Blog

  • Laporan dari Beijing #1: Cara Diam-Diam China Mengguncang Industri Mobil Dunia

    Laporan dari Beijing #1: Cara Diam-Diam China Mengguncang Industri Mobil Dunia

    Peta industri mobil dunia berubah. Diam-diam. Tapi cepat.

    Yang berubah bukan hanya pemain. Tapi cara bermainnya.

    Dulu Jepang.

    Lalu Eropa.

    Sekarang China.

    Itu terasa saat saya mengunjungi Beijing Auto Show 2026 atas undangan Chery Motor Indonesia.

    Lebih dari 1.450 mobil dipamerkan. Ada 181 world premiere. Bukan sekadar banyak. Tapi cepat. Teknologinya melompat.

    Lihat XPeng.

    Mereka rilis SUV enam penumpang XPeng GX. Kursi baris ketiga bisa rebah total.

    Bahkan ada fitur: kalau pengemudi pingsan, mobil bisa menepi sendiri.

    “Mobil bisa mendeteksi kondisi darurat dan menghubungi bantuan,” kata CEO-nya, He Xiaopeng. Itu bukan lagi fitur. Itu sudah kecerdasan.

    BYD lain lagi.

    Baterai “blade”-nya bisa diisi hampir penuh dalam 9 menit. Bahkan diuji di suhu minus 30 derajat. Saat bodi mobil sudah dilapisi es.

    CATL lebih ekstrem. Ngecas dari 10% ke 98% hanya 6,5 menit.

    Kecepatan inovasi ini yang membuat analis mulai bicara keras.

    Tu Le dari Sino Auto Insights bilang: “China sekarang menentukan kecepatan industri.”

    Chris Liu dari Omdia menambahkan: “China jadi pasar tercepat dalam mengadopsi teknologi kendaraan.”

    Lalu datang Chery.

    Tidak terlalu berisik. Tapi datanya keras.

    Ekspor mereka 1,344 juta unit di 2025. Naik dari 1,145 juta di 2024.

    943 ribu di 2023.

    466 ribu di 2022.

    269 ribu di 2021.

    114 ribu di 2020.

    Dalam 5 tahun: naik lebih dari 10 kali lipat! Ini bukan pertumbuhan. Ini lompatan.

    Masuk 2026, lebih gila lagi.

    Januari: 120 ribu unit. Naik 48%.

    Februari: 125 ribu unit. Naik 42%.

    Maret: 149 ribu unit. Naik 72%.

    Ini bukan tren kenaikan biasa. Ini hyper growth.

    “Chery tidak lagi sekadar pemain China. Kami sudah menjadi pemain global,” tegas pendiri Chery, Yin Tongyao, di Beijing Auto Show 2026.

    Kalimat itu tidak berlebihan.

    Chery sekarang ada di 130+ negara. Punya lebih dari 5.800 jaringan global.

    Pengguna global 6,35 juta. Ini bukan ekspor. Ini ekosistem.

    Yang paling penting: struktur pasar berubah.

    2024: kontribusi luar China 27%.

    2025: jadi 52%.

    2026 (Q1): naik lagi jadi 57%.

    Mayoritas penjualan sudah di luar China. Ke mana saja? Eropa. Asia Tenggara. Amerika Latin. Termasuk Indonesia.

    Ranking mereka juga melonjak.

    Pasar Right Hand Drive (setir kanan): dari posisi 25 ke posisi 3.

    Pasar Left Hand Drive (setir kiri): dari 6 ke 3.

    Eropa: dari 32 ke 24.

    Lonjakan seperti ini jarang terjadi di industri otomotif global.

    Lalu soal teknologi. Chery tidak memilih satu jalur. Mereka ambil semua.

    NEV (kendaraan elektrifikasi) naik dari 50 ribu ke 306 ribu unit di 2025. Naik 512%.

    Komposisi 2026:

    ICE masih 25%.

    PHEV 31%.

    BEV/EREV 23%.

    HEV 21%.

    Total elektrifikasi: 75%.

    Dunia masih debat: EV atau hybrid. Chery tidak ikut debat. Mereka ambil semuanya.

    Pedro Pacheco dari Gartner bilang: “Mereka sadar tidak cukup hanya di China. Harus punya roadmap global.”

    Itu yang dilakukan Chery. Strateginya jelas. Global-first.

