahkan: Rp268,4 triliun.

    Itu membuat Honda mencatat rugi operasional 414,3 miliar yen. Sekitar Rp70,4 triliun. Salah satu kerugian terbesar dalam sejarah Honda.

    Proyek EV banyak dibatalkan.

    Honda 0 Sedan batal.

    Honda 0 SUV batal.

    Acura RSX listrik batal.

    Dua proyek Afeela bersama Sony juga mati sebelum lahir.

    Honda kini realistis. Mesin bensin tidak dibunuh.

    Hybrid dijadikan jembatan panjang menuju netral karbon 2050.

    Artinya Honda melihat dunia belum siap meninggalkan bensin sepenuhnya.

    Apalagi di negara berkembang seperti Indonesia. Infrastruktur charging masih timpang.

    Kekhawatiran soal EV dan baterainya masih tinggi. Nilai jual kembali belum sepenuhnya stabil.

    Maka hybrid dianggap jalan tengah paling aman.

    Apalagi Toyota sudah membuktikannya. Di Indonesia Toyota Veloz Hybrid langsung masuk lima besar nasional April 2026: 3.262 unit. Kijang Innova Hybrid juga masih perkasa.

    Honda tidak mau terlambat lebih jauh. Karena sekarang lawannya bukan cuma Toyota.

    Tapi China. BYD agresif. Jaecoo tiba-tiba meledak. Geely mulai merangsek. Denza stabil di 20 besar nasional.

    Honda tahu perang berikutnya bukan soal gengsi merek. Tapi kecepatan membaca pasar. Karena itu investasi Honda juga berubah total.

    Selama tiga tahun sampai 2029, Honda mengurangi investasi EV menjadi hanya 0,8 triliun yen atau sekitar Rp136 triliun.

    Sebaliknya, investasi hybrid dan mesin bensin mencapai 4,4 triliun yen. Setara Rp748 triliun.

    Software juga diguyur dana 1 triliun yen.

    Total investasi tiga tahun Honda mencapai 6,2 triliun yen. Sekitar Rp1.054 triliun.

    Honda juga mulai memangkas biaya besar-besaran.

    Mereka punya strategi “Triple Half”. Biaya pengembangan dipotong setengah.

    Waktu pengembangan dipotong setengah.

    Beban kerja pengembangan juga dipotong setengah.

    AI dipakai besar-besaran.

    Platform dibuat makin seragam.

    Komponen dipakai bersama lebih 60 persen antar model.

    Tujuannya sederhana: murah dan cepat. Karena merek China terlalu cepat bergerak.

    Honda bahkan mulai memakai banyak komponen lokal China dan India demi menekan biaya. Sesuatu yang dulu sulit dibayangkan dari pabrikan Jepang.

    Tapi dunia memang berubah.

    Dan Honda memilih bertahan hidup dulu. Bukan memaksakan idealisme EV penuh.

    Di Indonesia strategi itu mungkin justru cocok.

    Konsumen Indonesia belum sepenuhnya meninggalkan bensin. Tapi juga mulai tertarik elektrifikasi.

    Hybrid akhirnya jadi zona aman.

    Tidak perlu charging. Tidak takut antre SPKLU. Tapi tetap irit dan modern. Honda tampaknya membaca itu dengan sangat serius sekarang.

    Terlambat? Mungkin belum. Tapi waktu mereka juga tidak banyak lagi.

  • PHEV di Indonesia Belum Mati, tapi Juga Belum Jadi Raja

    PHEV di Indonesia Belum Mati, tapi Juga Belum Jadi Raja

    Penjualannya lambat. Tapi pabrikan China justru makin ramai membawa model baru.

    Mobil listrik murni (EV) luar biasa ramai. Hybrid biasa sudah diterima. Tapi plug-in hybrid atau PHEV masih seperti anak tengah: tidak dibenci, tapi juga belum benar-benar dicintai.

    Penjualannya kecil. Sangat kecil (lihat grafik).

    Dari 46 unit di 2021, turun ke 10 unit di 2022, lalu mulai naik ke 128 unit, 136 unit, melonjak ke 5.270 unit di 2025. Itu artinya ada pertumbuhan.

    Tapi skalanya masih sangat kecil dibanding EV murni (103.931 unit di 2025) maupun hybrid biasa (65.943 unit).

    Tapi anehnya, pabrikan China justru ramai-ramai membawa PHEV ke Indonesia. Wuling sudah. BYD siap. Chery jalan terus.

    Changan juga ikut. Bahkan model REEV atau range extender mulai muncul.

    Artinya satu: mereka melihat sesuatu yang belum dilihat pasar Indonesia hari ini.

