Tag: danang arradian

  • Laporan dari Tiongkok #6: Mobil Tidak Lagi Butuh Sopir, Bisa Berpikir dan Mengambil Keputusan Sendiri

    Laporan dari Tiongkok #6: Mobil Tidak Lagi Butuh Sopir, Bisa Berpikir dan Mengambil Keputusan Sendiri

    Mobil tidak lagi butuh sopir. Sebentar lagi, mungkin juga tidak butuh peta.

    Itu yang terasa di Beijing Auto Show 2026.

    China sudah menang di mobil listrik. Butuh 25 tahun.

    Sekarang mereka tidak mau menunggu selama itu lagi.

    Target berikutnya: AI di semua mobil.

    Pemerintah China sudah memberi arah. Namanya: “AI Plus”. AI harus masuk ke semua sektor. Termasuk otomotif.

    Tujuannya jelas: lepas dari ketergantungan chip Amerika.

    Sudah tidak ada lagi batas antara perusahaan mobil dan perusahaan teknologi. “Sudah tidak ada bedanya,” kata Stephen Ma dari Nissan China.

    Kalimat itu sederhana. Tapi artinya dalam.

    Xpeng sudah memulai. Mobilnya tidak perlu koordinat. Cukup bilang: “Parkir dekat pintu masuk mall.” Mobil akan cari sendiri.

    Xiaomi lebih jauh lagi. Lewat HyperOS. Mobil bisa: pesan restoran, order kopi, mencatat aktivitas, bahkan membaca emosi pengemudi. Kalau Anda stres, mobil akan menenangkan Anda.

    Konsep ini mengingatkan saya ke Honda NeuV (New Electric Urban Vehicle) saat meliput Tokyo Motor Show 2020 dulu.

    Saat itu Honda sudah punya konsep “emotion engine”. Lewat AI, mobil jadi teman pengemudi: tahu kapan marah, sedih, senang.

    Kata Dan Hearsch dari AlixPartners: AI di mobil China dibuat agar “lebih mudah dikendarai, lebih mudah diajak berinteraksi,”.

    Raja teknologi China Huawei siapkan investasi besar. Lebih dari USD 10 miliar. Sekitar Rp170 triliun. Untuk satu hal: komputasi mobil pintar. Karena perang berikutnya adalah ini: chip.

    Selain Xpeng dengan chip Turingnya, BYD, Geely, NIO, mulai bikin chip sendiri. Tujuannya sederhana: tidak tergantung perusahaan Amerika Nvidia.

    Horizon Robotics meluncurkan Starry 6. Satu chip. Tapi bisa mengatur: mengemudi, kabin, hingga 12 layar sekaligus. Mobil berubah jadi komputer berjalan.

    Lalu Chery. Mereka tidak mau ketinggalan. Malah lompat lebih jauh. Tidak lagi mau disebut pabrikan mobil.

    Mereka ingin jadi: AI-driven global technology ecosystem. Strateginya sudah lama.

    2014–2020: kumpulkan teknologi

    2021–2024: mulai diterapkan

    2026: AI jadi pusat segalanya

    Mereka masuk fase baru. Namanya: AI 2.0 Slogannya: AI untuk manusia. Sistemnya lengkap. Ada:

    AI Power

    AI Chassis

    AI Cockpit

    AI Pilot

    AI Safety

    Semua dikendalikan satu otak: Chery AIOS. Datanya tidak kecil. Menganalisa 6,8 juta kendaraan. 21 juta klip video.

    Model AI: 14 miliar sampai 20 miliar parameter. Mobil belajar dari dunia nyata.

    Hasilnya: Falcon Pilot. Mobil bisa berpikir. Tidak butuh peta HD. Bisa mengambil keputusan sendiri.

    Target berikutnya: Robocar ONE. Produksi massal: kuartal 4 2026. Level otonom: L2 sampai L4. Sistem lengkap: rem, kemudi, daya, sensor — semua ada cadangan.