    Multi-brand: Chery, Omoda, Jaecoo, Exeed, iCar, Jetour.

    Adaptasi lokal: RHD untuk ASEAN, standar Eropa untuk EU.

    Teknologi fleksibel: tidak memaksa EV.

    Jaringan global masif: 5.800 dealer.

    Kenapa bisa cepat? Karena mereka tidak menunggu.

    Toyota butuh puluhan tahun. Volkswagen juga.

    Chery lompat. Di dalam negeri China, situasinya justru berat.

    Penjualan mobil turun 23% di kuartal pertama. Sekitar 4 juta unit.

    Harga mobil turun 20% dalam dua tahun. Subsidi mulai dikurangi.

    Tapi ekspor? Naik 63%. Hampir 2 juta unit hanya dalam satu kuartal.

    Total ekspor mobil China tahun lalu 5,8 juta unit.

    Naik hampir 20%.

    Tahun ini diproyeksi 7,4 juta unit. Produksi luar negeri juga naik.

    Dari 1,2 juta unit jadi 3,4 juta unit di 2030. Hampir tiga kali lipat.

    Implikasinya ke Indonesia jelas. Indonesia pasar RHD. Infrastruktur EV belum matang. Konsumen sensitif harga.

    Di sinilah strategi Chery cocok.

    PHEV.

    EREV.

    Hybrid.

    Tidak memaksa listrik penuh. Mereka masuk di celah. Antara mobil lama dan masa depan.

    Kesimpulannya sederhana. Chery tidak sekadar tumbuh. Mereka mengubah peta.

    Dulu ikut aturan. Sekarang membuat aturan.

    Ini bukan lagi sekadar cerita pabrikan mobil China yang ekspor mobil ke negara lain.

    Tapi, bagaimana China mengekspor teknologi mereka dan perlahan mulai menguasai pasar dunia. (*)

  • Bukan Jualan Murah: Begini Cara Honda Sindir Mobil Listrik Tiongkok Lewat Super One

    Bukan Jualan Murah: Begini Cara Honda Sindir Mobil Listrik Tiongkok Lewat Super One

    Orang selalu mengeluh: mobil listrik itu membosankan. Tidak punya jiwa.

    Bayangkan ini. Anda melaju kencang. Tapi kabinnya senyap.

    Tidak ada sentakan kasar saat Anda menurunkan gigi (downshift) sebelum masuk tikungan. Tidak ada raungan mesin saat pedal gas diinjak usai melewati apex.

    Semuanya terasa datar. Dingin. Tanpa emosi. Kencang, tapi hampa.

    Honda Jepang tahu betul penyakit ini. Mereka tidak mau latah. Tidak mau ikut-ikutan tren pabrikan Tiongkok seperti BYD, Geely, atau Aion.

    Yang berlomba-lomba membuat SUV listrik berbadan besar, kaya fitur, tapi rasanya generik.

    Jepang punya cara sendiri mengadopsi elektrifikasi. Mereka masuk lewat compact EV. Mobil listrik ringkas. Ini adalah evolusi dari Kei Car yang lincah di jalanan sempit.

    Nissan sudah menyiapkan Sakura. BYD pun bersiap merilis Rocco. Lalu Honda? Mereka meracik senjata rahasianya: Honda Super One.

    Saya sudah mencicipinya langsung. Di Jepang. Akhir 2025 lalu.

    Di sana, Super One sudah bisa dipesan secara pre-order sejak 16 April 2026. Kabar baiknya: Honda Prospect Motor (HPM) akan membawa mobil ini ke Indonesia.

    Tapi ingat. Ini bukan mobil untuk mengejar volume penjualan (volume maker). Ini bukan lawan sepadan untuk menyaingi BYD Atto 1 atau Geely EX2.

    Posisinya sangat jelas. Ini adalah “toy car”. Mobil mainan. Mainan untuk orang dewasa yang mencari kegembiraan dalam mengemudi. Honda menyebutnya: “joy of driving”.

    Bagaimana cara Honda menyuntikkan jiwa ke dalam baterai yang bisu itu? Solusinya bernama e: Dash Booster. Fitur ini terbagi dalam tiga sensasi utama.

    Pertama, Boost Mode. Ini mirip N Grin Boost di Ioniq 5N. Atau seperti tombol turbo saat Anda bermain game Mario Kart.