    PHEV sebenarnya menawarkan kompromi paling masuk akal: Bisa jalan pakai bensin. Bisa juga pakai listrik.

    Tidak ada rasa takut kehabisan baterai di tengah jalan. Tapi tetap lebih hemat dibanding mobil bensin biasa.

    Masalahnya justru ada di tengah itu.

    Orang Indonesia yang sudah siap pindah ke listrik biasanya langsung memilih EV murni. Apalagi dengan benefit pajak dan non fiskal (bebas Gage). Sementara yang belum siap, memilih hybrid biasa.

    PHEV akhirnya terjebak di antara dua dunia.

    Harga juga jadi soal.

    PHEV umumnya jauh lebih mahal dibanding hybrid biasa. Tapi belum semurah EV yang semakin agresif.

    Konsumen Indonesia akhirnya bertanya sederhana: “Kalau tetap harus isi bensin, kenapa tidak sekalian hybrid biasa?”

    Padahal secara teknologi, PHEV jauh lebih canggih.

    Baterainya lebih besar. Motor listriknya lebih kuat. Bahkan banyak PHEV modern bisa berjalan lebih dari 150 KM hanya dengan tenaga listrik/baterai.

    Chery percaya diri membawa teknologi Super Hybrid. BYD juga mulai serius dengan DM-i. Changan menyiapkan REEV (Range Extender Electric Vehicle).

    Semua datang dengan satu logika: Indonesia belum siap full EV, tapi mulai bosan dengan mobil bensin biasa.

    Mereka tidak salah.

    Infrastruktur charging Indonesia memang tumbuh. Tapi belum merata. Kalah cepat dengan tumbuhnya pengguna EV.

    Di luar kota besar, SPKLU masih jarang. Di kota-kota besar, antrean ngecas bikin tidak nyaman.

    Di titik inilah PHEV sebenarnya paling masuk akal. Bisa dicas di rumah. Tapi kalau lupa ngecas, mobil tetap jalan.

    Tidak bikin panik. Tidak ada range anxiety atau charging anxiety.

    Masalah berikutnya adalah pajak dan positioning.

    Di Indonesia, insentif terbesar justru diberikan ke EV murni. PHEV tidak mendapat perlakuan seistimewa itu. Akibatnya harga jual sulit kompetitif. Pajak mahal terasa beban.

    Padahal di China, PHEV justru sedang meledak.

    Sepanjang 2025, China jual 34,531,000 unit mobil. PHEV terjual 5,861,000 unit (+14%).

    Sedangkan BEV 10,622,000 unit (+37.6%). Total New Energy Vehicle (NEV): 16,490,000 unit. Sisanya (sekitar 47%) masih bensin/ICE.

    BYD bahkan menjadikan teknologi plug-in hybrid sebagai senjata utama sebelum EV mereka benar-benar dominan.

    Banyak konsumen Tiongkok merasa PHEV lebih realistis untuk transisi.

    Indonesia tampaknya menuju arah yang sama. Tapi lebih lambat.

    Pasar Indonesia unik. Konsumen masih sangat sensitif soal harga. Sangat mempertimbangkan resale value. Dan masih trauma soal baterai.

    Karena itu hybrid biasa lebih cepat diterima. Tidak perlu colok listrik. Tidak perlu adaptasi besar. Tidak ribet.

    PHEV akhirnya seperti teknologi yang masih “kepagian”. Belum gagal. Tapi juga belum waktunya.

    Namun ada satu tanda menarik: pabrikan China tidak mundur. Itu penting.

    Karena mereka terkenal sangat agresif membaca pasar. Kalau mereka tetap membawa PHEV, berarti mereka yakin 3-5 tahun ke depan pasar Indonesia akan berubah.

    Apalagi nantinya harga baterai mulai turun. Teknologi makin murah. SPKLU lebih merata. Konsumen juga mulai terbiasa dengan charging.

    Saat itu terjadi, PHEV bisa berubah posisi. Dari produk bingung menjadi jembatan utama menuju elektrifikasi penuh.

    Kini posisinya masih menggantung. Belum meledak. Tapi juga belum selesai.

    Dan justru di situlah menariknya pasar otomotif Indonesia hari ini. (*)

  • Bukan Cuma Suara, Mikrofon Ini Juga Soal Gaya

    Bukan Cuma Suara, Mikrofon Ini Juga Soal Gaya

    Kecil sekali. Tapi justru itu kekuatannya. DJI Mic Mini 2. Bobotnya hanya 11 gram. Hampir tidak terasa saat dipakai.

    Saya tahunya pun saat berada di Beijing belum lama ini. “Cak, DJI baru rilis mic baru,” kata teman.