    AI juga masuk ke baterai. Chery melakukan 1 juta iterasi desain.

    Hasilnya: Baterai solid-state.

    Jarak: 1.000 km.

    Energi: ≥400 Wh/kg.

    Kapasitas: 60 Ah

    Target validasi: 2027.

    Bahkan produksi mobil ikut berubah. Dengan Digital Twin: Analisis kecelakaan 100x lebih cepat.

    Simulasi berkurang 60%. Waktu pengembangan turun 30%. Bobot mobil lebih ringan 10%.

    Kata sekjen OICA (Gaikindo level dunia) Francois Roudier:“Ini bukan transisi. Ini revolusi.”

    Memang terasa seperti itu. Dulu mobil hanya alat. Sekarang mobil jadi agen.

    Bisa berpikir.

    Bisa belajar.

    Bisa mengambil keputusan.

    Kalau ini benar-benar terjadi, yang berubah bukan hanya mobil. Tapi seluruh industri otomotif dunia.

  • Laporan dari Tiongkok #5: Yin Tongyue Ingin Chery Sejajar dengan Toyota dan Apple

    Laporan dari Tiongkok #5: Yin Tongyue Ingin Chery Sejajar dengan Toyota dan Apple

    Pendiri Chery Yin Tongyue tidak sedang membual. Angkanya bicara sendiri.

    Tahun 2025 menjadi saksi betapa Chery Motor Indonesia sudah “meledak”.

    Penjualan pabrikan mobil dari kota kecil Wuhu itu tembus 2,8 juta unit.

    Yang luar biasa: hampir 30 persennya adalah kategori NEV (kendaraan energi baru). Mereka sudah ada di 130 negara dengan 14.000 karyawan di luar negeri.

    Tapi bagi Yin, angka cuma akibat. Sebabnya ada pada filosofi.

    Setidaknya ada lima poin besar yang ditekankan Yin Tongyue dalam pidatonya di hadapan 1.000 mitra dari 120 negara yang berkumpul di Wuhu, Anhui, Selasa (28/4):

    1. Inovasi di Atas Profit

    Banyak bos perusahaan hanya pening memikirkan laba. Yin beda.

    Bagi Chery, kemampuan inovasi jauh lebih penting daripada sekadar keuntungan jangka pendek. Tahun ini saja, Chery tidak tanggung-tanggung menggelontorkan investasi 30 miliar Yuan (sekitar Rp69 Triliun).

    Uang sebanyak itu lari ke mana? Ke sistem R&D global “1+7+N”. Mereka meriset segalanya: mulai dari baterai solid-state, energi hijau, hingga chip pintar dan AI.

    Bahkan, mereka membuat arsitektur AI sendiri CheryClaw. Tujuannya satu: memiliki otak terpintar di industri otomotif.

    2. Kualitas Bukan Sekadar Volume

    Yin terang-terangan menyebut satu nama: Toyota. Bahkan Toyota disebut 2 kali dalam pidaotnya. Chery ingin menjadikan standar kualitas tertinggi Toyota sebagai patokan global mereka.

    Chery memperkuat tim kualitas dunia, memperbaiki fisik produk, layanan servis, hingga ketersediaan suku cadang. “Tanpa kualitas, volume penjualan hanya akan jadi beban di masa depan,” beber Yin.

    3. Jalan Bareng Raksasa Dunia

    Chery sadar mereka tidak bisa pintar sendirian. Maka, mereka menggandeng para “naga” teknologi dunia: NVIDIA, Bosch, Qualcomm, CATL, hingga ByteDance (pemilik TikTok).

    Strateginya cerdik: Chery membangun “rak teknologi super” agar mitra-mitra mereka bisa mendapatkan senjata terbaik.

    4. Filosofi “Warga Global”

    Ini yang menarik. Yin memperkenalkan slogan baru: “In somewhere, For somewhere, Be somewhere”. Chery tidak mau cuma datang, jualan, lalu bawa pulang uang ke Tiongkok.

