Tag: china

  • Subaru Pasang Harga Rp1,2 Miliar untuk WRX Edisi Ceri

    Subaru Pasang Harga Rp1,2 Miliar untuk WRX Edisi Ceri

    Subaru Indonesia meluncurkan Subaru WRX STI Cherry Red Sport Edition seharga Rp1,2 miliar on the road Jakarta, Sabtu (3/10/2026). Edisi khusus ini hadir ketika penjualan Subaru merosot di tengah pasar mobil nasional yang tumbuh.

    Peluncuran berlangsung dalam ajang SUBARUVERSE yang digelar PT Plaza Auto Mega, agen pemegang merek Subaru di Indonesia sejak Februari 2020.

    Mobil ini dibangun dari Subaru WRX Sedan bertransmisi CVT dengan warna dasar Ceramic White dan aksen Cherry Red, warna identitas STI (Subaru Tecnica International).

    Paket eksteriornya meliputi STI Spoiler Front, Side, Rear Quarter, dan Rear Under Diffuser, skirt lip, door mirror cover, Dry Carbon Rear Spoiler, serta Sports Grille STI.

    Untuk pengendalian, Subaru memasang Flexible Tower Bar for CVT, Flexible Draw Stiffener Rear, dan pelek Enkei PF09 R18x9.0. Detail lain berupa battery holder, tutup oli dan radiator STI, STI Shift Knob, STI Valve Cap Set, dan STI Door Handle Protector.

    Daftar itu menunjukkan label STI pada mobil ini merujuk pada paket aero dan komponen sasis, bukan perubahan mesin.

    Basisnya pun CVT, berbeda dari WRX STI generasi lama yang identik dengan transmisi manual.

    Sebagai pembanding, WRX tS EyeSight dibanderol Rp994,5 juta, sehingga paket Cherry Red menambah sekitar Rp205,5 juta.

    Edisi khusus menjadi strategi Subaru menjaga daya tarik merek. Pada GIIAS 2026, Subaru juga meluncurkan WRX Wagon STI Cherry Blossom Special Edition seharga Rp1,262 miliar.

    Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat wholesales Subaru pada Januari-Agustus 2026 hanya 127 unit, turun 36,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Penjualan ritelnya turun 45,3 persen. Hingga Juli, ritel Subaru 93 unit, dari 154 unit setahun sebelumnya.

    Penurunan itu berlawanan dengan arah pasar. Wholesales nasional Januari-Agustus 2026 naik 20,1 persen menjadi 599.491 unit, didorong mobil listrik berbaterai (BEV) yang mencapai 101.171 unit atau 16,9 persen pasar. Sepuluh besar BEV seluruhnya diisi merek China. Pangsa Subaru kini sekitar 0,02 persen.

    Executive General Manager Subaru Indonesia Edward Kencono menyebut SUBARUVERSE sebagai cara memperlihatkan banyak sisi Subaru.

    “Dari performa dan petualangan hingga keluarga, lifestyle, dan komunitas, semuanya memiliki satu benang merah, yaitu menghadirkan pengalaman yang memberikan Confidence in Motion untuk setiap perjalanan,” ujarnya.

    Untuk mendongkrak transaksi, diler Plaza Subaru menawarkan bunga 0 persen untuk Outback dan WRX, uang muka ringan khusus Outback, potongan hingga 50 persen untuk Subaru Lifestyle Gear, 15 persen untuk aksesori STI, serta penawaran hingga Rp20 juta untuk paket aksesori STI Forester.

    Pengunjung juga dapat mengikuti test drive dan AWD Challenge untuk menjajal Symmetrical All-Wheel Drive.

    Seluruh mobil Subaru mendapat garansi 3 tahun atau 100.000 kilometer, servis berkala gratis 3 tahun, dan Subaru Roadside Assistance 5 tahun.

    Fakta kunci

    1. Harga: WRX STI Cherry Red Sport Edition dijual Rp1,2 miliar OTR Jakarta, sekitar Rp205,5 juta di atas WRX tS EyeSight.

    2. Basis: Mobil ini memakai WRX Sedan bertransmisi CVT. Ada 17 komponen STI dan performa, tanpa ubahan mesin.

    3. Sasis: Flexible Tower Bar khusus CVT, Flexible Draw Stiffener Rear, dan pelek Enkei PF09 R18x9.0.

    4. Penjualan: Wholesales Subaru Januari–Agustus 2026 sebanyak 127 unit (turun 36,8 persen), dan ritelnya turun 45,3 persen.

    5. Pasar: Pasar nasional naik 20,1 persen menjadi 599.491 unit, dengan BEV menguasai 16,9 persen.

  • Dibalik Kalimat Jujur Bos Honda: “Kita Nggak Punya Kesempatan Menang Melawan China!”

