Kategori: teknologi

  • Nvidia RTX Spark: Komputer Tidak Akan Sama Lagi

    Nvidia RTX Spark: Komputer Tidak Akan Sama Lagi

    Dunia komputer sebenarnya sudah lama terbelah dua. Yang satu bernama x86. Yang satu lagi ARM. Selama puluhan tahun batasnya sangat jelas.

    Kalau bicara laptop dan PC? Rajanya Intel dan AMD.

    Kalau bicara smartphone? Rajanya ARM (Advanced RISC Machine).

    Tidak pernah saling ganggu. Tidak pernah saling rebut wilayah. Sampai akhirnya Apple membuat kekacauan.

    Bayangkan begini: Ada dua koki. Koki pertama bekerja di restoran Padang. Koki kedua bekerja di restoran fast food.

    Koki restoran Padang itu x86. Intel dan AMD. Ia kuat. Bisa mengangkat banyak pekerjaan sekaligus. Pesanan rumit datang. Langsung dihajar sekaligus. Cepat selesai.

    Tapi ada harga yang harus dibayar. Ia cepat lelah. Cepat panas. Butuh pendingin. Butuh energi besar. Butuh listrik banyak.

    ARM berbeda. Ia seperti koki restoran cepat saji. Tugasnya dibuat sederhana. Tidak mengangkat beban besar sekaligus.

    Tapi kerjanya sangat efisien. Sangat hemat tenaga. Sangat hemat listrik. Karena itulah smartphone bisa hidup seharian. Tidak ada kipas. Tidak berisik. Tidak panas seperti laptop gaming.

    Dulu orang menganggap ARM cuma cocok untuk HP. Tidak cocok untuk pekerjaan berat. Tidak cocok untuk komputer serius.

    Lalu Apple datang. Apple membuat chip M1. Kemudian M2. M3. Dan sekarang M4.

    Tiba-tiba dunia kaget. Laptop tanpa kipas. Baterai tahan belasan hingga puluhan jam.

    Tetapi performanya bisa mengalahkan laptop mahal berbasis Intel. Saat itulah industri sadar. ARM bukan lagi pemain kelas dua.

    Kini Nvidia melakukan langkah yang sama. Lewat RTX Spark.

    Bedanya, Nvidia bawa senjata yang tidak dimiliki Apple. AI. Dan GPU. Dalam jumlah besar.

    Apple menjual laptop yang cepat dan hemat.

    Nvidia ingin menjual laptop yang cepat, hemat, sekaligus bisa menjadi “rumah” bagi AI Agent.

    Itulah sebabnya bos Nvidia Jensen Huang menyebut RTX Spark sebagai “reinvention of PC”. Penemuan ulang komputer.

    Bukan karena prosesornya lebih cepat. Tapi karena fungsi komputernya berubah.

    Dulu komputer menunggu manusia bekerja.

    Sekarang komputer mulai bekerja untuk manusia.

    Dulu Anda membuka aplikasi. Besok AI Agent yang membuka aplikasi.

    Dulu Anda mencari data. Besok AI Agent yang mencari data.

    Dulu Anda membuat presentasi. Besok AI Agent yang membantu membuatkannya.

    Itulah mimpi Nvidia. Dan RTX Spark adalah fondasinya.

    Kalau dianalogikan lebih sederhana lagi:

    Intel dan AMD selama ini seperti mesin V8. Tenaganya besar. Suaranya menggelegar. Tapi bensinnya boros.

    ARM seperti mesin hybrid modern. Lebih senyap. Lebih irit. Lebih efisien. Dan sekarang tenaganya mulai menyamai mesin besar tadi.

    Inilah yang membuat Intel dan AMD berkeringat. Karena untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, wilayah kekuasaan mereka mulai dimasuki pendatang baru.

    Bukan dari Qualcomm.

    Bukan dari Apple.

    Tapi dari Nvidia. Perusahaan yang saat ini menjadi raja AI dunia. (*)

  • Siapa CEO Baru Apple John Ternus?

    Siapa CEO Baru Apple John Ternus?

    Apple ganti nahkoda. Bukan kejutan. Tapi tetap mengguncang.

    John Ternus. Nama itu sekarang di puncak. Mulai 1 September 2026. Ia jadi CEO Apple. Menggantikan Tim Cook. Yang sudah 15 tahun memimpin.

    Cook tidak pergi jauh. Ia jadi executive chairman. Masih mengawal. Tapi bukan lagi pengambil keputusan utama.

