Tag: chery group

  • Honda Kaget, Volkswagen Belajar: China Kini Jadi Guru Industri Mobil Dunia

    Honda Kaget, Volkswagen Belajar: China Kini Jadi Guru Industri Mobil Dunia

    Dulu dunia mengajari China membuat mobil. Sekarang dunia datang ke China untuk belajar.

    Honda datang ke Shanghai. Lalu pulang dengan wajah murung.

    Bukan karena mobilnya tidak laku. Tapi karena melihat pabrik mobil China.

    Saking canggihnya. Saking otomatisnya. Saking cepatnya.

    Sampai CEO Honda Toshihiro Mibe berkata kepada media Jepang: “Kami tidak punya kesempatan melawan ini.”

    Kalimat itu berat. Karena keluar dari mulut bos salah satu perusahaan otomotif terbesar di dunia.

    Dulu China adalah murid. Sekarang China menjadi guru. Dulu pabrikan Barat mengajari mereka membuat mobil.

    Sekarang pabrikan Barat belajar bagaimana membuat mobil dari mereka.

    Perubahannya sangat cepat. Bahkan terlalu cepat.

    Saya berkunjung ke Auto China 2026. Pameran otomotif terbesar di dunia. Saya melihat sesuatu yang membuat banyak pabrikan global gelisah.

    Mobil bukan lagi sekadar mesin. Mobil berubah menjadi komputer beroda. Atau lebih tepatnya: smartphone yang bisa berjalan.

    Itulah yang sedang dikerjakan China. Mereka tidak hanya membuat mobil. Mereka membuat ekosistem.

    Mobil. Telepon genggam. Rumah pintar. Aplikasi. Robot. Semuanya terhubung.

    Lihat Xiaomi. Baru bikin mobil sejak 2024. Tapi kini sudah menjadi salah satu merek mobil listrik terlaris di China.

    Strateginya sederhana. Kalau ponsel Xiaomi bisa bicara dengan smart home Xiaomi. Maka mobil Xiaomi juga harus bisa bicara dengan keduanya. Satu ekosistem. Satu aplikasi. Satu kehidupan digital.

    Kecepatannya juga mengagetkan.

    Di pabrik Xiaomi dekat Beijing, satu mobil keluar dari jalur produksi setiap 76 detik.

    Bukan setiap jam. Bukan setiap beberapa menit. Tapi setiap 76 detik.

    Di Hefei, pabrik Nio bahkan hampir sepenuhnya otomatis. Robot bekerja. Manusia mengawasi. Bukan sebaliknya.

    BYD lebih ekstrem lagi. Mereka sudah memiliki teknologi pengisian daya ultra cepat.

    Dalam lima menit. Ya, lima menit. Mobil bisa mendapat tambahan jarak tempuh 400 kilometer. Hampir sama dengan waktu mengisi bensin.

    400 kilometer itu setara perjalanan Jakarta-Semarang. Setara menunggu kopi Starbucks selesai dibuat barista.

    China juga unggul dalam biaya produksi.

    Menurut International Energy Agency, biaya membuat SUV listrik kecil di China setidaknya 30 persen lebih murah dibanding negara maju.

    Salah satu penyebabnya adalah baterai.

    Penyebab lain: rantai pasok. Semuanya ada. Semuanya dekat. Semuanya terintegrasi.

    Keunggulan itu tidak datang tiba-tiba.

    Riset Rhodium Group menyebut pemerintah China menggelontorkan puluhan miliar dolar untuk industri kendaraan listrik dan baterai. Puluhan miliar dolar.

    Jika dikonversi ke rupiah nilainya mencapai ratusan triliun rupiah. Hasilnya mulai terlihat sekarang.

    Dampaknya terasa di mana-mana. Pangsa pasar merek asing di China turun drastis.

    Tahun 2020 masih 64 persen. Tahun ini tinggal 32 persen. Hilang separuh. Dalam lima tahun.

    General Motors terpukul. Pabrikan Jerman terpukul. Pabrikan Jepang juga terpukul. Bahkan merek mewah ikut terpukul.

    Ada mobil baru bernama Maextro S800. Buatan Huawei. Mobil sedan mewah ini kini menjadi mobil terlaris di China untuk segmen harga di atas USD100.000. Setara sekitar Rp1,78 miliar.