    Ketika tombol ini diaktifkan, tenaga listrik yang tadinya dibatasi di 47 kW langsung melonjak ke 70 kW. Akselerasinya seketika terasa buas. Tombol ini dijamin membuat Anda tersenyum bahkan tertawa di balik kemudi.

    Kedua, Active Sound Control. Melaju kencang saja tidak cukup. Otak manusia butuh respons suara (auditory feedback). Maka, insinyur Honda merekayasa mesin virtual di dalam kabin.

    Begitu pedal gas ditekan dalam, suara mesin ikut melengking kencang. Adrenalin langsung terpacu. Anda merasa terhubung kembali dengan mesin. Padahal, mobil ini tidak punya knalpot sama sekali.

    Ketiga, Virtual Multi Gear Shift. Ini yang luar biasa. Super One punya transmisi virtual 7 percepatan.

    Saat Anda mengerem keras masuk tikungan (hard braking) dan menurunkan gigi lewat tuas di setir (paddle shift), mobil ini memberi sentakan perpindahan gigi. Sangat nyata.

    Setelah melewati titik puncak tikungan, Anda menginjak gas, mengoper gigi, dan kembali menikmati raungan mesin virtualnya.

    Rasanya? Seperti bermain Gran Turismo atau Assetto Corsa di dunia nyata. Perjalanan rumah-kantor tidak lagi ngantuk dan membosankan. Tapi riang gembira.

    Bodinya lincah. Sangat presisi. Ini karena sasisnya ringan. Beratnya hanya 1.090 kg. Sangat enteng untuk ukuran mobil listrik. Penempatan baterai yang tipis di bawah lantai juga membuat pusat gravitasinya sangat rendah.

    Jangkauannya pun tidak buruk. Mencapai 274 kilometer dalam mode pengujian WLTC. Cukup untuk wara-wiri harian. Meski memang, angka ini lebih kecil dari BYD Atto 1 standar yang bisa menempuh 300 km.

    Tentu saja. Kalau Super One disuruh berjejer menantang mobil-mobil Tiongkok seperti Jaecoo J5 atau Aion UT, ia akan kalah telak. Kalah murah. Kalah lega. Kalah teknologi layar sentuh. Kalah jauh soal kapasitas baterai.

    Tapi pembeli Super One bukan tipe orang yang menghitung selisih kapasitas bagasi.

    Mereka adalah orang yang ingin mobil ganteng. Bersiluet lebar (wide stance).

    Mobil yang sedap dibawa ke acara kumpul mobil (car meet).

    Gatal ingin memodifikasinya, dan bangga saat memacunya.

    Warnanya pun dipikirkan secara emosional. Ada warna khusus Boost Violet Pearl. Ungu pekat yang terinspirasi kilatan petir di atmosfer atas.

    Audionya? Jangan ditanya. Dilengkapi 8 pengeras suara BOSE Premium. Lengkap dengan subwoofer 13,1 liter di bagasi belakang.

    Lalu berapa harganya? Belum tahu.

    Tapi yang pasti, mobil ini tidak akan murah.

    Unitnya mungkin akan sangat terbatas. Sama seperti 100 unit Honda Prelude 2026 yang ludes dalam 3 hari.

    Super One memang diciptakan bukan untuk mengejar angka penjualan.

    Ia lahir untuk membuktikan satu hal: mobil listrik bisa sekeren dan seasyik ini. (*)

  • Raja Hybrid Jepang Itu Goyah: Toyota Indonesia Gandeng Pabrik Baterai China CATL Demi Bertahan

    Raja Hybrid Jepang Itu Goyah: Toyota Indonesia Gandeng Pabrik Baterai China CATL Demi Bertahan

    Toyota Indonesia mulai gelisah. Bukan karena kalah. Tapi karena mulai dikejar.

    Selama ini raja hybrid. Tahun 2025 masih dominan. Tapi arah pasar berubah. Mobil listrik melesat. Hybrid melambat.

    Penjualan mobil listrik 2025: 103.931 unit. Naik 141 persen dari 43.188 unit di 2024. Kontribusi: 12,9 persen pasar nasional.

    Mobil Hybrid? 65.943 unit di 2025.

    Naik hanya sekitar 10 persen dari 59.903 unit. Selisih pertumbuhan terlalu jauh.

    Masuk 2026, tren itu belum berubah.

    Januari–Maret (Q1) 2026:

    BEV terjual 33.150 unit.

    HEV hanya 16.940 unit.