    Siapa Ternus?

    Bukan orang baru. Sudah 25 tahun di Apple. Masuk 2001. Dari tim desain produk. Naik perlahan.

    Jadi VP hardware 2013. Masuk jajaran eksekutif 2021.

    Sekarang: kepala hardware engineering.

    Artinya jelas.

    Ia pegang jantung Apple.

    iPhone.

    iPad.

    Mac.

    AirPods.

    Apple Watch.

    Semua pernah disentuhnya.

    Termasuk transisi besar Mac ke chip buatan sendiri.

    Ia juga pernah bekerja langsung dengan Steve Jobs. Dan dibimbing Tim Cook.

    “Mereka mentor saya,” kata Ternus.

    Cook menyebutnya “visionary”. Insinyur yang bisa memimpin.

    Tapi jabatan ini bukan hadiah. Ini ujian.

    Apple sekarang bernilai sekitar USD 4 triliun. Setara Rp68.000 triliun.

    Perusahaan publik terbesar di dunia.

    Cook berhasil membesarkan Apple.

    Pendapatan naik empat kali lipat. Ekosistem makin kuat.

    Tapi ada kritik. Apple dinilai kurang inovatif.

    Tidak ada “iPhone baru”.

    Produk besar terakhir? Vision Pro. Itu pun belum laku keras.

    Di sinilah beban Ternus.

    Pertama: AI.

    Apple tertinggal.

    Google, Microsoft, Meta sudah habis-habisan. Investasi ratusan miliar dolar.

    Apple baru integrasi ChatGPT.

    Kerja sama AI dengan Google bernilai USD 1 miliar per tahun. Sekitar Rp17 triliun.

    Belum cukup. Ternus harus membuat Apple relevan di AI. Bukan sekadar ikut.

    Kedua: hidup setelah iPhone. Apple masih bergantung pada iPhone.

    Ini masalah. Pasar mulai jenuh.

    OpenAI bahkan sudah beli startup hardware Jony Ive (mantan desainer Apple) senilai USD 6,5 miliar (Rp110,5 triliun).

    Mereka siap bikin pesaing iPhone. Ternus harus cari “produk berikutnya”. Bukan sekadar upgrade.

    Ketiga: arah produk.

    Selama ini Apple kuat di penyempurnaan. Bukan eksplorasi. “Apple terlalu incremental (pelan-pelan),” kata analis.

    Ternus harus berani ambil risiko.

    Mungkin foldable.

    Mungkin kacamata pintar.

    Atau sesuatu yang belum ada.

    Keempat: organisasi.

    Apple punya lebih dari 160.000 karyawan global. Sekitar 80.000 di AS.

    Era AI bisa mengubah itu. Efisiensi akan datang.

    Keputusan tidak populer menanti (PHK masal).

    Kelima: bisnis konten.

    Apple sudah habiskan USD 25–30 miliar (Rp425–510 triliun) untuk Apple TV+.

    Hasilnya belum maksimal. Ternus harus memilih.

    Gas terus.

    Atau berhenti.

    Keenam: politik.

    Cook dikenal lihai menghadapi Donald Trump. Ternus harus belajar cepat. Relasi ini penting.

    Ketujuh: investor.

    Berkshire Hathaway pegang 228 juta saham Apple. Nilainya sekitar USD 62 miliar (Rp1.054 triliun).

    Pemilik barunya: Greg Abel. Ternus harus menjaga kepercayaan.

    Pasar melihat ini sebagai momen perubahan.

    Apple ingin kembali ke DNA awal. Inovasi. Bukan hanya stabilitas.

    Pemimpin baru dari hardware bukan kebetulan. Ini sinyal.

    Apple ingin kembali membuat “sesuatu yang baru”.

    Bukan hanya memperbaiki yang lama.

    Pertanyaannya tinggal satu.

    Apakah Ternus akan seperti Jobs?

    Atau tetap seperti Cook?

    Atau… kombinasi keduanya?

    Pasar menunggu.

    Tidak lama. (*)

  • Akhir Era Tim Cook: Mengenang CEO yang Tak Pernah Jadi Steve Jobs, Namun Membuat Investor Kaya Raya

    Akhir Era Tim Cook: Mengenang CEO yang Tak Pernah Jadi Steve Jobs, Namun Membuat Investor Kaya Raya

    Orang selalu membandingkan Tim Cook dengan mendiang Steve Jobs. Itu wajar. Pekerjaan paling berat di dunia adalah menggantikan seorang legenda.