    Mobil itu mengalahkan Porsche Panamera.

    Mengalahkan BMW Seri 7. Dua nama yang dulu hampir tak tersentuh di pasar premium China.

    Ford juga mulai khawatir. CEO Ford Jim Farley mengatakan: “Kami sedang berjuang untuk hidup kami.”

    Bukan kalimat yang biasa keluar dari bos perusahaan sebesar Ford.

    Maka hubungan antara Barat dan China ikut berubah. Dulu Barat membawa teknologi. China menyediakan pabrik.

    Sekarang kebalikannya mulai terjadi. Volkswagen membayar USD700 juta kepada XPeng. Setara sekitar Rp12,46 triliun.

    Tujuannya bukan membeli pabrik. Bukan membeli saham. Tapi membeli akses teknologi software dan sistem mengemudi otomatis.

    Karena mereka merasa terlalu lambat mengembangkannya sendiri.

    Stellantis juga berubah. Mereka menandatangani kerja sama senilai 1 miliar euro.

    Setara sekitar Rp20,6 triliun. Dengan Dongfeng. Mobil China bahkan akan diproduksi di Eropa.

    Situasi yang sulit dibayangkan sepuluh tahun lalu. Namun bukan berarti China tanpa masalah.

    Pasar domestik mereka mulai melambat. Perang harga membuat margin keuntungan menipis.

    Kapasitas produksi terlalu besar. Mobil terlalu banyak. Persaingan terlalu keras. Karena itu mereka keluar.

    Menyerbu pasar dunia. BYD. Chery. SAIC. XPeng. Geely. Satu per satu.

    Masuk Eropa.

    Masuk Timur Tengah.

    Masuk Amerika Selatan.

    Masuk Asia Tenggara. Termasuk Indonesia.

    Jaecoo 7 hanya dalam 14 bulan sudah menjadi salah satu mobil baru terlaris di Inggris. Jaecoo J5 juga memimpin penjualan mobil listrik di Indonesia lebih dari 4 bulan berturut-turut.

    Padahal mereknya nyaris tidak dikenal sebelumnya.

    Sepanjang 2025 penjualan mobil di Indonesia turun. Tapi, pangsa pasar mobil China di Indonesia naik lebih dari 2x. Sudah tembus 15% (113.258 unit) di 2025 dari hanya 6,2% di 2024.

    Amerika memang masih menutup pintu. Tarif impor mobil China di sana bisa lebih dari 100 persen.

    Tapi dunia lebih luas daripada Amerika. Dan China tahu itu.

    Analis otomotif Bill Russo punya kesimpulan menarik. Kesalahan terbesar dunia Barat adalah mengira transisi ini hanya soal mobil listrik.

    Padahal bukan. Ini soal siapa yang akan memimpin teknologi mobilitas generasi berikutnya.

    Dan saat ini. Pusat gravitasinya sudah bergeser. Ke China. (*)

  • Laporan dari Tiongkok #6: Mobil Tidak Lagi Butuh Sopir, Bisa Berpikir dan Mengambil Keputusan Sendiri

    Laporan dari Tiongkok #6: Mobil Tidak Lagi Butuh Sopir, Bisa Berpikir dan Mengambil Keputusan Sendiri

    Mobil tidak lagi butuh sopir. Sebentar lagi, mungkin juga tidak butuh peta.

    Itu yang terasa di Beijing Auto Show 2026.

    China sudah menang di mobil listrik. Butuh 25 tahun.

    Sekarang mereka tidak mau menunggu selama itu lagi.

    Target berikutnya: AI di semua mobil.

    Pemerintah China sudah memberi arah. Namanya: “AI Plus”. AI harus masuk ke semua sektor. Termasuk otomotif.

    Tujuannya jelas: lepas dari ketergantungan chip Amerika.

    Sudah tidak ada lagi batas antara perusahaan mobil dan perusahaan teknologi. “Sudah tidak ada bedanya,” kata Stephen Ma dari Nissan China.

    Kalimat itu sederhana. Tapi artinya dalam.

