Tag: Yin Tongyue

  • Laporan dari Tiongkok #5: Yin Tongyue Ingin Chery Sejajar dengan Toyota dan Apple

    Laporan dari Tiongkok #5: Yin Tongyue Ingin Chery Sejajar dengan Toyota dan Apple

    Pendiri Chery Yin Tongyue tidak sedang membual. Angkanya bicara sendiri.

    Tahun 2025 menjadi saksi betapa Chery Motor Indonesia sudah “meledak”.

    Penjualan pabrikan mobil dari kota kecil Wuhu itu tembus 2,8 juta unit.

    Yang luar biasa: hampir 30 persennya adalah kategori NEV (kendaraan energi baru). Mereka sudah ada di 130 negara dengan 14.000 karyawan di luar negeri.

    Tapi bagi Yin, angka cuma akibat. Sebabnya ada pada filosofi.

    Setidaknya ada lima poin besar yang ditekankan Yin Tongyue dalam pidatonya di hadapan 1.000 mitra dari 120 negara yang berkumpul di Wuhu, Anhui, Selasa (28/4):

    1. Inovasi di Atas Profit

    Banyak bos perusahaan hanya pening memikirkan laba. Yin beda.

    Bagi Chery, kemampuan inovasi jauh lebih penting daripada sekadar keuntungan jangka pendek. Tahun ini saja, Chery tidak tanggung-tanggung menggelontorkan investasi 30 miliar Yuan (sekitar Rp69 Triliun).

    Uang sebanyak itu lari ke mana? Ke sistem R&D global “1+7+N”. Mereka meriset segalanya: mulai dari baterai solid-state, energi hijau, hingga chip pintar dan AI.

    Bahkan, mereka membuat arsitektur AI sendiri CheryClaw. Tujuannya satu: memiliki otak terpintar di industri otomotif.

    2. Kualitas Bukan Sekadar Volume

    Yin terang-terangan menyebut satu nama: Toyota. Bahkan Toyota disebut 2 kali dalam pidaotnya. Chery ingin menjadikan standar kualitas tertinggi Toyota sebagai patokan global mereka.

    Chery memperkuat tim kualitas dunia, memperbaiki fisik produk, layanan servis, hingga ketersediaan suku cadang. “Tanpa kualitas, volume penjualan hanya akan jadi beban di masa depan,” beber Yin.

    3. Jalan Bareng Raksasa Dunia

    Chery sadar mereka tidak bisa pintar sendirian. Maka, mereka menggandeng para “naga” teknologi dunia: NVIDIA, Bosch, Qualcomm, CATL, hingga ByteDance (pemilik TikTok).

    Strateginya cerdik: Chery membangun “rak teknologi super” agar mitra-mitra mereka bisa mendapatkan senjata terbaik.

    4. Filosofi “Warga Global”

    Ini yang menarik. Yin memperkenalkan slogan baru: “In somewhere, For somewhere, Be somewhere”. Chery tidak mau cuma datang, jualan, lalu bawa pulang uang ke Tiongkok.

    Mereka ingin menyatu dengan ekosistem industri lokal. Membangun pabrik lokal, memakai rantai pasok lokal, hingga menciptakan lapangan kerja di tempat mereka berjualan.

    Contoh nyatanya adalah proyek EBRO di Spanyol. Mobil Chery harus punya “rasa” lokal.

    5. “Long-termism” dan Silsilah Keluarga

    Yin sangat menyentuh saat bicara soal hubungan jangka panjang. Banyak mitra diler Chery adalah bisnis keluarga yang sudah bekerja sama selama 10 hingga 20 tahun.

    Yin terharu melihat generasi kedua—anak-anak para diler itu—kini sudah menjadi CEO dan bos. “Ini bukan transaksi sekali putus. Ini hubungan selamanya,” beber Yin.

    Berharap Capai Usia 100 Tahun

    Tahun depan, Chery akan merayakan ulang tahun ke-30. Ambisi Yin Tongyue sudah melampaui aspal jalanan.

    Ia ingin Chery sejajar dengan Apple dan Toyota—menjadi merek kelas atas dunia yang punya pengaruh global.

    Yin ingin Chery menjadi perusahaan yang hidup 100 tahun atau lebih.

    Pesannya kepada tim Chery International: harus benar-benar internasional, menghormati mitra, dan mau mendengarkan masukan pengguna.

  • Laporan dari Tiongkok #3 : Kisah Nekat Wuhu Membangun Imperium Chery Group

    Laporan dari Tiongkok #3 : Kisah Nekat Wuhu Membangun Imperium Chery Group

    Chery Group Chery Motor Indonesia tidak lahir di Beijing. Bukan juga di Shanghai, pusat industri terbesar di China itu.