    Banyak yang mencibir. Di bawah Tim Cook, produk-produk Apple dianggap kurang greget. Inovasinya terasa datar. Tidak ada lagi panggung peluncuran yang membuat dunia menahan napas.

    Seperti saat Jobs pertama kali mengeluarkan iPhone dari saku celananya atau MacBook Air dari sebuah amplop cokelat.

    Senin kemarin (21/4/2026), Cook resmi mengumumkan akan mundur dari kursi CEO Apple. Tidak sekarang. Masih September 2026 nanti.

    Ia menyerahkan tongkat estafet kepada John Ternus.

    Saat ia mulai menjabat CEO di tahun 2011, valuasi Apple “hanya” USD350 miliar. Kini, saat ia bersiap pamit, nilai perusahaan itu melonjak tak masuk akal: menembus USD4 triliun! Atau sekitar Rp68.000 triliun. Melonjak lebih dari 1.000 persen!

    Sebagai perbandingan, APBN Indonesia pada 2026 adalah Rp3.842,7 triliun.

    Pendapatan tahunan Apple juga berlipat ganda, dari USD108 miliar menjadi USD416 miliar (Rp7.072 triliun) di 2025.

    Cook memang bukan inovator nyentrik seperti Jobs. Bukan pula pencipta komputer. Ia adalah seorang maestro operasional. Ahli manajemen rantai pasok (supply chain).

    Kunci suksesnya bukan pada ledakan ide-ide liar. Tapi, di eksekusi yang presisi.

    Pertama, ia tahu cara memeras keuntungan dari apa yang sudah ada. Cook tidak merombak total iPhone, hanya memoles dan membesarkannya.

    Di tangannya, pendapatan dari jualan iPhone saja meroket dari USD47,1 miliar menjadi USD209,6 miliar.

    Kedua, ia menjadikan China sebagai produksi utama Apple. Memusatkan perakitan di Foxconn dan pemasok Tiongkok lainnya. Ini menekan biaya dan mendongkrak efisiensi.

    Ketiga, ia sadar jualan perangkat keras ada batasnya. Maka, ia ciptakan ekosistem “uang sewa”. Cook genjot layanan Services (App Store, iCloud, Apple Music, Apple Pay).

    Hasilnya ngeri: lini bisnis ini menyumbang lebih dari USD100 miliar setahun. Angka yang cukup untuk masuk daftar 40 perusahaan terbesar sejagat.

    Keempat, ia menciptakan kategori produk baru yang fungsional dan bikin candu: wearables. Lahirlah Apple Watch dan AirPods. Kini keduanya jadi jam tangan dan earphone nirkabel paling laris di dunia.

    Kelima, keputusan paling vital: transisi cip. Cook berani menceraikan prosesor Intel dari lini komputer Mac dan menggantinya dengan cip buatan sendiri (Apple Silicon).

    Ini membuat performa dan ketahanan baterai Macbook langsung melibas semua pesaingnya.

    Tentu, Cook juga pernah gagal. Ia pernah minta maaf karena Apple Maps yang berantakan.

    Kemudian, proyek mobil listrik otonomnya yang menelan miliaran dolar terpaksa dibuang ke tong sampah tahun lalu.

    Lalu, kacamata pintar Vision Pro seharga USD3.500 (Rp 59,5 juta) juga sepi peminat.

    Belakangan, Apple juga tampak gagap menghadapi laju kecerdasan buatan (AI) hingga terpaksa menggandeng Google untuk memperbaiki Siri.

    Namun, kegagalan-kegagalan itu termaafkan oleh angka keuntungan yang ia berikan pada pemegang saham. Saham Apple naik 1.886% selama ia memimpin. Jauh mengalahkan indeks S&P 500.

    September nanti, John Ternus yang memiliki latar belakang rekayasa perangkat keras (hardware engineering) akan mengambil alih kemudi. Bebannya sangat berat: ia harus membuktikan Apple bisa menang di era AI.

    Sementara Tim Cook? Ia akan naik pangkat menjadi Ketua Eksekutif (Executive Chairman). Duduk manis melihat kerajaannya beroperasi.

    Tim Cook memang bukan Steve Jobs. Ia tidak menciptakan sejarah dengan ide gila. Tapi ia membuat sejarah dengan tumpukan uang yang membuat para investornya kaya raya tiada tara. (*)