    Mereka ingin menyatu dengan ekosistem industri lokal. Membangun pabrik lokal, memakai rantai pasok lokal, hingga menciptakan lapangan kerja di tempat mereka berjualan.

    Contoh nyatanya adalah proyek EBRO di Spanyol. Mobil Chery harus punya “rasa” lokal.

    5. “Long-termism” dan Silsilah Keluarga

    Yin sangat menyentuh saat bicara soal hubungan jangka panjang. Banyak mitra diler Chery adalah bisnis keluarga yang sudah bekerja sama selama 10 hingga 20 tahun.

    Yin terharu melihat generasi kedua—anak-anak para diler itu—kini sudah menjadi CEO dan bos. “Ini bukan transaksi sekali putus. Ini hubungan selamanya,” beber Yin.

    Berharap Capai Usia 100 Tahun

    Tahun depan, Chery akan merayakan ulang tahun ke-30. Ambisi Yin Tongyue sudah melampaui aspal jalanan.

    Ia ingin Chery sejajar dengan Apple dan Toyota—menjadi merek kelas atas dunia yang punya pengaruh global.

    Yin ingin Chery menjadi perusahaan yang hidup 100 tahun atau lebih.

    Pesannya kepada tim Chery International: harus benar-benar internasional, menghormati mitra, dan mau mendengarkan masukan pengguna.

  • Laporan dari Tiongkok #2: Freelander 8: Wajah Inggris, Otak China, Nama Baru Penguasa SUV Global

    Laporan dari Tiongkok #2: Freelander 8: Wajah Inggris, Otak China, Nama Baru Penguasa SUV Global

    Freelander. Nama tua itu hidup lagi.

    Sudah mati sejak 2015. Sekarang lahir kembali. Tapi dengan darah berbeda.

    Lebih rumit. Lebih ambisius. Dan mungkin lebih berbahaya buat lawan-lawannya.

    Dulu Freelander adalah kebanggaan Inggris. Lahir 1997. SUV pertama Land Rover yang memakai sasis monokok. Bukan body-on-frame. Itu revolusioner pada zamannya.

    Lebih nyaman di kota. Tetap sanggup ke tanah berat. Kompak. Premium. Bisa dijangkau.

    Maka Eropa jatuh cinta. Freelander pernah menjadi SUV 4×4 terlaris di Eropa. Terjual 840.000 unit sepanjang sejarahnya. Lalu dihentikan. Diganti Discovery Sport.

    Banyak yang kira cerita selesai. Ternyata belum.

    Sabtu, 25 April 2028 malam, saya menyaksikan nama itu dibangkitkan lagi. Tapi bukan nostalgia. Ini proyek masa depan.

    Namanya: Freelander 8.

    Lucia Mau, CEO Internasional Freelander, menyebut posisinya jelas: “British premium intelligent all-terrain brand.”

    Kalimat pendek. Tapi dalam. Inggris untuk warisan. China untuk masa depan.

    Ada ironi di sini. Dulu Jaguar Land Rover membawa ilmu ke China. Sekarang justru bergantung pada teknologi China. Terbalik. Sangat terbalik.

    Dan Freelander baru ini bukan sekadar model mobil. Ini merek. Akan ada enam model dalam lima tahun. Memakai momentum global Chery di Wuhu.

    Dan itu bukan mimpi kosong. Karena Chery sedang melesat.

    Ekspor mereka 1,344 juta unit tahun 2025. Naik dari 114 ribu unit pada 2020. Lebih dari 10 kali lipat. Sulit menyebut itu normal. Hyper growth. Itu istilah yang cocok.

    Dan Freelander mau menumpang roket itu. Yang menarik justru siapa mengerjakan apa.

    JLR menyumbang desain. Branding. DNA Inggris. Selesai.

    Yang jadi otak proyek? Chery.

    Yang memasok kecerdasan? Huawei.

    Yang mengurus baterai? CATL.