    Ia lahir di Wuhu. Sebuah kota yang dulu nyaris tidak punya hubungan dengan industri otomotif.

    Tahun 1995. Wuhu hanyalah kota perdagangan dan tekstil di Provinsi Anhui.

    Tidak ada sejarah otomotif.

    Tidak ada pabrik mobil.

    Tidak ada rantai pasok.

    Tapi ada satu hal yang mereka miliki: ambisi besar untuk berubah. Pemerintah kota Wuhu tiba-tiba mengambil keputusan yang tidak biasa. Mereka ingin punya industri sendiri. Bukan industri kecil. Tapi industri berat: otomotif. Pilihan yang sangat berisiko.

    Mereka kemudian merekrut satu orang penting. Namanya Yin Tongyue. Saat itu bekerja di FAW-Volkswagen.

    Masih muda, tapi dikenal sebagai insinyur berbakat. Ia diminta pulang ke kampung halamannya di Anhui.

    Tahun 1997. Wuhu membentuk perusahaan. Namanya belum Chery. Masih Anhui Auto Parts Co., Ltd.

    Modalnya dari pemerintah kota. Bukan dari pusat. Di sinilah titik pembeda utama Chery dibanding pabrikan China lain.

    Jika pabrikan besar seperti SAIC, FAW, Dongfeng, dan Changan adalah “anak pusat”, maka Chery adalah “anak daerah”.

    Konsekuensinya besar. Kalau gagal, bukan hanya perusahaan yang jatuh. Ekonomi kota Wuhu ikut runtuh.

    Maka mereka tidak punya pilihan selain berhasil. Masalahnya banyak. Tidak punya teknologi. Tidak punya fasilitas. Bahkan tidak punya izin produksi nasional. Tapi proyek tetap berjalan.

    Mesin pertama Chery bahkan bukan buatan sendiri.

    Wuhu membeli satu lini produksi mesin bekas dari pabrik Ford di Dagenham, Inggris. Dirakit ulang di China. Di mana? Di gudang-gudang kosong. Di bangunan seadanya.

    Orang dalam Chery menyebut fase ini sebagai “thatched hut spirit” — semangat gubuk jerami.

    Masalah berikutnya lebih serius. Chery tidak bisa menjual mobil secara nasional. Tidak punya lisensi.

    Solusinya unik. Wuhu “menikahkan” Chery dengan SAIC. SAIC mengambil 20 persen saham.

    Sebagai imbalannya, Chery bisa menggunakan lisensi nasional SAIC. Ini jalan pintas untuk bertahan hidup. Meski, hubungan itu tidak berlangsung lama.

    Tahun 2003, Chery sudah cukup kuat. Wuhu membeli kembali saham SAIC. Chery resmi berdiri sendiri. Dari titik ini, karakter Chery terbentuk.

    Berbeda dengan “Big Four” China yang bergantung pada joint venture dengan brand global seperti Volkswagen, GM, atau Toyota, Chery tidak punya kemewahan itu. Mereka dipaksa untuk mengembangkan teknologi sendiri.

    Mulai dari mesin ACTECO. Transmisi CVT dan DHT. Platform kendaraan. Semua dibangun dari nol.

    Itulah sebabnya Chery sering disebut sebagai “perusahaan para insinyur”.

    Dan semua itu berpusat di satu tempat: Wuhu.

    Wuhu bukan hanya lokasi pabrik. Ia adalah pusat kendali (command center).

    Di sana ada Longshan R&D Center. Salah satu pusat riset terbesar di China.

    Struktur global Chery pun unik. Mereka menyebutnya model “1+7+N”.

    Satu pusat utama di Wuhu. Tujuh pusat riset global — termasuk di Frankfurt, Barcelona, dan Sao Paulo. Dan jaringan tambahan di berbagai negara.

    Tapi semua tetap kembali ke Wuhu. Tidak hanya riset. Wuhu juga menjadi pusat integrasi industri Chery.

    Di sana ada galangan kapal. Bisnis properti. Layanan keuangan. Semua saling terhubung.

    Inilah yang membuat Chery berbeda. Mereka membangun ekosistem, bukan sekadar pabrik.

    Keterbatasan di dalam negeri juga membentuk strategi global mereka. Karena tidak punya dominasi seperti pemain besar di China,

    Chery memilih keluar. Ekspor pertama dilakukan tahun 2001 ke Suriah.

    Bukan pasar besar. Tapi awal dari strategi global. Hasilnya sekarang terlihat.

    Selama 22 tahun berturut-turut, Chery menjadi eksportir mobil nomor satu dari China.

    Dan Wuhu menjadi titik awal semua pencapaian itu. (*)