    Hampir dua kali lipat. Padahal Toyota masih kuat.

    Total penjualan hybrid Toyota 2025: 30.110 unit. Terbesar di Indonesia.

    Model andalan:

    Innova Zenix 23.934 unit.

    Yaris Cross 3.380 unit.

    Di bawahnya ada Suzuki 23.206 unit. Honda 6.934 unit.

    Tapi masalahnya bukan di hari ini. Masalahnya di masa depan. Hybrid kalah cepat dari listrik. Toyota tahu itu.

    Maka langkah besar diambil. Menggandeng CATL. Produsen baterai nomor 1 dunia. Pabriknya di Karawang. Mulai produksi semester II 2026. Nilai investasinya: Rp1,3 triliun.

    Fokusnya jelas. Bukan lagi sekadar merakit baterai. Tapi produksi dari hulu.

    Sel baterai.

    Modul.

    Sampai battery pack.

    Selama ini bagian penting itu impor. Ke depan dibuat di Indonesia.

    “Semester kedua tahun ini,” kata Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto.

    Tujuannya bukan kecil. Meningkatkan TKDN. Mengurangi impor. Menguatkan rantai pasok. Sekaligus menyiapkan ekspor.

    Toyota sudah lama di Indonesia. 55 tahun.

    Total investasi: Rp100 triliun.

    Tenaga kerja terlibat: lebih dari 360.000 orang.

    Produksi kumulatif:

    10 juta unit Toyota.

    14 juta unit Toyota Group.

    Hybrid juga sudah diproduksi lokal.

    Total produksi 2025: 97.462 unit.

    Naik sekitar 30 persen.

    Artinya kapasitas ada. Tapi baterai masih lemah. Di sinilah CATL masuk.

    Perusahaan ini bukan pemain biasa. Market share global: 39,2 persen. Nomor 1 selama 9 tahun.

    Pendapatan 2025: 423,7 miliar yuan= Rp990 triliun.

    Laba bersih: 72,2 miliar yuan= Rp168 triliun.

    Penjualan baterai: 661 GWh.

    Utilisasi pabrik: 96,9 persen.

    Toyota butuh itu. Teknologi. Skala. Efisiensi.

    Kenapa harus CATL? Karena perang ada di baterai. Bukan lagi mesin. Strategi Toyota tetap “multipathway”. Hybrid. Plug-in hybrid. EV. Fuel cell. Biofuel.

    Tapi pasar mulai memilih. Dan pilihan itu condong ke listrik. Ini fakta pahitnya.

    Hybrid masih besar. Tapi tidak lagi paling cepat. Toyota tidak bisa hanya bertahan. Harus beradaptasi. Kolaborasi ini jawabannya.

    “Komponen sel baterai yang diimpor akan diproduksi di Indonesia,” kata Nandi.

    “Ini memperkuat rantai pasok,” tambah Bob Azam, Wadirut TMMIN.

    Artinya jelas. Toyota tidak mau kalah. Bukan hanya di produk. Tapi di ekosistem.

    Pertanyaan berikutnya: Apakah hybrid masih relevan? Atau hanya jembatan?

    Toyota sepertinya sudah tahu jawabannya. Tapi belum mau meninggalkannya. (*)

  • Siapa CEO Baru Apple John Ternus?

    Siapa CEO Baru Apple John Ternus?

    Apple ganti nahkoda. Bukan kejutan. Tapi tetap mengguncang.

    John Ternus. Nama itu sekarang di puncak. Mulai 1 September 2026. Ia jadi CEO Apple. Menggantikan Tim Cook. Yang sudah 15 tahun memimpin.

    Cook tidak pergi jauh. Ia jadi executive chairman. Masih mengawal. Tapi bukan lagi pengambil keputusan utama.

    Siapa Ternus?

    Bukan orang baru. Sudah 25 tahun di Apple. Masuk 2001. Dari tim desain produk. Naik perlahan.

    Jadi VP hardware 2013. Masuk jajaran eksekutif 2021.

    Sekarang: kepala hardware engineering.

    Artinya jelas.

    Ia pegang jantung Apple.

    iPhone.

    iPad.

    Mac.

    AirPods.

    Apple Watch.

    Semua pernah disentuhnya.

    Termasuk transisi besar Mac ke chip buatan sendiri.

    Ia juga pernah bekerja langsung dengan Steve Jobs. Dan dibimbing Tim Cook.