    Xpeng sudah memulai. Mobilnya tidak perlu koordinat. Cukup bilang: “Parkir dekat pintu masuk mall.” Mobil akan cari sendiri.

    Xiaomi lebih jauh lagi. Lewat HyperOS. Mobil bisa: pesan restoran, order kopi, mencatat aktivitas, bahkan membaca emosi pengemudi. Kalau Anda stres, mobil akan menenangkan Anda.

    Konsep ini mengingatkan saya ke Honda NeuV (New Electric Urban Vehicle) saat meliput Tokyo Motor Show 2020 dulu.

    Saat itu Honda sudah punya konsep “emotion engine”. Lewat AI, mobil jadi teman pengemudi: tahu kapan marah, sedih, senang.

    Kata Dan Hearsch dari AlixPartners: AI di mobil China dibuat agar “lebih mudah dikendarai, lebih mudah diajak berinteraksi,”.

    Raja teknologi China Huawei siapkan investasi besar. Lebih dari USD 10 miliar. Sekitar Rp170 triliun. Untuk satu hal: komputasi mobil pintar. Karena perang berikutnya adalah ini: chip.

    Selain Xpeng dengan chip Turingnya, BYD, Geely, NIO, mulai bikin chip sendiri. Tujuannya sederhana: tidak tergantung perusahaan Amerika Nvidia.

    Horizon Robotics meluncurkan Starry 6. Satu chip. Tapi bisa mengatur: mengemudi, kabin, hingga 12 layar sekaligus. Mobil berubah jadi komputer berjalan.

    Lalu Chery. Mereka tidak mau ketinggalan. Malah lompat lebih jauh. Tidak lagi mau disebut pabrikan mobil.

    Mereka ingin jadi: AI-driven global technology ecosystem. Strateginya sudah lama.

    2014–2020: kumpulkan teknologi

    2021–2024: mulai diterapkan

    2026: AI jadi pusat segalanya

    Mereka masuk fase baru. Namanya: AI 2.0 Slogannya: AI untuk manusia. Sistemnya lengkap. Ada:

    AI Power

    AI Chassis

    AI Cockpit

    AI Pilot

    AI Safety

    Semua dikendalikan satu otak: Chery AIOS. Datanya tidak kecil. Menganalisa 6,8 juta kendaraan. 21 juta klip video.

    Model AI: 14 miliar sampai 20 miliar parameter. Mobil belajar dari dunia nyata.

    Hasilnya: Falcon Pilot. Mobil bisa berpikir. Tidak butuh peta HD. Bisa mengambil keputusan sendiri.

    Target berikutnya: Robocar ONE. Produksi massal: kuartal 4 2026. Level otonom: L2 sampai L4. Sistem lengkap: rem, kemudi, daya, sensor — semua ada cadangan.

    AI juga masuk ke baterai. Chery melakukan 1 juta iterasi desain.

    Hasilnya: Baterai solid-state.

    Jarak: 1.000 km.

    Energi: ≥400 Wh/kg.

    Kapasitas: 60 Ah

    Target validasi: 2027.

    Bahkan produksi mobil ikut berubah. Dengan Digital Twin: Analisis kecelakaan 100x lebih cepat.

    Simulasi berkurang 60%. Waktu pengembangan turun 30%. Bobot mobil lebih ringan 10%.

    Kata sekjen OICA (Gaikindo level dunia) Francois Roudier:“Ini bukan transisi. Ini revolusi.”

    Memang terasa seperti itu. Dulu mobil hanya alat. Sekarang mobil jadi agen.

    Bisa berpikir.

    Bisa belajar.

    Bisa mengambil keputusan.

    Kalau ini benar-benar terjadi, yang berubah bukan hanya mobil. Tapi seluruh industri otomotif dunia.

  • Laporan dari Tiongkok #5: Yin Tongyue Ingin Chery Sejajar dengan Toyota dan Apple

    Laporan dari Tiongkok #5: Yin Tongyue Ingin Chery Sejajar dengan Toyota dan Apple

    Pendiri Chery Yin Tongyue tidak sedang membual. Angkanya bicara sendiri.

    Tahun 2025 menjadi saksi betapa Chery Motor Indonesia sudah “meledak”.