    “Oh ya? Ya sudah ayo ke DJI Store,”.

    ”Setiap ke China harus mampir ke store DJI ya Cak?,” tulis teman lain di kolom Instagram.

    Tahun lalu saya juga beli DJI Mic Mini di Shanghai. Karena setengah harga di Indonesia, Rp300 ribu.

    Tidak menyesal, karena mikrofon sekarang jadi alat kerja content creator. Juga jurnalis.

    DJI Mic Mini 2 praktis. Semua disatukan dalam satu kotak. Charging case. Isinya lengkap: transmitter, receiver, aksesoris.

    Tidak perlu bongkar tas.

    Tidak perlu setup lama.

    Buka. Pakai. Rekam.

    Soal suara, DJI tidak main-main. Rekaman 48kHz 24-bit. Standar audio studio.

    Ada tiga preset suara: Regular. Rich. Bright. Artinya, pengguna tidak perlu banyak setting.

    Tinggal pilih karakter suara. Lingkungan juga diperhitungkan. Ada dua level noise cancelling. Untuk indoor dan outdoor.

    Di jalan ramai tetap bisa dipakai. Di ruangan tenang tetap bersih.

    Fitur lain tidak kalah penting:

    Auto limiting. Gain sampai 5 level. Dual-track recording via aplikasi DJI Mimo.

    Ini penting untuk editing. Ada backup audio kalau level terlalu tinggi.

    Desainnya juga tidak biasa. Ada cover depan magnetik. Bisa diganti warna. Standarnya hitam dan putih. Tambahan warna dijual terpisah. Harga cover: 99 yuan. Sekitar Rp252 ribu.

    DJI bahkan menggandeng ilustrator Victo Ngai. Hasilnya empat tema: Dawn, Surge, Blaze, Glimmer.

    Biasanya mikrofon disembunyikan. Sekarang justru ditampilkan.

    Soal koneksi, fleksibel. Bisa ke kamera. Smartphone. Samsung S26 Ultra. iPhone. Laptop. Tablet.

    Bahkan bisa langsung ke perangkat DJI seperti Osmo Pocket 3 dan Action 6. Tanpa receiver tambahan. Ini mempercepat workflow.

    Jarak transmisi juga jauh. Hingga 400 meter dengan receiver standar. Atau 300 meter dengan mobile receiver.

    Untuk creator lapangan, ini penting. Daya tahan juga panjang.

    Transmitter: 11,5 jam

    Receiver: 10,5 jam

    Dengan case, total bisa sampai 48 jam.

    Charging cepat juga ada.

    Isi 5 menit → pakai 1 jam.

    Harga?

    Versi paling murah: 179 yuan = Rp456 ribu.

    Paket lengkap: 599–698 yuan = Rp1,52 juta – Rp1,78 juta.

    Pasar content creator makin besar. Semua butuh audio yang jelas. Tapi tidak semua mau ribet.

    DJI tahu yang diinginkan pasar. Mereka tidak hanya jual kualitas suara. Mereka jual kemudahan. Dan sekarang, ditambah gaya.

    Mikrofon tidak lagi sekadar alat. Tapi bagian dari tampilan.

  • Menguak Mitos Mobil Listrik: Fast Charging dan Ngecas 20%-80% Bikin Baterai EV Cepat Soak?

    Menguak Mitos Mobil Listrik: Fast Charging dan Ngecas 20%-80% Bikin Baterai EV Cepat Soak?

    Banyak orang waswas soal baterai mobil listrik. Takut cepat soak. Takut harganya selangit saat harus ganti. Hasil riset Geotab bikin pemilik mobil listrik menarik nafas lega.

    Geotab tidak main-main. Mereka menganalisis 22.700 unit kendaraan listrik. Meliputi 21 model yang berbeda. Bukan data simulasi di laboratorium. Ini data asli dari jalan raya.

    Hasilnya: baterai mobil listrik modern itu sangat kokoh.

    Rata-rata penyusutan kapasitasnya hanya 2,3 persen setahun. Begitulah datanya.

    Artinya: setelah 8 tahun, sisa napas baterai Anda masih 81,6 persen. Itu sudah lebih dari cukup untuk umur rata-rata kendaraan.

    Tapi, ada “tapi”-nya.

    1. Musuh utamanya satu: High-power DC fast charging.

    Terutama yang di atas 100 kW. Itu seperti memberi “pukulan” keras ke sel baterai.

    Mobil yang terlalu sering pakai fast charging (lebih dari 12 persen dari total pengisian) susutnya lebih cepat: 2,5 persen setahun.