    Kalau ini kolaborasi, pusat gravitasinya jelas sudah bergeser. Ke

    timur.

    Desain Freelander 8 ditangani Philip Simmons. Nama besar. Pernah menggambar Range Rover Velar. Defender. Dan Freelander lama. Tangan Eropa.

    Tapi isi mobil ini… China sekali.

    Panjangnya lebih dari 5.100 mm. Wheelbase di atas 3.000 mm. Besar sekali. Posisi duduk pengemudi tetap commanding position.

    Konfigurasi kursi 2+2+2. Enam penumpang. Baris kedua zero-gravity seats. Rasa first class. Senyaman Alphard. Bukan sekadar jargon.

    Platformnya pakai T1X milik Chery. Sudah teruji. Lalu teknologi intinya bikin banyak orang Eropa mungkin terdiam.

    Sistem intelligent driving memakai Huawei Qiankun terbaru.

    Dengan LiDAR 896-baris. Bukan sensor main-main. Level atas.

    Otak infotainment-nya memakai Qualcomm Snapdragon 8295P.

    Chip 5 nanometer automotive-grade. Terbaik saat ini. Bisa menggerakkan delapan layar sekaligus. Rendering 3D. Efek sangat halus. Respons cepat.

    Kabinnya seperti pusat komando. Bukan dashboard biasa.

    Urusan baterai lebih liar lagi. CATL menyiapkan Freevoy Range-

    Extended Hybrid Battery. Khusus all-terrain. Supercharging 6C. 360 kW. Sangat cepat.

    Cell-to-Pack generasi ketiga. Dibuat untuk aman. Sekaligus brutal.

    Lalu karena ini membawa nama Land Rover, off-road tidak boleh malu-malu. Mereka pasang i-ATS. Intelligent all-terrain system. Mereka menyebut world first. Berani sekali.

    Ada 9 mode terrain. Virtual central lock. Rear e-LSD. Dual chamber air suspension. Tiga differential lock. Peredam proaktif.

    L2+ ADAS. Advance Valet Parking. ACC. AEB. TJA. BSD. RCW. APA. RPA. Daftarnya panjang. Nyaris seperti lembar teknologi pesawat.

    Banyak yang bilang Eropa kalah software.China unggul hardware. Freelander seperti menyatukan dua kubu itu. Maka ini menarik. Karena kelemahannya sulit dicari.

    Produksi massal dimulai semester dua 2026. Pabrik Changshu. Sangat otomatis. Robot. Welding otomatis.

    R&D center di Suzhou. Headquarter di Shanghai dan Wuhu.

    Investasi? USD1,5 miliar. Kalau dirupiahkan sekitar Rp25,5 triliun.

    Bukan proyek coba-coba. Yang lebih menarik lagi: Mesin bensin murni terakhir mereka — Range Rover Evoque — dihentikan.

    Dikorbankan. Demi memberi jalan untuk Freelander. Itu simbol. Mereka tidak main dua kaki. Sudah memilih.

    Rencana dealer? 100 outlet. 60 kota di China. Lalu ekspor.

    Awalnya Timur Tengah. Lalu Eropa. Inggris. Asia. Bukan tidak mungkin Asia Tenggara.

    Ada kutipan menarik dari analis Gartner, Pedro Pacheco: “Mereka tahu ini bukan lagi hanya soal China. Mereka butuh roadmap global.”

    Freelander persis itu. Roadmap global. Dengan badge Inggris. Tapi sistem China.

    Kalau dulu orang membeli Land Rover karena heritage… Besok mungkin orang membeli Freelander karena teknologi.

    Dan itu pergeseran zaman. Ini sebenarnya bukan sekadar peluncuran mobil. Ini pernyataan geopolitik industri. Bahwa China kini bukan sekadar pabrik. Tapi pemimpin teknologi.

    Wajahnya Inggris. Namanya Eropa. Tapi otaknya China. Ototnya China. Jantungnya China.

    Ironi? Mungkin. Atau mungkin masa depan.