    “Mereka mentor saya,” kata Ternus.

    Cook menyebutnya “visionary”. Insinyur yang bisa memimpin.

    Tapi jabatan ini bukan hadiah. Ini ujian.

    Apple sekarang bernilai sekitar USD 4 triliun. Setara Rp68.000 triliun.

    Perusahaan publik terbesar di dunia.

    Cook berhasil membesarkan Apple.

    Pendapatan naik empat kali lipat. Ekosistem makin kuat.

    Tapi ada kritik. Apple dinilai kurang inovatif.

    Tidak ada “iPhone baru”.

    Produk besar terakhir? Vision Pro. Itu pun belum laku keras.

    Di sinilah beban Ternus.

    Pertama: AI.

    Apple tertinggal.

    Google, Microsoft, Meta sudah habis-habisan. Investasi ratusan miliar dolar.

    Apple baru integrasi ChatGPT.

    Kerja sama AI dengan Google bernilai USD 1 miliar per tahun. Sekitar Rp17 triliun.

    Belum cukup. Ternus harus membuat Apple relevan di AI. Bukan sekadar ikut.

    Kedua: hidup setelah iPhone. Apple masih bergantung pada iPhone.

    Ini masalah. Pasar mulai jenuh.

    OpenAI bahkan sudah beli startup hardware Jony Ive (mantan desainer Apple) senilai USD 6,5 miliar (Rp110,5 triliun).

    Mereka siap bikin pesaing iPhone. Ternus harus cari “produk berikutnya”. Bukan sekadar upgrade.

    Ketiga: arah produk.

    Selama ini Apple kuat di penyempurnaan. Bukan eksplorasi. “Apple terlalu incremental (pelan-pelan),” kata analis.

    Ternus harus berani ambil risiko.

    Mungkin foldable.

    Mungkin kacamata pintar.

    Atau sesuatu yang belum ada.

    Keempat: organisasi.

    Apple punya lebih dari 160.000 karyawan global. Sekitar 80.000 di AS.

    Era AI bisa mengubah itu. Efisiensi akan datang.

    Keputusan tidak populer menanti (PHK masal).

    Kelima: bisnis konten.

    Apple sudah habiskan USD 25–30 miliar (Rp425–510 triliun) untuk Apple TV+.

    Hasilnya belum maksimal. Ternus harus memilih.

    Gas terus.

    Atau berhenti.

    Keenam: politik.

    Cook dikenal lihai menghadapi Donald Trump. Ternus harus belajar cepat. Relasi ini penting.

    Ketujuh: investor.

    Berkshire Hathaway pegang 228 juta saham Apple. Nilainya sekitar USD 62 miliar (Rp1.054 triliun).

    Pemilik barunya: Greg Abel. Ternus harus menjaga kepercayaan.

    Pasar melihat ini sebagai momen perubahan.

    Apple ingin kembali ke DNA awal. Inovasi. Bukan hanya stabilitas.

    Pemimpin baru dari hardware bukan kebetulan. Ini sinyal.

    Apple ingin kembali membuat “sesuatu yang baru”.

    Bukan hanya memperbaiki yang lama.

    Pertanyaannya tinggal satu.

    Apakah Ternus akan seperti Jobs?

    Atau tetap seperti Cook?

    Atau… kombinasi keduanya?

    Pasar menunggu.

    Tidak lama. (*)

  • Akhir Era Tim Cook: Mengenang CEO yang Tak Pernah Jadi Steve Jobs, Namun Membuat Investor Kaya Raya

    Akhir Era Tim Cook: Mengenang CEO yang Tak Pernah Jadi Steve Jobs, Namun Membuat Investor Kaya Raya

    Orang selalu membandingkan Tim Cook dengan mendiang Steve Jobs. Itu wajar. Pekerjaan paling berat di dunia adalah menggantikan seorang legenda.

    Banyak yang mencibir. Di bawah Tim Cook, produk-produk Apple dianggap kurang greget. Inovasinya terasa datar. Tidak ada lagi panggung peluncuran yang membuat dunia menahan napas.

    Seperti saat Jobs pertama kali mengeluarkan iPhone dari saku celananya atau MacBook Air dari sebuah amplop cokelat.

    Senin kemarin (21/4/2026), Cook resmi mengumumkan akan mundur dari kursi CEO Apple. Tidak sekarang. Masih September 2026 nanti.