    Kalau dayanya di atas 100 kW, angka susutnya naik jadi 3 persen. Bandingkan dengan yang jarang fast charging: hanya susut 1,5 persen.

    Artinya: fast charging hanya untuk darurat. Hindari yang terlalu cepat : up to 100 kW. Cas dirumah bikin baterai awet.

    2. Faktor kedua: suhu.

    Ini yang sering luput dari pemilik EV. Baterai tidak suka panas. Di daerah yang sering suhu di atas 25 derajat Celsius—seperti Indonesia—degradasi baterai lebih cepat 0,4 persen dibanding daerah sejuk. Kimia di dalam sel baterai jadi lebih stres kalau kepanasan.

    Artinya: sebisa mungkin mobil jangan dijemur. Cari parkiran yang teduh/sejuk.

    3. Lalu soal mitos 20-80 persen

    Banyak ahli menyarankan jangan nge-cas sampai 100 persen. Juga jangan sampai nol. Benar, tapi tidak usah terlalu pusing.

    Pabrikan sudah pintar. Mereka sudah memasang “pagar” perangkat lunak (buffer). Angka 100 persen di layar Anda sebenarnya belum benar-benar penuh secara kimiawi.

    Data menunjukkan: penyusutan baru akan melonjak kalau mobil dibiarkan dalam kondisi penuh (100 persen) atau kosong melompong (0 persen) dalam waktu yang sangat lama. Yakni lebih dari 80 persen dari total waktu hidup mobil itu. Kalau dipakai harian? Aman saja.

    4. Bagaimana dengan penggunaan berat?

    Memang, mobil yang sering diajak lari jauh otomatis susutnya lebih besar. Naik 0,8 persen.

    Tapi bagi Anda pemilik EV, ini tetap menguntungkan. Dampak produktivitas Anda jauh melampaui biaya susut baterainya. Di perusahaan, ROI (Return on Investment) tercapai lebih cepat.

    Satu hal lagi: perkembangan teknologi. Mobil-mobil keluaran terbaru punya manajemen panas yang lebih baik. Hasilnya, degradasi makin stabil. Jadi, pakailah mobil listrik Anda. Jangan terlalu banyak khawatir!

  • Laporan dari Tingkok #7: EREV: Jalan Tengah yang Diam-Diam Jadi Jawaban Industri Otomotif

    Laporan dari Tingkok #7: EREV: Jalan Tengah yang Diam-Diam Jadi Jawaban Industri Otomotif

    Mobil listrik belum sepenuhnya menang di pasar global.

    Hybrid yang dulu dianggap solusi pun mulai kehilangan momentumnya.

    Yang justru naik pelan, tapi pasti: EREV (Extended Range Electric Vehicle). Mobil listrik jangkauan jauh.

    Beijing Auto Show 2026 seperti memberi jawaban atas kebingungan itu.

    Tidak banyak yang menyadari sejak awal. Namun hampir semua pabrikan besar kini diam-diam mengarah ke teknologi ini.

    EREV bukan mobil listrik murni seperti BEV (Battery Electric Vehicle).

    Tapi juga bukan hybrid konvensional seperti yang kita kenal selama ini.

    Mesin bensinnya tidak menggerakkan roda sama sekali.

    Fungsinya hanya sebagai generator untuk mengisi baterai.

    Sementara roda sepenuhnya digerakkan motor listrik.

    Artinya, sensasi berkendaranya tetap seperti mobil listrik. Halus, responsif, tanpa perpindahan gigi. Namun tanpa rasa cemas kehabisan baterai di tengah perjalanan jauh.

    Di sinilah letak kekuatan EREV.

    6 tahun lalu sudah ada Nissan Kicks e-Power. EREV tanpa plug-in dengan baterai lebih kecil (2,1 kWh). EREV sekarang baterainya jumbo.

    Lihat saja iCar V27.

    Mobil ini memiliki panjang 5,045 meter, lebar 1,09 meter, dan tinggi 1,89 meter, dengan wheelbase mencapai 2.900 mm.

    Mesin yang digunakan berkapasitas 1.5 liter turbo.

    Namun sekali lagi, hanya berfungsi sebagai generator.

    Penggerak utamanya adalah dua motor listrik (versi AWD).

    Total tenaga mencapai 335 kW atau setara 449 hp.

    Akselerasi 0–100 km/jam hanya 5,5 detik.

    Jarak tempuh listrik murninya mencapai 280 km.

    Sedangkan jarak total kombinasi bisa mencapai 1.350 km.

    iCar V27 EREV menggendong 34.3 kWh, lebih besar dari BYD Atto 1 tipe Dynamic.