    Penjualan pabrikan mobil dari kota kecil Wuhu itu tembus 2,8 juta unit.

    Yang luar biasa: hampir 30 persennya adalah kategori NEV (kendaraan energi baru). Mereka sudah ada di 130 negara dengan 14.000 karyawan di luar negeri.

    Tapi bagi Yin, angka cuma akibat. Sebabnya ada pada filosofi.

    Setidaknya ada lima poin besar yang ditekankan Yin Tongyue dalam pidatonya di hadapan 1.000 mitra dari 120 negara yang berkumpul di Wuhu, Anhui, Selasa (28/4):

    1. Inovasi di Atas Profit

    Banyak bos perusahaan hanya pening memikirkan laba. Yin beda.

    Bagi Chery, kemampuan inovasi jauh lebih penting daripada sekadar keuntungan jangka pendek. Tahun ini saja, Chery tidak tanggung-tanggung menggelontorkan investasi 30 miliar Yuan (sekitar Rp69 Triliun).

    Uang sebanyak itu lari ke mana? Ke sistem R&D global “1+7+N”. Mereka meriset segalanya: mulai dari baterai solid-state, energi hijau, hingga chip pintar dan AI.

    Bahkan, mereka membuat arsitektur AI sendiri CheryClaw. Tujuannya satu: memiliki otak terpintar di industri otomotif.

    2. Kualitas Bukan Sekadar Volume

    Yin terang-terangan menyebut satu nama: Toyota. Bahkan Toyota disebut 2 kali dalam pidaotnya. Chery ingin menjadikan standar kualitas tertinggi Toyota sebagai patokan global mereka.

    Chery memperkuat tim kualitas dunia, memperbaiki fisik produk, layanan servis, hingga ketersediaan suku cadang. “Tanpa kualitas, volume penjualan hanya akan jadi beban di masa depan,” beber Yin.

    3. Jalan Bareng Raksasa Dunia

    Chery sadar mereka tidak bisa pintar sendirian. Maka, mereka menggandeng para “naga” teknologi dunia: NVIDIA, Bosch, Qualcomm, CATL, hingga ByteDance (pemilik TikTok).

    Strateginya cerdik: Chery membangun “rak teknologi super” agar mitra-mitra mereka bisa mendapatkan senjata terbaik.

    4. Filosofi “Warga Global”

    Ini yang menarik. Yin memperkenalkan slogan baru: “In somewhere, For somewhere, Be somewhere”. Chery tidak mau cuma datang, jualan, lalu bawa pulang uang ke Tiongkok.

    Mereka ingin menyatu dengan ekosistem industri lokal. Membangun pabrik lokal, memakai rantai pasok lokal, hingga menciptakan lapangan kerja di tempat mereka berjualan.

    Contoh nyatanya adalah proyek EBRO di Spanyol. Mobil Chery harus punya “rasa” lokal.

    5. “Long-termism” dan Silsilah Keluarga

    Yin sangat menyentuh saat bicara soal hubungan jangka panjang. Banyak mitra diler Chery adalah bisnis keluarga yang sudah bekerja sama selama 10 hingga 20 tahun.

    Yin terharu melihat generasi kedua—anak-anak para diler itu—kini sudah menjadi CEO dan bos. “Ini bukan transaksi sekali putus. Ini hubungan selamanya,” beber Yin.

    Berharap Capai Usia 100 Tahun

    Tahun depan, Chery akan merayakan ulang tahun ke-30. Ambisi Yin Tongyue sudah melampaui aspal jalanan.

    Ia ingin Chery sejajar dengan Apple dan Toyota—menjadi merek kelas atas dunia yang punya pengaruh global.

    Yin ingin Chery menjadi perusahaan yang hidup 100 tahun atau lebih.

    Pesannya kepada tim Chery International: harus benar-benar internasional, menghormati mitra, dan mau mendengarkan masukan pengguna.

  • Laporan dari Tiongkok #4: Masuk Ruang Tabrak Chery di Wuhu: Tiggo 7 Pro Ditabrakkan ke Tiggo 9 di Kecepatan 50 Kpj!

    Laporan dari Tiongkok #4: Masuk Ruang Tabrak Chery di Wuhu: Tiggo 7 Pro Ditabrakkan ke Tiggo 9 di Kecepatan 50 Kpj!