    Ia menyerahkan tongkat estafet kepada John Ternus.

    Saat ia mulai menjabat CEO di tahun 2011, valuasi Apple “hanya” USD350 miliar. Kini, saat ia bersiap pamit, nilai perusahaan itu melonjak tak masuk akal: menembus USD4 triliun! Atau sekitar Rp68.000 triliun. Melonjak lebih dari 1.000 persen!

    Sebagai perbandingan, APBN Indonesia pada 2026 adalah Rp3.842,7 triliun.

    Pendapatan tahunan Apple juga berlipat ganda, dari USD108 miliar menjadi USD416 miliar (Rp7.072 triliun) di 2025.

    Cook memang bukan inovator nyentrik seperti Jobs. Bukan pula pencipta komputer. Ia adalah seorang maestro operasional. Ahli manajemen rantai pasok (supply chain).

    Kunci suksesnya bukan pada ledakan ide-ide liar. Tapi, di eksekusi yang presisi.

    Pertama, ia tahu cara memeras keuntungan dari apa yang sudah ada. Cook tidak merombak total iPhone, hanya memoles dan membesarkannya.

    Di tangannya, pendapatan dari jualan iPhone saja meroket dari USD47,1 miliar menjadi USD209,6 miliar.

    Kedua, ia menjadikan China sebagai produksi utama Apple. Memusatkan perakitan di Foxconn dan pemasok Tiongkok lainnya. Ini menekan biaya dan mendongkrak efisiensi.

    Ketiga, ia sadar jualan perangkat keras ada batasnya. Maka, ia ciptakan ekosistem “uang sewa”. Cook genjot layanan Services (App Store, iCloud, Apple Music, Apple Pay).

    Hasilnya ngeri: lini bisnis ini menyumbang lebih dari USD100 miliar setahun. Angka yang cukup untuk masuk daftar 40 perusahaan terbesar sejagat.

    Keempat, ia menciptakan kategori produk baru yang fungsional dan bikin candu: wearables. Lahirlah Apple Watch dan AirPods. Kini keduanya jadi jam tangan dan earphone nirkabel paling laris di dunia.

    Kelima, keputusan paling vital: transisi cip. Cook berani menceraikan prosesor Intel dari lini komputer Mac dan menggantinya dengan cip buatan sendiri (Apple Silicon).

    Ini membuat performa dan ketahanan baterai Macbook langsung melibas semua pesaingnya.

    Tentu, Cook juga pernah gagal. Ia pernah minta maaf karena Apple Maps yang berantakan.

    Kemudian, proyek mobil listrik otonomnya yang menelan miliaran dolar terpaksa dibuang ke tong sampah tahun lalu.

    Lalu, kacamata pintar Vision Pro seharga USD3.500 (Rp 59,5 juta) juga sepi peminat.

    Belakangan, Apple juga tampak gagap menghadapi laju kecerdasan buatan (AI) hingga terpaksa menggandeng Google untuk memperbaiki Siri.

    Namun, kegagalan-kegagalan itu termaafkan oleh angka keuntungan yang ia berikan pada pemegang saham. Saham Apple naik 1.886% selama ia memimpin. Jauh mengalahkan indeks S&P 500.

    September nanti, John Ternus yang memiliki latar belakang rekayasa perangkat keras (hardware engineering) akan mengambil alih kemudi. Bebannya sangat berat: ia harus membuktikan Apple bisa menang di era AI.

    Sementara Tim Cook? Ia akan naik pangkat menjadi Ketua Eksekutif (Executive Chairman). Duduk manis melihat kerajaannya beroperasi.

    Tim Cook memang bukan Steve Jobs. Ia tidak menciptakan sejarah dengan ide gila. Tapi ia membuat sejarah dengan tumpukan uang yang membuat para investornya kaya raya tiada tara. (*)

  • Dibalik Kalimat Jujur Bos Honda: “Kita Nggak Punya Kesempatan Menang Melawan China!”

    Dibalik Kalimat Jujur Bos Honda: “Kita Nggak Punya Kesempatan Menang Melawan China!”

    Toshihiro Mibe terbang ke Shanghai akhir Februari 2026 lalu. Posisinya: Presiden dan CEO Honda Motor.

    Di sana ia masuk ke sebuah pabrik suku cadang otomotif. Pabrik itu juga memasok komponen untuk Tesla. Mibe berkeliling.