    Dibalik Kalimat Jujur Bos Honda: “Kita Nggak Punya Kesempatan Menang Melawan China!”

    Toshihiro Mibe terbang ke Shanghai akhir Februari 2026 lalu. Posisinya: Presiden dan CEO Honda Motor.

    Di sana ia masuk ke sebuah pabrik suku cadang otomotif. Pabrik itu juga memasok komponen untuk Tesla. Mibe berkeliling.

    Memperhatikan dengan saksama. Lalu ia terdiam.

    Tidak ada satu pun manusia di lantai produksi itu. Semua dikerjakan robot. Otomatisasi total. Dari pengadaan bahan hingga logistik.

    “Kita tidak punya kesempatan melawan ini,” gumam Mibe sekembalinya dari Shanghai, seperti dilaporkan Nikkei Asia.

    Itu bukan kalimat basa-basi. Itu seolah jadi ratapan keputusasaan dari bos raksasa otomotif Jepang yang punya sejarah 70 tahun.

    Pulang ke Jepang, ia langsung mengumpulkan para penyuplai suku cadangnya. “Kita harus bertindak cepat,” perintahnya. Digitalisasi harus segera dikebut.

    Apa yang membuat Mibe begitu ngeri? “Kecepatan China” (China Speed).

    Merek-merek China bisa merancang, menguji, dan memproduksi model mobil baru dari nol hingga siap jual hanya dalam waktu 18 sampai 24 bulan. Sesuatu yang gila. Pabrikan Jepang, Amerika, atau Eropa butuh waktu dua kali lipat lebih lama. Empat sampai lima tahun.

    Akibatnya sudah terasa di kantong Honda. Jualan mereka di China—yang dulunya tambang emas—hancur lebur.

    Tahun 2020, Honda masih bisa jualan 1,62 juta mobil di sana.

    Tahun lalu (2025), angkanya nyungsep jadi 640.000 unit saja.

    Turun lima tahun berturut-turut. Tahun 2026 ini, mereka diprediksi hanya akan bikin kurang dari 600.000 mobil.

    Padahal kapasitas pabrik Honda di China itu sanggup bikin 1,2 juta mobil setahun. Artinya, tingkat utilitas pabrik mereka sekarang cuma sekitar 50 persen. Padahal, pabrik otomotif minimal harus jalan 70 sampai 80 persen hanya untuk bisa balik modal. Sisanya? Rugi.

    Buntutnya fatal. Honda membatalkan dua proyek mobil listrik murninya (0 SUV dan 0 Sedan), menyetop proyek kebangkitan Acura RSX, dan mengubur mimpi memproduksi Afeela—mobil hasil patungan dengan Sony.

    Akibatnya, Honda harus menanggung kerugian hingga Rp268,6 triliun (USD 15,8 miliar).

    Saya dan CEO Honda Toshihiro Mibe di pameran Japan Mobility Show 2025.

    Tapi, jangan kira cuma Honda yang merinding. Ketakutan yang sama juga menjalar ke petinggi otomotif dunia lainnya.

    Mantan CEO Toyota, Koji Sato, juga mengumpulkan 484 perusahaan penyuplainya. Nada bicaranya sama persis dengan Mibe: “Kalau kita tidak berubah, kita tidak akan bertahan. Saya ingin semua orang mengakui rasa krisis ini.”

    Itu Toyota. Pembuat mobil terbesar di dunia enam tahun berturut-turut.

    Di Amerika Serikat, nada sumbang juga terdengar dari Bos Ford, Jim Farley. “Mereka (China) punya kapasitas produksi yang cukup untuk melayani seluruh pasar Amerika Utara, dan membuat kita semua gulung tikar,” kata Farley kepada CBS.

    China kini menguasai 70 persen produksi mobil listrik global. BYD sudah melampaui Tesla. Di Eropa, BYD dan SAIC pelan-pelan mulai menggerogoti pangsa pasar merek Jepang.

    Lalu apa yang dilakukan Honda sekarang?

    Mibe mengambil keputusan putar balik. Mulai 1 April 2026, ia memindahkan ribuan insinyur ke anak perusahaan baru yang berdiri sendiri. Intinya: divisi Riset dan Pengembangan (R&D) Honda yang dulu sempat dilebur, kini dipisahkan lagi.

    Diberi kebebasan. Mirip cara pendirinya, Soichiro Honda, di tahun 1960-an. Saat itu R&D diberi keleluasaan penuh melahirkan mesin CVCC (Compound Vortex Controlled Combustion) yang legendaris.

    Di dunia yang makin beringas ini, menyerah memang bukan pilihan. Tapi berlomba melawan robot-robot yang tak kenal lelah di Shanghai, jelas butuh lebih dari sekadar mengembalikan para insinyur ke lab mereka. (*)