    Saya sedang di Wuhu. Di markas Chery. Di sebuah gedung seluas 32.000 meter persegi. Namanya: Crash Test Center. Investasinya tidak main-main: 150 juta Yuan (Rp328 miliar).

    Isinya? Alat-alat canggih untuk menghancurkan mobil.

    Minggu (26/4) siang, Chery melakukan live crash test. Kecepatannya 50 km/jam. Mobil yang dikorbankan ada 2: Tiggo 9 dan Tiggo 7 Pro bensin.

    Tiggo 7 Pro diluncurkan hingga 50 km/jam menabrak Tiggo 9 yang diam. Moncong mobil sama-sama hancur. Ini horror. Tapi, ternyata baik Tiggo 9 dan Tiggo 7 Pro sama-sama lulus. Pilar A dan B tetap tegak. Tidak bengkok.

    Kabin tetap utuh. Pintu masih bisa dibuka. Itu kuncinya: kalau terjadi kecelakaan, penumpang harus bisa keluar. Atau dikeluarkan.

    Kenapa Chery begitu ambisius? Targetnya jelas: bintang lima. Baik itu ANCAP maupun Euro NCAP.

    Di situ saya baru paham: crash test bukan tontonan tabrak-tabakan. Ini laboratorium hidup dan mati. Yang dinilai bukan bodi penyok. Tapi apakah penumpang masih punya ruang hidup.

    Apakah pilar A patah.

    Pilar B melintir.

    Pilar C meleyot.

    Apakah pintu masih bisa dibuka walau bonet mobil remuk?

    Apakah sabuk pengaman menarik tubuh sepersekian detik lebih cepat?

    Apakah airbag mekar tepat waktu?

    Itu semua diuji.

    Menariknya, bodi Tiggo 9 disebut memakai 85 persen high-strength steel.

    Orang sering salah paham. Makin keras baja bukan berarti makin aman. Yang penting distribusi kekuatan.

    Area depan boleh remuk. Kabinnya tidak boleh. Ini filosofi crash structure.

    Ada bagian yang memang dikorbankan agar energi benturan habis sebelum masuk kabin.

    Di situlah mahalnya rekayasa.

    Bukan di layar 15 inci.

    Bukan di sunroof.

    Bukan di ambient light.

    Tapi di bagian yang tak terlihat. Yang baru terasa saat kecelakaan.

    Fasilitas Wuhu ini juga dipakai memvalidasi standar lima bintang. Termasuk target memenuhi standar mirip ANCAP dan Euro NCAP.

    Standar yang menilai empat hal:

    Perlindungan dewasa.

    Perlindungan anak.

    Perlindungan pengguna jalan lain.

    Dan safety assist.

    Bukan cuma tabrakan. Tapi kecerdasan mencegah tabrakan. Crash test membaca seluruh filosofi mobil.

    Banyak yang ribut layar besar. Ribut fitur. Ribut harga. Padahal bagian yang tak kalah penting ada di las. Di struktur. Di laboratorium.

    Setelah mengunjungi laboratorium Wuhu pesan Chery jelas: Mereka tidak hanya ngejar murah. Tapi juga legitimasi dan kepercayaan. Yang tidak bisa dibeli dengan iklan.

    Tapi, harus dibuktikan dengan benturan. Berkali-kali.

  • Laporan dari Tiongkok #3 : Kisah Nekat Wuhu Membangun Imperium Chery Group

    Laporan dari Tiongkok #3 : Kisah Nekat Wuhu Membangun Imperium Chery Group

    Chery Group Chery Motor Indonesia tidak lahir di Beijing. Bukan juga di Shanghai, pusat industri terbesar di China itu.

    Ia lahir di Wuhu. Sebuah kota yang dulu nyaris tidak punya hubungan dengan industri otomotif.

    Tahun 1995. Wuhu hanyalah kota perdagangan dan tekstil di Provinsi Anhui.

    Tidak ada sejarah otomotif.

    Tidak ada pabrik mobil.

    Tidak ada rantai pasok.