    Memperhatikan dengan saksama. Lalu ia terdiam.

    Tidak ada satu pun manusia di lantai produksi itu. Semua dikerjakan robot. Otomatisasi total. Dari pengadaan bahan hingga logistik.

    “Kita tidak punya kesempatan melawan ini,” gumam Mibe sekembalinya dari Shanghai, seperti dilaporkan Nikkei Asia.

    Itu bukan kalimat basa-basi. Itu seolah jadi ratapan keputusasaan dari bos raksasa otomotif Jepang yang punya sejarah 70 tahun.

    Pulang ke Jepang, ia langsung mengumpulkan para penyuplai suku cadangnya. “Kita harus bertindak cepat,” perintahnya. Digitalisasi harus segera dikebut.

    Apa yang membuat Mibe begitu ngeri? “Kecepatan China” (China Speed).

    Merek-merek China bisa merancang, menguji, dan memproduksi model mobil baru dari nol hingga siap jual hanya dalam waktu 18 sampai 24 bulan. Sesuatu yang gila. Pabrikan Jepang, Amerika, atau Eropa butuh waktu dua kali lipat lebih lama. Empat sampai lima tahun.

    Akibatnya sudah terasa di kantong Honda. Jualan mereka di China—yang dulunya tambang emas—hancur lebur.

    Tahun 2020, Honda masih bisa jualan 1,62 juta mobil di sana.

    Tahun lalu (2025), angkanya nyungsep jadi 640.000 unit saja.

    Turun lima tahun berturut-turut. Tahun 2026 ini, mereka diprediksi hanya akan bikin kurang dari 600.000 mobil.

    Padahal kapasitas pabrik Honda di China itu sanggup bikin 1,2 juta mobil setahun. Artinya, tingkat utilitas pabrik mereka sekarang cuma sekitar 50 persen. Padahal, pabrik otomotif minimal harus jalan 70 sampai 80 persen hanya untuk bisa balik modal. Sisanya? Rugi.

    Buntutnya fatal. Honda membatalkan dua proyek mobil listrik murninya (0 SUV dan 0 Sedan), menyetop proyek kebangkitan Acura RSX, dan mengubur mimpi memproduksi Afeela—mobil hasil patungan dengan Sony.

    Akibatnya, Honda harus menanggung kerugian hingga Rp268,6 triliun (USD 15,8 miliar).

    Saya dan CEO Honda Toshihiro Mibe di pameran Japan Mobility Show 2025.

    Tapi, jangan kira cuma Honda yang merinding. Ketakutan yang sama juga menjalar ke petinggi otomotif dunia lainnya.

    Mantan CEO Toyota, Koji Sato, juga mengumpulkan 484 perusahaan penyuplainya. Nada bicaranya sama persis dengan Mibe: “Kalau kita tidak berubah, kita tidak akan bertahan. Saya ingin semua orang mengakui rasa krisis ini.”

    Itu Toyota. Pembuat mobil terbesar di dunia enam tahun berturut-turut.

    Di Amerika Serikat, nada sumbang juga terdengar dari Bos Ford, Jim Farley. “Mereka (China) punya kapasitas produksi yang cukup untuk melayani seluruh pasar Amerika Utara, dan membuat kita semua gulung tikar,” kata Farley kepada CBS.

    China kini menguasai 70 persen produksi mobil listrik global. BYD sudah melampaui Tesla. Di Eropa, BYD dan SAIC pelan-pelan mulai menggerogoti pangsa pasar merek Jepang.

    Lalu apa yang dilakukan Honda sekarang?

    Mibe mengambil keputusan putar balik. Mulai 1 April 2026, ia memindahkan ribuan insinyur ke anak perusahaan baru yang berdiri sendiri. Intinya: divisi Riset dan Pengembangan (R&D) Honda yang dulu sempat dilebur, kini dipisahkan lagi.

    Diberi kebebasan. Mirip cara pendirinya, Soichiro Honda, di tahun 1960-an. Saat itu R&D diberi keleluasaan penuh melahirkan mesin CVCC (Compound Vortex Controlled Combustion) yang legendaris.

    Di dunia yang makin beringas ini, menyerah memang bukan pilihan. Tapi berlomba melawan robot-robot yang tak kenal lelah di Shanghai, jelas butuh lebih dari sekadar mengembalikan para insinyur ke lab mereka. (*)