    Full baterai saja bisa 200-210 km. Dengan mesin 1.5L turbo range extender tembus 1.000-1.200 km.

    Data tahun 2026 mulai menunjukkan arah yang jelas. Di China, EREV kini sudah menguasai lebih dari 12 persen pasar kendaraan listrik.

    Bahkan pada kuartal ketiga 2025, penjualannya sempat menembus lebih dari 100.000 unit per bulan.

    Di sisi lain, pertumbuhan mobil listrik murni mulai melambat.

    Tidak lagi melonjak seperti beberapa tahun sebelumnya.

    Industri mulai realistis. Tidak semua negara siap langsung beralih ke mobil listrik penuh.

    Terutama negara berkembang seperti Indonesia.

    Infrastruktur charging belum merata.

    Perjalanan jarak jauh masih menjadi kekhawatiran utama konsumen.

    EREV hadir sebagai solusi praktis. Tidak lagi sekadar soal efisiensi bahan bakar. Kini ia juga bicara soal performa dan fleksibilitas penggunaan.

    Pabrikan Eropa pun mulai mengubah strategi. Volkswagen dan Audi, yang sebelumnya sangat fokus pada BEV, kini mulai memasukkan EREV dalam rencana produk mereka.

    Mereka menyiapkan lebih dari 20 model elektrifikasi baru pada 2026.

    Sebagian di antaranya adalah EREV. Ini sinyal penting bagi industri global.

    Pasar tidak lagi hanya mengikuti idealisme teknologi. Pasar mulai mengikuti kebutuhan nyata konsumen.

    Indonesia sendiri mulai menunjukkan sinyal awal. Changan sudah memberikan teaser Deepal S05. Model ini bukan hybrid biasa. Ia menggunakan sistem EREV.

    Artinya arah perkembangan sudah mulai terlihat.

    Mengapa EREV mulai unggul? Jawabannya sederhana, tapi sebagian akan setuju.

    Pertama, pengalaman berkendara yang sepenuhnya elektrik.

    Tidak ada perpindahan gigi.

    Tidak ada hentakan tenaga.

    Semuanya halus seperti mobil listrik murni.

    Kedua, kapasitas baterai yang semakin besar. Generasi terbaru EREV menggunakan baterai 30–50 kWh.

    Dengan kapasitas itu, mobil bisa menempuh 200–300 km hanya dengan listrik. Untuk penggunaan harian di kota seperti Jakarta, itu sudah lebih dari cukup.

    Sebagian besar pengguna bahkan tidak perlu menggunakan bensin selama hari kerja. Mesin hanya aktif saat perjalanan jauh.

    Ketiga, tidak bergantung penuh pada infrastruktur charging. Ini menjadi keunggulan utama di negara berkembang.

    EREV tetap bisa berjalan meski jaringan SPKLU belum merata. Karena selalu ada cadangan energi dari mesin bensin.

    Keempat, fleksibilitas penggunaan yang tinggi. Satu mobil bisa berfungsi sebagai kendaraan listrik harian.

    Sekaligus kendaraan jarak jauh tanpa kompromi. Inilah yang membuat EREV menjadi titik tengah yang ideal.

    Data pasar semakin memperkuat tren ini.

    Di China, kendaraan plug-in (PHEV dan EREV) sudah menyumbang lebih dari 50 persen penjualan mobil baru pada 2025.

    Artinya lebih dari separuh pasar sudah bergerak ke elektrifikasi. Dan EREV menjadi bagian penting dari pergeseran itu.

    Namun tantangan tetap ada. Persaingan semakin ketat.

    Lebih dari 40 model EREV kini sudah beredar di pasar. Perang harga mulai tidak terhindarkan.

    Pertumbuhan industri juga mulai melambat ke kisaran 13–14 persen di 2026.

    Ini fase seleksi alam. Hanya pemain yang kuat dan efisien yang akan bertahan.

    Namun satu hal sudah jelas. EREV bukan sekadar tren sementara. Ia adalah jembatan penting menuju masa depan otomotif.

    Jembatan dari mesin bensin menuju listrik penuh. Dan untuk Indonesia, jembatan itu terasa sangat relevan. Apalagi, setelah pajak mobil listrik tidak akan sangat murah seperti sebelumnya.

    Namun, PHEV/EREV belum menemukan momentum di Indonesia.

    Penjualan PHEV sepanjang 2025 hanya 5.270 unit. Bandingkan dengan hybrid 65.943 unit. Dan EV 103.931 unit.

    Andai PHEV/EREV diberi kelonggaran pajak sama dengan EV, dijamin pertumbuhannya bisa lebih dari dua digit.