    Tapi ada satu hal yang mereka miliki: ambisi besar untuk berubah. Pemerintah kota Wuhu tiba-tiba mengambil keputusan yang tidak biasa. Mereka ingin punya industri sendiri. Bukan industri kecil. Tapi industri berat: otomotif. Pilihan yang sangat berisiko.

    Mereka kemudian merekrut satu orang penting. Namanya Yin Tongyue. Saat itu bekerja di FAW-Volkswagen.

    Masih muda, tapi dikenal sebagai insinyur berbakat. Ia diminta pulang ke kampung halamannya di Anhui.

    Tahun 1997. Wuhu membentuk perusahaan. Namanya belum Chery. Masih Anhui Auto Parts Co., Ltd.

    Modalnya dari pemerintah kota. Bukan dari pusat. Di sinilah titik pembeda utama Chery dibanding pabrikan China lain.

    Jika pabrikan besar seperti SAIC, FAW, Dongfeng, dan Changan adalah “anak pusat”, maka Chery adalah “anak daerah”.

    Konsekuensinya besar. Kalau gagal, bukan hanya perusahaan yang jatuh. Ekonomi kota Wuhu ikut runtuh.

    Maka mereka tidak punya pilihan selain berhasil. Masalahnya banyak. Tidak punya teknologi. Tidak punya fasilitas. Bahkan tidak punya izin produksi nasional. Tapi proyek tetap berjalan.

    Mesin pertama Chery bahkan bukan buatan sendiri.

    Wuhu membeli satu lini produksi mesin bekas dari pabrik Ford di Dagenham, Inggris. Dirakit ulang di China. Di mana? Di gudang-gudang kosong. Di bangunan seadanya.

    Orang dalam Chery menyebut fase ini sebagai “thatched hut spirit” — semangat gubuk jerami.

    Masalah berikutnya lebih serius. Chery tidak bisa menjual mobil secara nasional. Tidak punya lisensi.

    Solusinya unik. Wuhu “menikahkan” Chery dengan SAIC. SAIC mengambil 20 persen saham.

    Sebagai imbalannya, Chery bisa menggunakan lisensi nasional SAIC. Ini jalan pintas untuk bertahan hidup. Meski, hubungan itu tidak berlangsung lama.

    Tahun 2003, Chery sudah cukup kuat. Wuhu membeli kembali saham SAIC. Chery resmi berdiri sendiri. Dari titik ini, karakter Chery terbentuk.

    Berbeda dengan “Big Four” China yang bergantung pada joint venture dengan brand global seperti Volkswagen, GM, atau Toyota, Chery tidak punya kemewahan itu. Mereka dipaksa untuk mengembangkan teknologi sendiri.

    Mulai dari mesin ACTECO. Transmisi CVT dan DHT. Platform kendaraan. Semua dibangun dari nol.

    Itulah sebabnya Chery sering disebut sebagai “perusahaan para insinyur”.

    Dan semua itu berpusat di satu tempat: Wuhu.

    Wuhu bukan hanya lokasi pabrik. Ia adalah pusat kendali (command center).

    Di sana ada Longshan R&D Center. Salah satu pusat riset terbesar di China.

    Struktur global Chery pun unik. Mereka menyebutnya model “1+7+N”.

    Satu pusat utama di Wuhu. Tujuh pusat riset global — termasuk di Frankfurt, Barcelona, dan Sao Paulo. Dan jaringan tambahan di berbagai negara.

    Tapi semua tetap kembali ke Wuhu. Tidak hanya riset. Wuhu juga menjadi pusat integrasi industri Chery.

    Di sana ada galangan kapal. Bisnis properti. Layanan keuangan. Semua saling terhubung.

    Inilah yang membuat Chery berbeda. Mereka membangun ekosistem, bukan sekadar pabrik.

    Keterbatasan di dalam negeri juga membentuk strategi global mereka. Karena tidak punya dominasi seperti pemain besar di China,

    Chery memilih keluar. Ekspor pertama dilakukan tahun 2001 ke Suriah.

    Bukan pasar besar. Tapi awal dari strategi global. Hasilnya sekarang terlihat.

    Selama 22 tahun berturut-turut, Chery menjadi eksportir mobil nomor satu dari China.

    Dan Wuhu menjadi titik awal semua pencapaian itu. (*)